Sabtu, 18 April 2020

MAKALAH THALASSEMIA

MAKALAH HEMATOLOGI III
“MEMAHAMI DEFINISI THALASSEMIADAN PENEGAKAN DIAGNOSIS BERDASARKAN TES SARING DAN TES DIAGNOSTIK”

Description: Description: C:\Users\asus\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\IMG-20190322-WA0030.jpg

OLEH :
NAMA           : ADHA NIAR
NIM                : 18 3145 353 121
KELAS          : 2018 C


PROGRAM STUDI  DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020

DAFTAR ISI
Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
1.2  Rumusan Masalah
1.3  Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Thalassemia
2.2 Klasifikasi Thalassemia
2.3 Patofisiologi Terjadinya Thalassemia
2.4 Gejala
2.5 Penyebab Thalassemia
2.6 Diagnosis Thalassemia
2.7 Pengobatan dan Pencegahan
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Thalassemia merupakan penyakit kelainan darah yang secara genetik diturunkan. Thalassemia menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di dunia khususnya di negara-negara Mediterania, Malaysia, Thailand, dan Indonesia (Wahidiyat, 2007). Kurang lebih 3% dari jumlah penduduk dunia mempunyai gen thalassemia dimana angka kejadian tertinggi sampai dengan 40% kasus adalah di Asia. Di Indonesia thalassemia merupakan penyakit terbanyak diantara golongan anemia hemolitik dengan penyebab intra korpuskuler. Thalassemia sebagai penyakit genetik yang diderita seumur hidup akan membawa banyak masalah bagi penderitanya. Mulai dari kelainan darah berupa anemia kronik akibat proses hemolysis sampai kelainan berbagai organ tubuh baik sebagai akibat penyakitnya sendiri ataupun akibat pengobatan yang diberikan. Anemia kronik yang dialami oleh anak dengan thalassemia membutuhkan transfusi darah yang berulang-ulang. Pemberian transfusi yang terus menerus ini dapat menimbulkan komplikasi hemosiderosis dan hemokromatosis, yaitu menimbulkan penimbunan zat besi dalam jaringan tubuh sehingga dapat mengakibatkan kerusakan organ-organ tubuh seperti hati, limpa, ginjal, jantung, tulang dan pankreas (Munthe, 2011). Selain itu, kondisi anemia membuat anak menjadi lemah dan terjadi penurunan nafsu makan. Berdasarkan penelitian Tienboon (2006) menemukan anak dengan thalassemia rata-rata mengalami penurunan asupan makanan dari yang direkomendasikan.
Lebih jauh, anak dengan thalassemia mengalami peningkatan energy expenditure dan penurunan beberapa vitamin dan mineral seperti vitamin A, vitamin B, asam folat, vitamin B12 dan zinc (Tienboon, 2006; Claster, 2009). Hal ini membuat anak dengan thalassemia berisiko terjadi kekurangan nutrisi atau malnutrisi. Banyaknya masalah kesehatan yang dialami anak dengan thalassemia dapat menimbulkan gangguan sosial dan emosional. Secara umum anak dengan thalassemia akan memperlihatkan gejala depresi, cemas, gangguan psikososial dan gangguan fungsi sekolah. Hal ini karena penyakit thalassemia membutuhkan perawatan yang lama dan sering di rumah sakit. Tindakan pengobatan yang diberikan juga dapat menimbulkan rasa sakit serta pikiran anak tentang masa depan yang tidak jelas. Semua kondisi ini memiliki implikasi serius bagi kesehatannya sehubungan dengan kualitas hidupnya. Penelitian yang dilakukan oleh Pakbaz dkk (2005) dengan Dartmouth Primary Care Cooperative Information Chart System Questionaire, menemukan bahwa pasien thalassemia beta mayor tidak tergantung transfusi menderita perburukan pada kualitas hidupnya.
1.2 Rumusan Masalah
      1. Apa yang dimaksud dengan Thalasemia?
      2. Bagaimana cara mengetahui klasifikasi, patofisiologi, gejala dan pengobatan Thalassemia
1.3 Tujuan
      1.    Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Thalassemia
      2. Untuk mengetahui klasifikasi, patofisiologi, gejala dan pengobatan Thalassemia
           












BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Thalasemia
Thalassemia adalah suatu gangguan darah yang diturunkan ditandai oleh defisiensi produk rantai globulin pada hemoglobin. Secara molekuler thalassemia dibedakan atas thalassemia alpha dan beta, sedangkan secara klinis dibedakan atas thalassemia mayor dan minor. Menurut Nelson (2000) thalassemia adalah sekelompok heterogen anemia hipokromik penyakit herediter dengan berbagai keparahan. Thalassemia merupakan penyakit kongenetal herediter yang diturunkan secara autosomal berdasarkan kelainan hemoglobin. Dimana satu atau rantai Hb kurang atau tidak terbentuk secara sempurna sehingga terjadi anemia hemolitik. Kelainan hemolitik ini mengakibatkan kerusakan pada sel darah merah didalam pembuluh darah sehingga umur eritrosit menjadi pendek.
Thalassemia merupakan sindrom kelainan yang diwariskan (in herited) dan masuk kedalam kelompok hemoglobin non pati, yakni kelainan yang disebabkan oleh gangguan system hemoglobin akibat mutasi didalam atau didekat gen globin. Mutasi gen globin ini dapat menimbulkan dua perubahan rantai globin, yakni perubahan struktur rangkaian asam amino acid sequence rantai globin tertentu, disebut hemoglobinopati structural, perubahan kecepatan sintetis atau kemampuan produksi rantai globin tertentu disebut thalassemia.
Thalassemia adalah penyakit yang diturunkan kepada anaknya. Anak yang mewarisi gen thalassemia dari satu orangtua dan gen normal dari orangtua yang lain adalah seorang pembawa –(carriers). Anak yang mewarisi gen thalassemia dari kedua orangtuanya akan menderita thalassemia sedang sampai berat.
2.2 Klasifikasi
          Thalassemia dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis hemoglobin yang mengalami gangguan menjadi thalassemia alfa dan beta. Sedangkan berdasarkan jumlah gen yang mengalami gangguan, Hockenberry & Wilson (2009) mengklasifikasikan thalassemia menjadi :
a.       Thalassemia minor (Trait)
Thalassemia minor merupakan keadaan yang terjadi pada seseorang yang sehat namun orang tersebut dapat mewariskan gen thalassemia pada anak-anaknya. Thalassemia trait sudah ada sejak lahir dan tetap aka nada sepanjang hidup penderita. Penderita tidak memerlukan transfuse darah dalam hidupnya.
b.      Thalassemia Intermedia
Thalassemia intermedia merupakan kondisi antara thalassemia mayor dan minor. Penderita thalassemia ini mungkin memerlukan transfuse darah secara berkala, dan penderita jenis ini dapat bertahan hidup sampai dewasa.
c.       Thalassemia Mayor
Thalassemia jenis ini sering disebut Cooly Anemia dan terjadi apabila kedua orangtua mempunyai sifat pembawa thalassemia (Carrier). Anak-anak dengan thalassemia mayor tampak normal saat lahir, tetapi akan menderita kekurangan darah pada usia 3-18 bulan. Penderita thalassemia mayor akan memerlukan transfuse darah secara berkala seumur hidupnya dan dapat meningkatkan usia hidup hingga 10-12 tahun. Namun apabila penderita tidak dirawat penderita thalassemia ini hanya bertahan hidup sampai 5-6 tahun. Thalassemia mayor biasanya menjadi bergejala sebagai anemia hemolitik kronis yang progresif selama 6 bulan kehidupan. Transfusi darah reguler diperlukan pada penderita ini untuk mencegah kelemahan yang amat dan gagal jantung yang disebabkan oleh anemia.
2.3 Patofisiologi Terjadinya Thalassemia
Mengenai dasar kelainan pada thalasemia berlaku secara umum yaitu kelainan thalasemia alfa disebabkan oleh delesi gen (terhapus karenakecelakaan gen) yang mengatur produksi tetramer globin, sedangkan pada thalasemia beta karena adanya mutasi gen tersebut.
Pada thalasemia beta produksi rantai beta terganggu, mengakibatkan kadar Hb menurun sedangkan produksi HbA2 dan atau HbF tidak terganggun karena tidak memerlukan rantai beta justru memproduksi lebih banyak dari pada keadaan normal sebagai usaha kompensasi. Kelebihan rantai globin yang tidak terpakai karena tidak ada pasangannya akan mengendap pada dinding eritrosit dan menyebabkan eritropoesis tidak efektif dan eritrosit memberi gambaran anemia hipokrom dan mikrositer.
Eritropoesis dalam sumsum tulang sangat gesit, dapat mencapai 5 kali lipat dari nilai normal. Destruksi eritrosit dan prekursornya dalam sumsum tulang adalah luas dan masa hidup eritrosit memendek serta didapat pula tanda-tanda anemia hemolitik ringan. Thalasemia dan hemoglobinopati adalah contoh khas untuk penyakit/kelainan yang bedasarkan defek/kelainan hanya satu gen.
2.4 Gejala
 Penderita thalasemia memiliki gejala yang bervariasi tergantung jenis rantai asam amino yang hilang dan jumlah kehilangannya. Penderita sebagian besar mengalami anemia yang ringan khususnya anemia hemolitik (Tamam.M. 2009). Keadaan yang berat pada beta-thalasemia mayor akan mengalami anemia karena kegagalan pembentukan sel darah, penderita tampak pucat karena kekurangan hemoglobin. Perut terlihat buncit karena hepatomegali dan splenomegali sebagai akibat terjadinya penumpukan Fe, kulit kehitaman akibat dari meningkatnya produksi Fe, juga terjadi ikterus karena produksi bilirubin meningkat. Gagal jantung disebabkan penumpukan Fe di otot jantung, deformitas tulang muka, retrakdasi pertumbuhan, penuaan dini.
2.5 Penyebab Thalassemia
1.      Gangguan genetic
Orangtua memiliki sifat carier (heterozygote) penyakit thalasemia sehingga klien memiliki gen resesif homozygo.
2.      Kelainan struktur hemoglobin
a.       Kelainan struktur globin di dalam fraksi hemoglobin. Sebagai contoh, Hb A (adult, yang normal), berbeda dengan Hb S (Hb dengan gangguan thalasemia) dimana, valin di Hb A digantikan oeh asam glutamate di Hb S.
b.      Menurut kelainan pada rantai Hb juga, thalasemia dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu : thalasemia alfa (penurunan sintesis rantai alfa) dan beta (penurunan sintesis rantai beta).
3.        Produksi satu atau lebih dari satu jenis rantai polipeptida terganggu. Defesiensi produksi satu atau lebih dari satu jenis rantai a dan b.
4.      Terjadi kerusakan sel darah merah (eritrosit) sehingga umur eritrosit pendek (kurang dari 100 hari).
Struktur morfologi sel sabit (thalasemia) jauh lebih rentan untuk rapuh bila dibandingkan sel darah merah biasa. Hal ini dikarenakan berulangnya pembentukan sel sabit yang kemudian kembali ke bentuk normal sehingga menyebabkan sel menjadi rapuh dan lisis.
5.      Deoksigenasi (penurunan tekanan O2)
 Eritrosit yang mengandung Hb S melewati sirkulasi lebih lambat apabila dibandingkan dengan eritrosit normal. Hal ini menyebabkan deoksigenasi (penurunan tekanan O2) lebih lambat yang akhirnya menyebabkan peningkatan produksi sel sabit.
2.6 Diagnosis Thalassemia
1.      Anamnesis
Keluhan timbul karena anemia: pucat, gangguan nafsu makan, gangguan tumbuh kembang dan perut membesar karena pembesaran lien dan hati. Pada umumnya keluh kesah ini mulai timbul pada usia 6 bulan
2.      Pemeriksaan fisis
-      Pucat
-      Bentuk muka mongoloid (facies Cooley)
-      Dapat ditemukan ikterus
-      Gangguan pertumbuhan
-      Splenomegali dan hepatomegali yang menyebabkan perut membesar
3. Pemeriksaan penunjang
a. Darah tepi :
-      Hb rendah dapat sampai 2-3 g%
-      Gambaran morfologi eritrosit : mikrositik hipokromik, sel target, anisositosis berat dengan makroovalositosis, mikrosferosit, polikromasi, basophilic stippling, benda Howell-Jolly, poikilositosis dan sel target. Gambaran ini lebih kurang khas.
-      Retikulosit meningkat.
b.      Sumsum tulang (tidak menentukan diagnosis)
-      Hiperplasi sistem eritropoesis dengan normoblas terbanyak dari jenis asidofil.
-      Granula Fe (dengan pengecatan Prussian biru) meningkat.
c.       Pemeriksaan khusus :
 -      Hb F meningkat : 20%-90% Hb total
   -      Elektroforesis Hb : hemoglobinopati lain dan mengukur kadar Hb F.
 -      Pemeriksaan pedigree: kedua orangtua pasien thalassemia mayor merupakan trait (carrier) dengan Hb A2 meningkat (> 3,5% dari Hb total).
4.      Pemeriksaan lain :
-      Foto Ro tulang kepala : gambaran hair on end, korteks menipis, diploe melebar dengan trabekula tegak lurus pada korteks.
-      Foto tulang pipih dan ujung tulang panjang : perluasan sumsum tulang sehingga trabekula tampak jelas.
5.      Diagnosis banding
Thalasemia minor :
-      Anemia kurang besi
-      Anemia karena infeksi menahun
-      Anemia pada keracunan timah hitam (Pb)
-      Anemia sideroblastik    
2.7 Pengobatan dan pencegahan
            Pada thalassemia yang berat diperlukan transfusi darah rutin dan pemberian tambahan asam folat.
            Penderita yang menjalani transfusi, harus menghindari tambahan zat besi dan obat-obat yang bersifat oksidatif (misalnya sulfonamid), karena zat besi yang berlebihan bisa menyebabkan keracunan.
            Pada bentuk yang sangat berat, mungkin diperlukan pencangkokan sumsum tulang.Terapi genetik masih dalam tahap penelitian.Thalasemia menurut para ahli belum ada obatnya, tapi pengobatan alami dengan menggunakan cyano spirulina dan jelly gamat akan membantu mengurangi frekwensi transfusi darahnya .
            Alasanya : kandungan Cyano Spirulina terdapat 5 zat gizi utama, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan 4 pigmen alami yaitu betakaroten, klorofil, xantofil, dan Fikosianin.
            Pigmen adalah zat warna alami yang ada pada tumbuhan. pigmen pada cyano Spirulina berfungsiebagai detoksifikasi (pembersih racun), perlindungan tubuh terhadap radikal bebas, antioksidan, meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan jumlah bakteri ”baik” di usus, meningkatkan haemoglobin (Hb), dan sebagai antikanker.
            Selain itu, cyano Spirulina mengandung klorofil, Vitamin B 12, Asam folat dan zat besi yang duperlukan untuk pembentukan darah merah. Konsumsi cyano Spirulina secara teratur akan mencegah terjadinya anemia ( kurang darah)
            Pada keluarga dengan riwayat thalassemia perlu dilakukan penyuluhan genetik untuk menentukan resiko memiliki anak yang menderita thalassemia.



BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Thalasemia adalah suatu penyakit keturunan yang diakibatkan oleh kegagalan pembentukan salah satu dari empat rantai asam amino yang membentuk hemoglobin, sehingga hemoglobin tidak terbentuk sempurna. Tubuh tidak dapat membentuk sel darah merah yang normal, sehingga sel darah merah mudah rusak atau berumur pendek kurang dari 120 hari dan terjadilah anemia.
3.2 Saran
Disarankan kepada yang memiliki penyakit Thalassemia harus selalu menjaga kesahatan, menjaga pola makan dan rutin berolahraga.












DAFTAR PUSTAKA

Jumat, 03 April 2020

Metode Penegakan Diagnosis Anemia

METODE PENEGAKAN DIAGNOSA ANEMIA




OLEH
NAMA : ADHA NIAR
NIM : 18 3145 353 121
KELAS : 2018 C


PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGA REZKY
 MAKASSAR
2020

DAFTAR ISI
Sampul
 Daftar Isi
A. Tes Saring
a. Tes Darah Rutin
B. Tes Diagnostik
a. Tes Apusan Darah Tepi
b. Tes Hitung Retikulosit
c. Tes Fe Serum dan TIBC
d. Tes Coomb’s e. Tes Elektroforesis Hemoglobin
f. Evaluasi Sumsum Tulang g. Tes Kadar Asam Folat/ Vitamin B12/ Plasma

















TES SARING
 Tes Darah Rutin
1. Pra Analitik
Persiapan pasien : Tidak ada persiapan pasien
Persiapan sampel : Darah EDTA 10 %
Prinsip : Impedance berupa larutan elektrolit (diluent) yang telah di campur dengan sel-sel darah melalui aperture, hambatan antara kedua elektroda tersebut akan naik sesaat dan terjadi perubahan tegangan yang sangat kecil sesuai dengan nilai tahanannya.
Alat
Hematology Analyser
Tabung reaksi
Rak Tabung
Darah EDTA 10 %
Metode volumetric impedance
2. Analitik
a. Disiapkan alat dan bahan yang akan di gunakan
b. Dihidupkan UPS, kemudian ditekan main power yang terletak pada bagian belakang alat sehingga lampu indikator main power menyala.
c. Ditekan tombol power yang terdapat pada bagian depan alat, alat secara otomatis melakukan cleaning dan priming
d. Ditunggu sampai alat siap digunakan
e. Dimasukkan data pasien pada computer/display lalu di kirim data tersebut ke alat
f. Dipastikan darah tidak menggumpal pada tabung dan masukkan sampel pad arak tabung sesuai data pasien yang telah di input. Kemudian tekan tombol start dan akan dilakukan analisa oleh alat
g. Hasil akan dikeluarkan dalam bentuk print out.
3. Pasca Analitik
    Nilai Rujukan
a. Hemoglobin
1) Laki-laki : 12-16 gr/dl
2) Perempuan : 14-18 gr/dl
b. Leukosit : 3.500-10.500/ml
c. Jenis-jenis leukosit
1) Eosinofil : 1-3 %
2) Basophil : 0-1 %
3) Netrofil Batang : 2-6 %
4) Segmen : 50-70 %
5) Limfosit : 20-40 %
6) Monosit : 2-8 %
d. Trombosit : 150.000-400.000/µl
e. Eritrosit
1) Laki-laki : 4.5-6.0 juta/µl
2) Perempau : 4.0-5.0 juta/µl
f. Hematokrit
1) Laki-laki : 42% - 52%
2) Perempuan : 36% -46%
g. Laju Endap Darah
1) Laki-laki : 0-20 mm/jam
2) Perempuan : 0-15 mm/jam
h. MCV (Mean Corpuscular Volume) : 82-92 fl 1) 82-92 = Normositik 2) < 82 = Mikrositik 3) >92 = Makrositik
i. MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) : 32-37% 1) < 32 = Hipokromik 2) > 32 = Normokromik
j. MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) : 27-32 pg 1) 27-32 = Normositik 2) < 27 = Hipokromik
k. Retikulosit : 0,5 - 1,5%
B. TES DIAGNOSTIK
Tes Apusan Darah Tepi
1. Pra Analitik
a. Persiapan pasien: tidak memerlukan persiapan khusus
b. Persiapan sampel, Darah kapiler segar akan memberikan morfologi dan hasil pewarnaan yang optimal pada sediaan apus, Darah EDTA (etilen diamin tetra asetat). EDTA dapat dipakai karena tidak berpengaruh terhadap morfologi eritrosit dan lekosit serta mencegah trombosit bergumpal. Tes sebaiknya dilakukan dalam waktu kurang dari 2 jam. Tiap 1 ml EDTA digunakan untuk 1 ml darah vena.
 c. Prinsip tes: Prinsip sediaan apus: dibuat apusan darah pada kaca objek. Prinsip pewarnaan didasarkan pada sifat kimiawi dalam sel. Zat warna yang bersifat asam akan bereaksi dengan komponen sel yang bersifat alkalis, demikian pula sebaliknya. Pewarnaan sediaan apus menggunakan prinsip Romanosky yaitu menggunakan dua zat warna yang berbeda yang terdiri dari Azure B (trimethylthionin)yang bersifat basa dan eosin Y (tetrabromoflourescein) yang bersifat asam seperti yang dianjurkan oleh The International Council for Standardization in Hematology, dan pewarnaan yang dianjurkan adalah Wright-Giemsa dan May Grunwald-Giemsa (MGG).
d.  Alat
1) Kaca Objek 25x75 mm
2) Batang gelas
3) Rak kaca objek
4) Pipet Pasteur
e.  Bahan/reagen :
1) Metanol absolut dengan kadar air kurang dari 4%, disimpan dalam botol yang tertutup rapat untuk mencegah masuknya uap air dari udara
2) Zat warna Wright Zat warna Wright ………….. 1 gr Methanol absolut …………….600 ml Penambahan alkohol sedikit demi sedikit, sambil dikocok dengan baik dengan bantuan 10–20 butir gelas. Tutup rapat untuk mencegah penguapan dan disimpan ditempat yang gelap selama 2 – 3 mg, dengan sering-sering dikocok, saring sebelum dipakai.
3) Larutan dapar pH 6,4 Na2HPO4 2,56 g KH2PO4 6,63 g Air Suling 1 L Sebagai pengganti larutan dapar, dapat dipakai air suling yang pHnya diatur dengan penambahan tetes demi tetes larutan kalium bikarbonat 1% atau larutan HCl 1% sampai indikator Brom Thymol Blue (larutan 0,04% dalam air suling) yang ditambahkan mencapai warna biru.
4) Zat warna giemza Zat warna giemza 1 gr Methanol absolut 10 ml Hangatkan campuran ini sampai 50°C dan biarkan selama 15 menit, kemudian disaring. Sebelum dipakai, campuran ini diencerkan sebanyak 20 x dengan larutan dapar pH 6,6. Untuk mencari parasit malaria, dianjurkan menggunakan larutan dapar pH 7,2 5) Zat warna May – Grunwald Methylene blue dalam methanol 1% eosin 1% methylene blue
2. Analitik
a. Cara Membuat Sediaan Apus
1) Dipilih kaca objek yang bertepi rata untuk digunakan sebagai „kaca penghapus‟ sudut kaca objek yang dipatahkan, menurut garis diagonal untuk dapat menghasilkan sedian apus darah yang tidak mencapai tepi kaca objek
2) Satu tetes kecil darah diletakkan pada ± 2 –3 mm dari ujung kaca objek. Kaca penghapus diletakkan dengan sudut 30 – 45 derajat terhadap kaca objek didepan tetes darah.
3) Kaca pengapus ditarik ke belakang sehingga tetes darah, ditunggu sampai darah menyebar pada sudut tersebut.
4) Dengan gerak yang mantap, kaca penghapus didorong sehingga terbentuk apusan darah sepanjang 3 – 4 cm pada kaca objek. Darah harus habis sebelum kaca penghapus mencapai ujung lain dari kaca objek. Apusan darah tidak bolah terlalu tipis atau terlalu tebal, ketebalan ini dapat diatur dengan mengubah sudut antara kedua kaca objek dan kecepatan menggeser. Makin besar sudut atau makin cepat menggeser, maka makin tipis apusan darah yang dihasilkan.
5) Apusan darah dibiarkan mengering di udara. Identitas pasien ditulis pada bagian tebal apusan dengan pensil kaca.
b. Cara Mewarnai Sediaan Apus
1) Pewarnaan Wright
a)  Letakkan sediaan apus pada dua batang gelas
b)  Fiksasi sediaan apus dengan metanol absolut 2 – 3 menit.
c)  Genangi sediaan apus dengan zat warna Wright biarkan 3 – 5 menit.
d) Tambahkan larutan dapar tercampur rata dengan zat warna. Biarkan selama 5 – 10 menit.
e) Bilas dengan air ledeng, mula-mula dengan aliran lambat kemudian lebih kuat dengan tujuan menghilangkan semua kelebihan zat warna. Letakkan sediaan hapus dalam rak dalam posisi tegak dan biarkan mengering.
2) Pewarnaan Giemsa
a) Letakkan sediaan apus pada dua batang gelas di atas bak tempat pewarnaan.
b) Fiksasi sediaan apus dengan metanol absolut 2 – 3 menit.
c) Genangi sediaan apus dengan zat warna Giemsa yang baru diencerkan. Larutan Giemsa yang dipakai adalah 5%, diencerkan dulu dengan larutan dapar. Biarkan selama 20 – 30 menit.
d) Bilas dengan air ledeng, mula-mula dengan aliran lambat kemudian lebih kuat dengan tujuan menghilangkan semua kelebihan zat warna. Letakkan sediaan hapus dalam rak dalam posisi tegak dan biarkan mengering.
3) Pewarnaan May Grunwald – Giemsa (MGG)
a) Letakkan sediaan apus yang telah difiksasi diatas rak pewarnaan
b) Genangi sediaan apus dengan zat warna May Grunwald yang telah siap pakai, biarkan 2 menit
c) Tambahkan larutan buffer pH 6.4 sama banyak dengan larutan MGG yang telah diberikan sebelumnya. Tiup agar larutan dapat tercampur rata dengan zat warna. Biarkan selama 2 menit
d) Bilas dengan air (buang kelebihan zat warna)
e) Genangi dengan larutan Giemsa 5% (larutan buffer pH 6.4 10 ml + Giemsa 0,5 ml) biarkan selama 10-15 menit.
f) Bilas dengan air ledeng , mula-mula dengan aliran lambat kemudian lebih kuat dengan tujuan menghilangkan semua kelebihan zat warna. Letakkan sedian dalam sikap vertikal dan biarkan mengering sendiri.
c. Nilai Rujukan
1) Eritrosit
a)  Ukuran (size): ( Diameter eritrosit yang normal (normositik) adalah 6 – 8 μm atau kurang lebih sama dengan inti limfosit kecil
b) Bentuk (shape) ( Bentuknya bikonkaf bundar dimana bagian tepi lebih merah daripada bagian sentralnya
c) Warna (staining) ( Bagian sentral lebih pucat disebut akromia sentral yang luasnya antara 1/3 -1/2 kali diameter eritrosit
d) Benda-benda inklusi (structure intracel)
e) Distribusi : merata 2) Leukosit Leukosit adalah sel berinti. Dalam darah tepi yang paling banyak ditemukan adalah sel polimorfonuklear netrofil (PMN). Jenis lekosit yang normal yang ditemukan dalam darah tepi adalah eosinofil (1% - 3%), bisafil (0-1%), netrofil batang (2%-6%), netrofil segmen atau sel PMN (50%-70%), limfosit (20%-40%) dan monosit (2%-8%). Dalam keadaan normal diperkirakan terdapat 1 lekosit per 500 eritrosit
3) Trombosit Diameter trombosit adalah 1-3 μm, tidak berinti, mempunyai granula dan bentuknya reguler. Perkiraan jumlah trombosit dalam keadaan normal diperkirakan terdapat 1 trombosit per 15 – 20 eritrosit atau 5 – 15 per lapangan pandang imersie
3. Pasca Analitik
a. Eritrosit
1) Dengan pemeriksaan ini dapat ditemukan berdasarkan morfologi yakni
Anemia Mikrositik Hipokrom misalnya pada penderita defisiensi Fe.
Anemia Normositik Normokrom misalnya pada pendarahan akut.
Anemia Mikrositik misalnya pada defisiensi Vit. B12 dan asam folat.
Bentuk eritrosit hemolisis :
Morfologi secara umum adalah polikromatofilik, makrosit, dan sel eritrosit berinti. Bentuk morfologi khusus bervariasi tergantung etiologi kerusakan eritrosit
Akantosit pada abetalipoproteinemia, sirosis, uremia, Haemolytic Uremic Syndrome (HUS), anemia hemolitik.
Ekinosit pada abetalipoproteinemia, sirosis, uremia HUS,
Sel Target pada Hb C atau E, penyakit hati, ikterus obstruktif, talasemia, pasca splenektomi.
Sel tetes Air Mata pada mielofibrosis, talasemia, anemia hemolitik, mieloftisis.
Sickle Cell pada sickle cell anemia.
Sferosit pada hemolisis didapat maupun herediter. Ovalosit pada ovalositosis herediter.
Sistosit pada talasemia, anemia hemolitik, mikroangiopati.
Distribusi abnormal eritrosit
Rouleaux formation pada multipel mieloma, makroglobulinemia Waldenstorm. Benda-benda inklusi dalam eritrosit
Normoblast pada pendarahan akut, hemolisis berat mielofibrosis, asplenia, leukemia, mieloftsis.
Basophilic Stippling anemia sindroma Mielodisplasia.
Howell Jolly Bodies pada anemia megaloblastik, asplenia, hemolisis berat.
Cabot’s, Ring pada hemolisis berat.
Heinz Bodies pada talasemia, anemia hemolitik karena obat, leukemia
Parasit : plasmodium malaria, biasanya disertai dengan tandatanda hemolitik.
b. Leukosit Pada APK ditemukan tanda infeksi seperti persentase jumlah netrofil, limfosis meningkat, hipersegmentasi, granulasitoksis, dan vakuolisasi sitoplasma.
c. Trombosit
1) Trombositosis dapat ditemukan pada Mieloproliferatif, pendarahan akut, infeksi, penyakit inflamasi, Hodgkin, trombosis vena, post splenektomi.
2) Trombositopenia dapat ditemukan pada Radiasi eritroleukimia, anemia megaloblastik, giant hemangioma,Thrombotic Purpura (TTP), Disseminated Intravasucular Coagulation (DIC), purpura trombositopenia karena obat, pasca tranfusi, SLE, Immunologic, Thrombocytopenia Purpura (ITP) Trombosit besar dapat ditemukan pada: May Hegglin anomaly, Sindroma Mielodisplasia, AML.
Hitung Retikulosit
Retikulosit adalah eritrosit muda yang sitoplasmanya mengandung sisa-sisa ribosom dan RNA yang berasal dari sisa inti. Ribosom mempunyai kemampuan untuk bereaksi dengan cat tertentu seperti Brilliant Cresyl blue atau New Methylene blue untuk membentuk endapan granula atau filament yang berwarna biru. Reaksi ini hanya terjadi pada pewarnaan terhadap sel yang masih hidup dan tidak difiksasi, oleh karena itu disebut pewarnaan supravital. Retikulosit paling muda (immature) mengandung ribosom terbanyak, sebaliknya retikulosit tua hanya mempunyai beberapa titik ribosom. Banyak retikulosit dalam darah tepi menggambarkan aktivitas eritropoesis yang hampir akurat. Hitung retikulosit dinyatakan sebagai persentasi jumlah retikulosit per 100 ertrosit.
Pra Analitik
Persiapan pasien
Persiapan sampel
Prinsip : Darah dicampur dengan larutan, Brilliant Cresyl Blue atau larutan New Methylene Blue, lalu dibuat sediaan. Dan jumlah retikulositnya dihitung dibawah mikroskop. Jumlah retikulosit dihitung per 1000 eritrosit dan dinyatakan dalam %
Alat dan Bahan
Tabung reaksi kecil
Kaca objek dan kaca penggeser
Pipet Pasteur
Penangas air
Mikroskop.
REAGENS
Brilliant Cresyl Blue atau
New Methylene Blue (Colour Index 52030)………… 1g
Larutan sitrat salin……………………………………. 100 ml
Larutan sitrat salin dibuat dengan mencampur :
1 bagian natrium sitrat 30 g/l
4 bagian larutan Na Cl 9,0 g/l
Analitik
SEDIAAN KERING
Kedalam tabung reaksi kecil teteskan 3 tetes larutan Brilliant Cresyl Blue atau New Methylene Blue.
Tambahkan 3 tetes darah, campurkan baik-baik dan biarkan pada suhu ruangan selama 15 menit agar pewarnaa sempurna
Cara yang lain :
Setelah ditambahkan 3 tetes darah, campurkan baik-baik, tabung ditutup dengan parafilm dan diinkubasi pada 37 oC selama 30-60 menit.
Setelah inkubasi, tabung dihomogenkan lagi dan ambil 1 tetes untuk membuat sediaan apus. Keringkan diudara dan diperiksa dibawah mikroskop
Periksalah dengan perbesaran objektif 100 X.
Dicari daerah yang baik yaitu eritrosit tidak tumpang tindih. Retikulosit tampak sebagai sel yang lebih besar dari eritrosit. Dan mengandung filament atau granula. Dengan BCB, eritrosit berwarna biru keunguan dengan filament atau granula berwarna ungu.
Bila menggunakan NMB, retikulosit berwarna biru dengan filament atau granula berwarna biru tua.
Hitunglah jumlah retikulosit per 1000 eritrosit dengan lensa emersi.
Jumlah retikulosit dapat dinyatakan persen/per mil terhadap jumlah eritrosit total atau dilaporkan dalam jumlah mutiak missal :
Dalam 10 lapangan pandang dijumpai 2000 eritrosit dan retikulosit 76.
100
Jumlah retikulosit (%)       :   x 76 = 3,8 % atau 2000
1000
              X 76 = 38 permil
2000
Bila diketahui jumlah eritrosit 3,5 juta/ul maka
38
Jumlah retikulosit = x 3.500.000/ul = 133.000/µl 1000
SEDIAAN BASAH
Taruh 1 tetes larutan BCB ditengah-tengah kaca obyek.
Tambahkan 2 tetes darah dilarutan BCB, homogenkan darah dengan larutan BCB dengan menggunakan sudut kaca obyek.
Tutup dengan kaca penutup
Periksa dengan oil emersi
Cara penghitungan sama dengan sediaan kering
Jika didapatkan jumlah retikulosit yang tinggi atau disertai dengan nilai hematocrit rendah maka dilakukan koreksi terhadap nilai retikulosit.
Nilai koreksi ini disebut indeks retikulosit (Reticulocyte Production Indeks)
RP I  =  % Retikulosit x Hmt penderita x factor koreksi
      Hmt normal
Pasca Analitik
Nilai rujukan = 0,5-1,5%
Hitung retikulosit meningkat pada : perdarahan akut, hemolysis,
RP I  ˂2%  = kegagalan sum-sum tulang membentuk eritrosit.
RP I  2-3% = respons baik terhadap anemia hemolitik
RP I ˃3%   = Hiperproliferasi
Sumber Kesalahan
Volume darah yang digunakan tidak sesuai dengan volume zat warna
Zat warna tidak disaring akan mengendap di eritrosit sehingga tampak seperti retikulosit
Waktu inkubasi campuran darah dan zat warna kurang lama
Tidak menghomogenkan campuran zat warna dengan darah sebelum membuat sediaan apus
Retikulosit mempunyai berat jenis yang lebih rendah dari eritrosit sehingga berada dibagian atas dari campuran
Menghitung di daerah yang terlalu padat
Jumlah eritrosit yang dihitung tidak mencapai 1000.

Tes Fe Serum dan TIBC
1. Fe Serum
a.  Pra Analitik
1) Persiapan pasien : Pasien berhenti minum obat Fe 12 jam sebelumnya
2) Persiapan sampel : Serum, plasma heparin dan plasma EDTA
3) Prinsip : Antibodi dengan high affinity terhadap ferritin (antiferitin IgG) akan berikatan dengan feritin serum dan selanjutnya dilabel dengan enzim horseradish peroxidase dan dibaca absorbannya pada panjang gelombang 492 nm.
4)  Alat
a) Mikrotiter plate reader untuk absorbansi 492 nm
b) Kertas absorbansi
c) Mikropipet
d) Kertas grafik
 5) Bahan
a) Preparat antiferitin IgG yang di konjugasi dengan horseradish peroxidase
b) Larutan standar ferritin, dibuat dengan cara :
( Encerkan humsn ferritin 200 µg/ml ke dalam air. Encerkan larutan ferritin 200 µg/ml ke dalam 10 µg/ml dalam 0,05 mol/l larutan sodium barbitone (yang terdiri dari 0,1 mol/l NaCl, 0,02 NaN dan BSA 5 gr/dl), pH disesuaikan sampai pH 8 dengan menambahkan HCl 5 mol/l
( Bagi dalam 200 tabung kecil, masing-masing berisi 200 µl, tutup rapat dan tahan sampai 1 tahun pada suhu 40C
( Jika akan dipakai, encerkan dengan buffer B sampai 1000 µg/l dan siapkan larutan dalam range 0,2-25 µg/l
c)  Buffer A : Phosphate-buffered saline pH 7,2
d) Buffer B : 5 gram BSA (Bovine Serum Albumin) dalam 1 liter buffer A
e)  Buffer C : Carbonate buffer pH 9,6
f) Buffer D : Citrate phosphate buffer pH 5
g) Larutan substrat
6) Metode : Elisa Double Sandwich
b. Analitik
1) Lapisi microtitreplate dengan cara :
a) Preparat antiferitin IgG diencerkan dengan 2 µg/ml buffer C, tambahkan 200 µl ke dalam tiap-tiap sumuran
b) Tutup dan inkubasi semalam pada suhu 40C, kosongkan sumuran dengan cara di balik dan di tapping pada handuk kering
c) Tambahkan 200 µl 0,05% BSA dalam buffer C, diamkan 30 menit dalam suhu ruangan
d) Cuci tiap sumuran dengan buffer A sampai 3x. plate dapat di simpan sampai 1 minggu pada tempat kering dan suhu 4 0C
2) Encerkan 50 µl serum pasien dengan 1 ml buffer B
3) Tambahkan 200 µl larutan standart serum dan serum pasien ke dalam tiap sumuran dalam waktu 20 menit
4) Tutup dan diamkan selama 20 menit pada suhu kamar dan jauhkan dari sinar matahari
5) Kosongkan sumuran dan cuci 3 x dengan buffer A
6) Tambahkan 200 µl preparat konjugasi antiferitin IgG dengan horseradish peroxidase yang sudah diencerkan, tutup dan diamkan selama 2 jam pada suhu kamar
7) Cuci 3x dengan buffer A
8) Tambahkan 200 µl larutan substrat pada tiap-tiap sumuran, inkubasi selama 30 menit
9) Tambahkan 50 µl asam sulfur 4M pada tiap-tiap sumuran untuk menghentikan reaksi
10) Tunggu 30 menit dan baca absorbansinya pada 492 nm dengan microtitre plate reader, atau ambil 200 µl larutan dari tiap sumuran dan masukkan dalam 800 µl air, dan baca dengan fotometer.
c. Pasca Analitik
1) Laki-laki : 18-270 mcg/L
2) Perempuan : 18-160 mcg/L
3) Anak-anak : 7-140 mcg/L
4) Bayi usia 1-5 bulan : 50-200 mcg/L
5) Bayi baru lahir : 25-200 mcg/L
2. TIBC (Total Iron Binding Capasity)
a. Pra Analitik
1) Persiapan pasien : Pasien berhenti minum obat Fe 12 jam sebelumnya
2) Persiapan sampel : Serum, Plasma Heparin dan Plasma EDTA
3) Prinsip TIBC di evaluasi setelah saturasi transferrin oleh larutan besi, dan kelebihan besi akan di absorbansi oleh magnesium hydroxide carbonate. Setelah di sentrifus, konsentrasi besi dalam supernatant diukur.

4) Alat
a) Sentrifuge
b) Pipet tetes
c) Tabung kecil
5) Bahan
a) Reagen 1: R1 Iron saturating Solution 500 µg/dL 5 mg/L 89,5 µmol/L
b) Reagen 2: R2 Magnesium hydroxide carbonate (1 sendok takar = 100 mg)
6) Metode Saturasi
b. Analitik
1) Sampel 0,5 ml dicampurkan dengan 1 ml reagen R1, diinkubasi selama 5 menit
2) Ditambahkan 1 sendok takar (kira-kira 100 mg) reagen R2, dan inkubasi selama 20 menit, dengan sekali-kali di kocok
3) Disentrifus selama 10 meit dengan kecepatan 3000 rpm
4) Ambil supernatannya
5) Periksa supernatant seperti pada penentuan SI
Nilai rujukan
1) Laki-laki dewasa : 2,6-3,3 mg/L (46,5-69,8 µmol/L)
2) Perempuan dewasa : 2,1-3,4 mg/L (37,6-60,9 µmol/L)
c.  Pasca Analitik
Nilai Normal : 20-45%
TES COOMB’S
Tes Coomb’s diindikasi pada pasien dengan dugaan Anemia Hemolitik Autoimun (AIHA). AIHA adalah kelainan yang ditandai oleh pemendekan umur eritrosit yang disebabkan oleh adanya antibody dalam serum penderita yang bereaksi dengan eritrosit penderita itu sendiri. Autoantibodi tersebut dapat berupa immunoglobulin G (IgG) atau immunoglobulin M (IgM).
Pra Analitik
Persiapan pasien : Catat daftar obat yang sedang dikonsumsi pasien. Obat yang dapat mempengaruhi tes ini adalah : penisilin, sefalosporin, antihipertensi dan lain-lain.
Persiapan sampel : hindari sampel hemolysis, sampel darah dengan antikoagulan natrium sitrat 3,8%. Tes sebaiknya dilakukan selambatnya 2 jam.
Prinsip : penambahan serum Coomb’s (serum hewan yang mengandung antibody spesifik terhadap globulin manusia) pada eritrosit yang tersensitisasi/eritrosit yang terbungkus dengan immunoglobulin atau komplemen akan menimbulkan suatu aglutinasi.
Alat dan Bahan
Alat    : Tabung reaksi
             Pipet tetes
             Incubator
             Kaca obyek dan kaca penggeser
Bahan : Darah sitrat (1:9)
  Larutan NaCl fisiologis (0,9%)
  Reagen Coomb’s
Analitik
Sebanyak 0,5 ml darah yang diperiksa dimasukkan ke dalam tabung reaksi
Lakukan pencucian eritrosit 4 kali berturut-turut dengan setiap kali dilakukan sentrifus kemudian plasma dibuang.
Buatlah suspensi eritrosit yang tertinggal dalam tabung setelah sentrifus terakhir dengan menambah sekian banyak NaCl fisiologis sampai suspensi eritrosit mempunyai nilai hematocrit 2%
Ke dalam tabung 75x10 mm, masukkan 1 tetes suspense tadi kemudian tambahkan dengan 2 tetes reagen Coomb’s
Campur kemudian inkubasikan pada suhu 37oC selama 30-50 menit
Kocok dengan hati-hati tabung tersebut lihat adanya aglutinasi, konfirmasikan dengan menggunakan mikroskop
Jika hasilnya negative lakukan sentrifus kembali dengan 1000 rpm selama 1 menit
Periksa kembali adanya aglutinasi seperti langkah 6
Bandingkan hasil tes dengan control positif dan control negative
Nilai Rujukan : Negatif
Pasca Analitik
Terjadi aglutinasi membuktikan adanya antibody yang melapisi eritrosit. Tes Coomb’s positif ditemukan pada :
Penyakit hemolitik pada bayi baru lahir Anemia hemolitik autoimun Anemia hemolitik karena obat-obatan reaksi transfuse hemolitik.

 Tes Elektroforesis Hemoglobin
  1. Pra Analitik
a. Persiapan pasien: Tidak ada perkhusus yang diperlukan.
b. Persiapan sampel: disimpan satu minggu pada 40C.
c. Prinsip Diukur Hb yang tidak terdenaturasi dengan penambahan sodium hidroksida kemudian 4ditambahkan ammonium sulfat lalu diukur.
d. Alat
1) Spektrofotometer
2) Stopwatch
3) Pipet 1,5
4) Kertas saring whatman
5) Tabung 12x10 mm
6) Vortex mixer
7) Funnels
e. Bahan
1) Hemolisat
2) Cyanide solution
3) NaOH 1,2 N
4) Ammonium sulfat jenuh
2. Analitik
a. Masukkan 3,8 ml larutan sianida ditambah 2 ml hemolisat untuk membuat HiCN.
b. Dipindahkan ke dalam 2 tabung dimana tabung pertama sebanyak 0,4 ml HiCN dengan 6,75 ml aquadest kemudian dibaca pada panjang gelombang 540 nm sebagai A Hb total.
c. Pada tabung kedua dimasukan HiCN se4banyak 2,8 ml. biarkan 10 menit pada suhu ruang.
d. Dimasukkan 2 ml NaOH kemudian dicampur dengan vortex selama -3 detik kemudian inkubasi selama 2 menit.
e. Dimasukkan ml (NH2)2SO4 dicampur dengan vortex selama 10 detik kemudian biarkan selama 5 menit.
f. Disaring dengan kertas whatman kemudian baca pada panjang gelombang 540 nm sebagai A Hb resisten alkali. Perhitungan presentasi Hb F %Hb F= A540 Hb resisten alkali x 100 A540 Hb total x 10,01
3. Pasca Analitik
Nilai normal: 0,2-1,0%
Evaluasi Sumsum Tulang
1. Pra Analitik
a. Persiapan pasien: Diberitahukan kepada pasien langkah-langkah yang akan dilakukan, melakukan pemeriksaan darah lengkap, apusan darah tepi, faktor pembekuan darah seperti prothrombin time, INR, APTT untuk memastikan tidak ada resiko perdarahan data prosedur dilakukan.
b. Persiapan sampel: disimpan satu minggu pada 40C.
c. Prinsip Pereaksi asam-basa yang saling berikatan antara cat dengan sel darah, sesuai dengan sifat pH dari setiap sel yang terdapat pada selsel darah tersebut. Giemsa pada dasarnya merupakan gabungan dari dua macam cat yaitu methylene blue dan eosin dimana methylene blue bersifat basa akan berikatan dengan bagian sel yang bersifat asam dan memberikan warna biru sedangkan eosin yag bersifat asam akan mewarnai bagian sel yang bersifat basa.
d. Alat
1) Objek glass
2) Pipet tetes
3) Cawan petri
4) Rak tabung
5) Mikroskop
e. Bahan
1)  Sampel sumsum tulang
2) Tabung darah
3) Metanol
4)Giemsa
2. Analitik
a. Pembuatan preparat spread (sebar)
1) Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2) Letakkan objek glass di cawan petri dengan cara dimiringkan
3) Teteskan 3-4 tetes sampel sumsum tulang di atas objek glass tersebut
4) Diambil bagian fragmen menggunakan ujung objek glass yang baru
5) Buat apusan di atas objek glass yang lain
6) Keringkan kemudian fiksasi dengan methanol selama 5-10 menit
b. Pembuatan preparat squash (tekan)
1) Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2) Letakkan objek glass di cawan petri dengan cara dimiringkan
3) Teteskan 3-4 tetes sampel summsum tulang di atas objek glass tersebut
4) Letakkan di atas objek glass baru
5) Ratakan dan tekan kemudian geser secara datar sampai ujung objek glass dengan cepat
6) Keringkan kemudian fiksasi dengan methanol selama 5-10 menit
c. Pewarnaan giemsa
1) Genangi sediaan dengan larutan kerja gie4msa selama 20-30 menit
2) Sisa cat dibuang kemudian cuci dengan air mengalirKeringkan dan periksa di bawah mikroskop
3. Pasca Analitik
a. Normoselluler : Volume lemak 20% dari sel hemapoietik
b. Hyposelluler : Sel hemapoietik diganti oleh sel lemak
c. Hyperselluler : Hampir semua lemak diaganti oleh sel hemapoietik
         Tes Kadar Asam Folat/Vitamin B12 Plasma
1. Pra Analitik
a. Persiapan pasien
1) Kadar asam folat : Pasien dianjurkan puasa 12 jam
2) Vitamin B12 plasma: Tidak ada
b. Persiapan sampel : Serum, plasma heparin
c. Prinsip Menggunakan derivate dari luminol dengan peroksida dan H2O2 (atau system enzimatik lainnya yang menghasilkan H2O2 seperti oksidase glukosa atau uricase) ditambah penambah (turunan dari fenol, seperti p-iodofenol), yang meningkatkan emisi cahaya sampai 2.800 kali.
d. Alat
1) Mikropipet
2) Sentrifuge
3) Mikroplate reader set
e. Bahan
1) Serum/plasma
2) Tabung EDTA
3) Larutan Biotin Antibodi
f. Metode : Chemiluminescence
2. Analitik
a. Darah vena yang telah diperoleh kemudian dimasukkan kedalam tabung yang menggunakan EDTA
b. Untuk mendapatkan plasma, darah di sentrifuge selam 15 menit dengan kecepatan 1000xg pada suhu 2-8 0C dalam waktu 30 menit
c. Dipipet plasma pada control sebanyak 50µL, di pipet kedalam microplate. Segera tambahkan well microplate masing-masing dengan 50 µL larutan Biotin antibodi.
d. Inkubasi selama 45 menit pada suhu 370C kemudian homogenkan hingga terlihat seragam
e. Setiap well di cuci 3 kali dalam wadah buffer sebanyak 350 µL, lalu buang cairan dalam well, masing-masing well ditentukan segera dengan menggunakan microplate reader set pada panjang gelombang 450nm.
3. Pasca Analitik
a. Nilai rujukan : 300-400mcg/hari