“LAPORAN
PRAKTIKUM HEMATOLOGI III
“PEMERIKSAAN
RETIKULOSIT”

NAMA : ADHA NIAR
NIM :
18 3145 353 121
KELAS : 2018 C
PROGRAM
STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS
FAMASI,TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS
MEGA REZKY
MAKASSAR
2020
LEMBAR
PENGESAHAN
Judul
Praktikum : Pemeriksaan Retikulosit
Nama
: Adha Niar
NIM
: 18 3145 353 121
Hari/tanggal : Selasa, 14 April 2020
Penilaian :
Makassar,
02 Mei 2020
Dosen Pembimbing Praktikan
Arlitha DekaYana,
S.Si.,M.Kes Adha Niar .
NIDN: 09 3012 87 02 Nim:18 3145 353 121
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup,
mulai dari binatang primitive sampai manusia, dalam keadaan fisiologik darah
selalu berada dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai
pembawa oksigen (oxygen carrier) ; mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi
dan mekanisme hemostasis darah. (Made, 2017)
Darah adalah suatu subtansi cair yang terus-menerus
beredar berfungsi menyediakan nutrisi, oksigen dan pertukaran racun pada tubuh.
Darah sebagian besar terdiri atas cairan dengan berbagai sel dan protein yang
tersubstansi didalamnya sehingga darah lebih kental dan air murni. Sekitar dari
volume darah terdiri dari sel darah merah, yang membawa oksigen ke jaringan.
(Nadila dkk, 2013)
Pemeriksaan hemetologi merupakan salah satu
pemeriksaan yang dapat dipakai sebagai penunjang diagnosis berkaitan dengan
terapi dan prognosis. Untuk mendapatkan diagnosis tepat siperlukan hasil yang
teliti dan cepat. Dalam perkembangannya, berbagai tes laboratorik untuk
diagnosis mengalami perbaikan dan kemajuan dalam menunjang pelayanan kesehatan
yang efisien, teliti dan cepat, dimana salah satunya ialah tes laju endap
darah. (Ni Wayan dkk, 2014)
Retikulosit adalah sel darah merah (SDM) yang masih
muda yang tidak berinti dan berasal dari proses pematangan normoblast di sumsum
tulang. Retikulosit biasanya berada di darah selama 24 jam sebelum mengeluarkan
sisa RNA dan menjadi sel darah merah5 . Hitung retikulosit pada pasien tanpa
anemia berkisar antara 1-2%. Jumlah ini penting karena dapat digunakan sebagai
indikator produktivitas dan aktivitas eritropoesis di sumsum tulang dan
membantu untuk menentukan klasifikasi anemia sebagai hiperproliferatif,
normoproliferatif atau hipoproliferatif.
Oleh karena itu dilakukan pemeriksaan untuk
megetahui dan mengukur jumlah sel darah merah muda dalam volume darah tertentu.
B.
Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui dan
mengukur jumlah sel darah merah muda dalam volume darah tertentu.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Darah
adalah jaringan tubuh yang berbeda dengan jaringan tubuh lain, berada dalam
konsistensi cair, beredar dalam suatu sistem tertutup yang dinamakan sebagai
pembuluh darah dan berfungsi sebagai sarana transpor, alat homeostasis dan alat
pertahanan. Darah dibagi menjadi dua bagian yaitu sel darah dan cairan darah.
Sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (lekosit)
dan keping sel (trombosit). Cairan darah yang terpisah dari sel darah yaitu
plasma atau serum, (Dewi dkk, 2017)
Darah merupakan salah
satu komponen paling penting yang ada dalam tubuh, mengingat fungsinya sebagai
alat transportasi. Kekurangan darah di dalam tubuh dapat memacu sejumlah
penyakit dimulai dari anemia, hipotensi, serangan jantung, dan beberapa
penyakit lainnya. (Swastini D.A dkk, 2016)
Komponen darah manusia
secara terinci terdiri atas:
1. Sel-sel
darah , meliputi:
a. Eritrosit
(sel darah merah)
b. Leukosit
(sel darah putih
c. Trombosit
(keeping darah)
Plasma darah, merupakan
komponen cairan yang mejngandung berbagai nutrisi maupun subtansi penting
lainnya yang diperlukan oleh tubuh manusia, antara lain protein albumin,
globulin, factor-faktor pembekuan darah, dan berbagai macam elektolit natrium
(Na+), kalium (K+), klorida (Cl-), magnesium
(Mg+), hormone, dan sebagainya, (Novi, 2018)
Serum merupakan cairan
darah yang berwarna kuning. Didalam serum terdapat dua protein yaitu albumin
dan globullin. Antibodi berada di dalam serum dikarenakan Antibodi golongan
darah merupakan protein globulin, yang bertanggung jawab sebagai kekebalan
tubuh alamiah untuk melawan antigen asing. Komposisi serum sama dengan plasma
yaitu 91% air, 8% protein, dan 0,9% mineral. Akan tetapi didalam serum tidak
ada faktor pembekuan (fibrinogen). Dikarenakan serum tidak diberi anti
koagulan, fibrinogen dapat diubah menjadi benang – benang fibrin sehingga
terjadi pembekuan darah. Dimana antikoagulan ini mengikat kalsium sebagai
faktor pembekuan sehingga fibrinogen tidak di ubah menjadi benang – benang
fibrin. (Oktari Anita dkk, 2016)
Sel darah merah atau
eritrosit merupakan sel darah dengan jumlah yang paling banyak dengan tubuh
manusia. fungsi utama eritrosit adalah mengangkut oksigen dan mengangkut
oksigen dan mengantarkannya ke sel-sel tubuh. Hitung jumlah eritrosit merupakan
salah satu parameter hematologi yang ditentukan guna membantu menegakkan
diagnosis, menunjang diagnosis, membuat diagnosis banding, memantau perjalanan
penyakit, menilai beratnya sakit dan menentukan prognosis. (Neni dkk, 2017)
Retikulosit adalah sel
darah merah (SDM) yang masih muda yang tidak berinti dan berasal dari proses
pematangan normoblas di sum-sum tulang. Sel ini mempunyai jaringan organela
basofilik yang terdiri dari RNA dan protoforpirin yang dapat berupa endapan dan
berwarna biru apabila dicat dengan pengecatan biru metilin. Retikulosit akan
masuk ke sirkulasi darah tepid dan bertahan kurang lebih selama 24 jam sebelum
akhirnya mengalami pematangan menjadi eritrosit. (Ketut, 2010)
Retikulosit yang sangat
muda (imatur) adalah retikulosit yang dilepaskan ke darah tepi akibat adanya
rangsangan akibat anemia dan hal ini disebut stressed reticulocyte. Retikulosit jenis ini mempunyai masa hidup invivo yang lebih pendek apabila
ditransfusikan kedalam resipien normal dan secara umum dianggap sel ini tidak
normal karena tidak melalui perkembangan sel yang normal sampai ke divisi terminal
dari perkembangan retikulosit. (Ketut, 2010)
Anemia adalah suatu
keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal.
Faktor-faktor penyebab anemia gizi besi adalah status gizi yang dipengaruhi
oleh pola makanan, sosial ekonomi, lingkungan dan status kesehatan. Selain itu
penyebab anemia gizi besi dipengaruhi oleh kebutuhan tubuh yang meningkat,
akibat mengidap penyakit kronis dan kehilangan darah karena menstruasi dan
infeksi parasit cacing. Kekurangan zat besi menimbulkan gangguan atau hambatan
dalam pertumbuhan baik sel tubuh maupun sel otak dan menyebabkan penurunan daya
tahan tubuh. Hingga saat ini pencegahan dan penanggulangan anemia yang telah
dilakukan ditujukan khususnya pada ibu hamil sedangkan pada remaja putri jarang
diperhatikan. Anemia dapat dicegah maka konsumsi makanan yang kaya zat besi
perlu dilakukan dan juga diimbangi dengan pemberian tablet zat besi (Fe). (Zefika
dkk, 2019)
Pemeriksaan hitung
retikulosit merupakan alat diagnostik penting, dimana retikulosit merupakan
refleksi peningkatan produksi eritrosit pada sumsum tulang. Hitung retikulosit
digunakan untuk menilai ketepatan reaksi sumsum tulang terhadap anemia. Retikulosit
adalah eritrosit muda yang telah kehilangan inti tetapi masih mengandung
sejumlah besar ribosom dan RNA di dalam sitoplasmanya Retikulosit mengandung granula yang dapat
dicat dengan Briliant Cresyl Blue (BCB), lalu dibuat sediaan apus dan jumlah
retikulosit dihitung dengan mikroskop. Ribosom RNA dapat menyerap zat warna
supravital (New Methylen Blue; Briliant Cresyl Blue) sehingga secara
mikroskopis di dalam sitoplasma tampak sebagai presipitat berwarna biru tua
berjumlah dua atau lebih yang berbentuk titik atau dot, filamen atau untaian granula.
Retikulosit terdapat baik di sumsum tulang maupun darah tepi. Pematangan di
sumsum tulang memerlukan waktu kurang lebih 2-3 hari, sesudah itu dilepas ke
darah tepi. Hitung retikulosit dalam persen menunjukkan jumlah retikulosit
terhitung per 1000 eritrosit dibagi 10. Nilai normal hitung retikulosit dewasa
adalah 0,5 – 1,5 per 100 eritrosit atau 0,5 – 1,5% dan nilai normal hitung
retikulosit bayi baru lahir adalah 2 – 6%. Jumlah absolut retikulosit adalah 50
– 100 x 109/L. (Setyawati dkk, 2007)
Penurunan jumlah
retikulosit terdapat pada anemia aplastik dan pada kondisi sumsum tulang tidak
memproduksi eritrosit. Peningkatan jumlah retikulosit terdapat pada anemia,
penderita Anemia Defisiensi Besi (ADB) yang mendapat terapi besi, talasemia,
anemia sideroblastik, dan kehilangan darah akut atau kronis. Penghitungan
jumlah retikulosit seharusnya menggambarkan jumlah total eritrosit tanpa
memperhatikan konsentrasi eritrosit, tapi kenyataannya tidak demikian. Gambaran
produksi retikulosit yang sebenarnya didapatkan dengan mengoreksi hitung
retikulosit. Cara yang dipakai untuk melakukan koreksi terhadap hitung
retikulosit adalah membagi hematokrit pasien dengan hematokrit individu normal
dikalikan dengan jumlah retikulosit dalam persen. Nilai ini dikenal sebagai
koreksi pertama atau persentasi retikulosit terkoreksi. (Setyawati dkk, 2007)
BAB III
METODE
PRAKTIKUM
A.
Waktu
dan Tempat
1. Waktu
Adapun
waktu dilakukannya praktikum pemeriksaan darah rutin yaitu:
Hari : Selasa
Tanggal : 28 April 2020
Waktu :
10.00-12.00 WITA
2. Tempat
Adapun tempat
dilakukannya praktikum ini yaitu di Laboratorium Kimia DIV Teknologi
Laboratorium Medis Lantai 1 Gedung D Universitas Mega Rezky Makassar.
B. Pra Analitik
Persiapan
pasien : tidak memerlukan persiapan khusus
Persiapan
sampel : Sampel EDTA sebaiknya tes dilakukan selambatnya 2 jam
1. Prinsip
Kerja : Setelah eritrosit muda kehilangan
intinya, ada sedikit sisa RNA pada sel darah merah dan sel itu disebut
retikulosit untuk mengetahui adanya RNA maka sel darah merah harus diperiksa
pada saat masih hidup (vital) sehingga proses pengecetan ini disebut pengecatan
supravital
Alat dan Bahan
1. Alat
:
a. Tabung
reaksi
b. Rak
tabung
c. Pipet
tetes
d. Objek
glass
e. Deck
glass
f. Tourniquet
2. Bahan
:
a. Sampel
darah EDTA
b. Larutan
BCB
c. Spuit
d. Tissue
e. Kapas
alkohol
C. Prosedur Kerja
1. Disiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibersihkan
area kulit yang akan dilakukan pengambilan darah dengan kapas alkohol
3. Dipasang
tourniquet 3-5 cm diatas area penusukan
4. Dilakukan
penusukan atau memasukkan jarum kedalam pembuluh darah vena
5. Dimasukkan
darah kedalam tabung EDTA dan homogenkan
6. Dimasukkan
latutan BCB sebanyak 3 tetes kedalam tabung reaksi
7. Dimasukkam
sampel darah sebanyak 3 tetes kedalam tabung reaksi
8. Dihomogenkan
9. Di
inkubasi selama 15 menit
10. Diambil
sampel yang telah diinkubasi sebanyak 1 tetes menggunakan pipet tetes.
11. Di
teteskan pada objek glass
12. Dibuat
apusan dan keringkan
13. Dibaca
hasilnya dengan lapang pandang 100x
D.
Pasca
Analitik
1. Dewasa : 0.5 - 1.5 %
2. Bayi baru lahir : 2.5 - 6.5 %
3. Bayi
: 0.5 - 3.5 %
4. Anak : 0.5 - 2.0 %
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

Pada praktikum Hematologi III dilakukan pemeriksaan retikulosit
dilaboratorium kimia gedung D Universitas Mega Rezky Makassar pada hari sabtu
pukul 10.00-12.00 WITA.
. Retikulosit adalah eritrosit muda yang telah
kehilangan inti tetapi masih mengandung sejumlah besar ribosom dan RNA di dalam
sitoplasmanya Retikulosit mengandung
granula yang dapat dicat dengan Briliant Cresyl Blue (BCB), lalu dibuat sediaan
apus dan jumlah retikulosit dihitung dengan mikroskop. Ribosom RNA dapat
menyerap zat warna supravital (New Methylen Blue; Briliant Cresyl Blue)
sehingga secara mikroskopis di dalam sitoplasma tampak sebagai presipitat
berwarna biru tua berjumlah dua atau lebih yang berbentuk titik atau dot,
filamen atau untaian granula.
Pemeriksaan hitung retikulosit merupakan alat
diagnostik penting, dimana retikulosit merupakan refleksi peningkatan produksi
eritrosit pada sumsum tulang. Hitung retikulosit digunakan untuk menilai ketepatan
reaksi sumsum tulang terhadap anemia.
Adapun cara kerja atau prosedur yang dilakukan untuk
pemeriksaan retikulosit yaitu pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan kemudian dibersihkan area kulit yang akan dilakukan pengambilan darah
dengan kapas alcohol setelah itu dipasang tourniquet 3-5 cm diatas area
penusukan lalu dilakukan penusukan atau memasukkan jarum kedalam pembuluh darah
vena dan dimasukkan darah kedalam tabung EDTA dan homogenkan kemudian dimasukkan
latutan BCB sebanyak 3 tetes kedalam tabung reaksi lalu dimasukkam sampel darah
sebanyak 3 tetes kedalam tabung reaksi setelah itu dihomogenkan dan di inkubasi
selama 15 menit. Langkah selanjutnya diambil
sampel yang telah diinkubasi sebanyak 1 tetes menggunakan pipet tetes. kemudian
teteskan pada objek glass setelah itu dibuat apusan tipis dan keringkan,
diteteskan oil emersi dan dibaca hasilnya dengan lapang pandang 100x. Hasilnya
yaitu ditemukan atau terdapat retikulosit dalam darah.
Kesalahan yang dapat terjadi pada pemeriksaan
retikulosit yaitu:
1. Pembuatan
apusan darah yang tidak baik, karena darah cepat menggumpal atau mongering saat
diteteskan pada kaca obyek.
2. Apusan
darah terlalu tebal sehingga mempenagaruhi sel.
3. Waktu
inkubasi campuran antara darah dan zat warna kurang lama
4. Pewarna
tidak disaring sehingga membentuk endapan pada eritrosit.
BAB
V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Retikulosit
merupakan eritrosit muda yang tidak berinti dan berasal dari proses pematangan
normoblas di sumsum tulang. Sel ini mempunyai jaringan organela basofilik yang
terdiri dari RNA (ribonucleic acid) dan protoforpirin yang dapat terwarnai biru
dengan brilliant cresyl blue (BCB) atau new methylene. Sisa RNA akan bertahan
1-2 hari setelah berada diluar sumsum tulang.
B.
Saran
Diharapkan untuk praktikum selanjutnya yaitu
diharuskan agar praktikan memahami praktium yang akan dilakukan dengan cara
kerjanya. Praktikan harus mentaati peraturan dan selalu menggunakan APD pada
saat bekerja dilaboratorium.
DAFTAR
PUSTAKA
Bakta Made, 2017, Hematologi klinik
ringkas, Jakarta, EGC.
D.A
Swastini dkk, 2016, Pemeriksaan Golongan Darah Dan Rhesus Pelajar Kelas 5
dan 6 Sekolah Dasar Didesa Taro Kecamatan Tegallalang Gianyar, Universitas
Udayana Surabaya, Jurnal Udayana Mangabdi, Vol.15, No.1
Febiyanti
Nadila dkk, 2013, Perbandingan pemeriksaan kadar hemoglobin dengan
menggunakan Metode Sahli dan Autoanalyzer pada orang normal, Bandung,
FKUKM.
Idris Sri Aprilianti, 2018, Gambaran Retikulosit
Terhadap Pemberian Obat Anti Tuberculosis (OAT) pada Pasien Tuberculosis Paru
Di Puskesmas Perumnas Kadra Kota Kendari, Kendari, Mediatory. Vol.6,No.1
Ivana Zefika Lutfi dkk, 2019, Perbedaan Jumlah
Retikulosit Sebelum dan Sesudah Pemberian Tambah Darah, Surakarta, Jurnal
Biomedika. Vol.12, No.2
Khila Novi, 2018, Mengenali Sel-sel
Darah dan Kelainan Darah. M Kiswari Rukman, 2014, Hematologi &
Transfusi, Erlangga.
Maharani Ratih Dewi dkk, 2017, Perbedaan hitung
jumlah trombosit metode
impendansi
langsung dan Barbara Brown, Semarang, FIKKUM.
Oktari
Anita dkk, 2016, Pemeriksaan Golongan Darah Sistem ABO Metode Slide Dengan
Reagen Serum Golongan Darah A, B, O, Bandung, Jurnal Teknologi
Laboratorium, Vol.5,No.2
Oktiyani Neni dkk, 2017, Akurasi Hitung Jumlah
Eritrosit Metode Manual dan Metode Otomatis, Banjarmasin, MLTJ. Vol.3, No.2
Setyawati dkk, 2007, Hubungan Antara Indeks
Produksi Retikulosit (IPR) dengan Red Blood Cell Distribution Width (RDW) Pada
Klasifikasi Anemia Berdasarkan Defek Fungsional, Yogyakarta Jurnal
Kedokteran Yarsi. Vol.16, No.1
Suega Ketut, 2010, Aplikasi Klinis Retikulosit,
Rsup Sanglah, J peny Dalam. Vol.11, No.3
Sugari Ni Wayan dkk, 2014, Perbedaan Hasil Laju
Endap Darah Metode Westergreen dengan Automatik foller 20, Bali, Meditory.
Vol. 2, No.1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar