Minggu, 03 Mei 2020

LAPORAN PEMERIKSAAN RETIKULOSIT


“LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI III
“PEMERIKSAAN RETIKULOSIT”



            NAMA                        : ADHA NIAR
            NIM                            : 18 3145 353 121
            KELAS                       : 2018 C




PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FAMASI,TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGA REZKY
MAKASSAR
                                                              2020



LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktikum            : Pemeriksaan Retikulosit
Nama                           : Adha Niar
NIM                            : 18 3145 353 121
Hari/tanggal                : Selasa, 14 April 2020
           



     Penilaian                          :



Makassar, 02 Mei 2020
         


       Dosen Pembimbing                                                          Praktikan
                                                                                               






Arlitha DekaYana, S.Si.,M.Kes                                               Adha Niar        .
       NIDN: 09 3012 87 02                                              Nim:18 3145 353 121
          
                                                                                   
                                                                       






BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup, mulai dari binatang primitive sampai manusia, dalam keadaan fisiologik darah selalu berada dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai pembawa oksigen (oxygen carrier) ; mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi dan mekanisme hemostasis darah. (Made, 2017)
Darah adalah suatu subtansi cair yang terus-menerus beredar berfungsi menyediakan nutrisi, oksigen dan pertukaran racun pada tubuh. Darah sebagian besar terdiri atas cairan dengan berbagai sel dan protein yang tersubstansi didalamnya sehingga darah lebih kental dan air murni. Sekitar dari volume darah terdiri dari sel darah merah, yang membawa oksigen ke jaringan. (Nadila dkk, 2013)
Pemeriksaan hemetologi merupakan salah satu pemeriksaan yang dapat dipakai sebagai penunjang diagnosis berkaitan dengan terapi dan prognosis. Untuk mendapatkan diagnosis tepat siperlukan hasil yang teliti dan cepat. Dalam perkembangannya, berbagai tes laboratorik untuk diagnosis mengalami perbaikan dan kemajuan dalam menunjang pelayanan kesehatan yang efisien, teliti dan cepat, dimana salah satunya ialah tes laju endap darah. (Ni Wayan dkk, 2014)
Retikulosit adalah sel darah merah (SDM) yang masih muda yang tidak berinti dan berasal dari proses pematangan normoblast di sumsum tulang. Retikulosit biasanya berada di darah selama 24 jam sebelum mengeluarkan sisa RNA dan menjadi sel darah merah5 . Hitung retikulosit pada pasien tanpa anemia berkisar antara 1-2%. Jumlah ini penting karena dapat digunakan sebagai indikator produktivitas dan aktivitas eritropoesis di sumsum tulang dan membantu untuk menentukan klasifikasi anemia sebagai hiperproliferatif, normoproliferatif atau hipoproliferatif.
Oleh karena itu dilakukan pemeriksaan untuk megetahui dan mengukur jumlah sel darah merah muda dalam volume  darah tertentu.
B.     Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui dan mengukur jumlah sel darah merah muda dalam volume darah tertentu.

























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Darah adalah jaringan tubuh yang berbeda dengan jaringan tubuh lain, berada dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sistem tertutup yang dinamakan sebagai pembuluh darah dan berfungsi sebagai sarana transpor, alat homeostasis dan alat pertahanan. Darah dibagi menjadi dua bagian yaitu sel darah dan cairan darah. Sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (lekosit) dan keping sel (trombosit). Cairan darah yang terpisah dari sel darah yaitu plasma atau serum, (Dewi dkk, 2017)
Darah merupakan salah satu komponen paling penting yang ada dalam tubuh, mengingat fungsinya sebagai alat transportasi. Kekurangan darah di dalam tubuh dapat memacu sejumlah penyakit dimulai dari anemia, hipotensi, serangan jantung, dan beberapa penyakit lainnya. (Swastini D.A dkk, 2016)
Komponen darah manusia secara terinci terdiri atas:
1.      Sel-sel darah , meliputi:
a.     Eritrosit (sel darah merah)
b.    Leukosit (sel darah putih
c.     Trombosit (keeping darah)
Plasma darah, merupakan komponen cairan yang mejngandung berbagai nutrisi maupun subtansi penting lainnya yang diperlukan oleh tubuh manusia, antara lain protein albumin, globulin, factor-faktor pembekuan darah, dan berbagai macam elektolit natrium (Na+), kalium (K+), klorida (Cl-), magnesium (Mg+), hormone, dan sebagainya, (Novi, 2018)
Serum merupakan cairan darah yang berwarna kuning. Didalam serum terdapat dua protein yaitu albumin dan globullin. Antibodi berada di dalam serum dikarenakan Antibodi golongan darah merupakan protein globulin, yang bertanggung jawab sebagai kekebalan tubuh alamiah untuk melawan antigen asing. Komposisi serum sama dengan plasma yaitu 91% air, 8% protein, dan 0,9% mineral. Akan tetapi didalam serum tidak ada faktor pembekuan (fibrinogen). Dikarenakan serum tidak diberi anti koagulan, fibrinogen dapat diubah menjadi benang – benang fibrin sehingga terjadi pembekuan darah. Dimana antikoagulan ini mengikat kalsium sebagai faktor pembekuan sehingga fibrinogen tidak di ubah menjadi benang – benang fibrin. (Oktari Anita dkk, 2016)
Sel darah merah atau eritrosit merupakan sel darah dengan jumlah yang paling banyak dengan tubuh manusia. fungsi utama eritrosit adalah mengangkut oksigen dan mengangkut oksigen dan mengantarkannya ke sel-sel tubuh. Hitung jumlah eritrosit merupakan salah satu parameter hematologi yang ditentukan guna membantu menegakkan diagnosis, menunjang diagnosis, membuat diagnosis banding, memantau perjalanan penyakit, menilai beratnya sakit dan menentukan prognosis. (Neni dkk, 2017)
Retikulosit adalah sel darah merah (SDM) yang masih muda yang tidak berinti dan berasal dari proses pematangan normoblas di sum-sum tulang. Sel ini mempunyai jaringan organela basofilik yang terdiri dari RNA dan protoforpirin yang dapat berupa endapan dan berwarna biru apabila dicat dengan pengecatan biru metilin. Retikulosit akan masuk ke sirkulasi darah tepid dan bertahan kurang lebih selama 24 jam sebelum akhirnya mengalami pematangan menjadi eritrosit. (Ketut, 2010)
Retikulosit yang sangat muda (imatur) adalah retikulosit yang dilepaskan ke darah tepi akibat adanya rangsangan akibat anemia dan hal ini disebut stressed reticulocyte. Retikulosit jenis ini mempunyai masa hidup invivo yang lebih pendek apabila ditransfusikan kedalam resipien normal dan secara umum dianggap sel ini tidak normal karena tidak melalui perkembangan sel yang normal sampai ke divisi terminal dari perkembangan retikulosit. (Ketut, 2010)
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal. Faktor-faktor penyebab anemia gizi besi adalah status gizi yang dipengaruhi oleh pola makanan, sosial ekonomi, lingkungan dan status kesehatan. Selain itu penyebab anemia gizi besi dipengaruhi oleh kebutuhan tubuh yang meningkat, akibat mengidap penyakit kronis dan kehilangan darah karena menstruasi dan infeksi parasit cacing. Kekurangan zat besi menimbulkan gangguan atau hambatan dalam pertumbuhan baik sel tubuh maupun sel otak dan menyebabkan penurunan daya tahan tubuh. Hingga saat ini pencegahan dan penanggulangan anemia yang telah dilakukan ditujukan khususnya pada ibu hamil sedangkan pada remaja putri jarang diperhatikan. Anemia dapat dicegah maka konsumsi makanan yang kaya zat besi perlu dilakukan dan juga diimbangi dengan pemberian tablet zat besi (Fe). (Zefika dkk, 2019)
Pemeriksaan hitung retikulosit merupakan alat diagnostik penting, dimana retikulosit merupakan refleksi peningkatan produksi eritrosit pada sumsum tulang. Hitung retikulosit digunakan untuk menilai ketepatan reaksi sumsum tulang terhadap anemia. Retikulosit adalah eritrosit muda yang telah kehilangan inti tetapi masih mengandung sejumlah besar ribosom dan RNA di dalam sitoplasmanya  Retikulosit mengandung granula yang dapat dicat dengan Briliant Cresyl Blue (BCB), lalu dibuat sediaan apus dan jumlah retikulosit dihitung dengan mikroskop. Ribosom RNA dapat menyerap zat warna supravital (New Methylen Blue; Briliant Cresyl Blue) sehingga secara mikroskopis di dalam sitoplasma tampak sebagai presipitat berwarna biru tua berjumlah dua atau lebih yang berbentuk titik atau dot, filamen atau untaian granula. Retikulosit terdapat baik di sumsum tulang maupun darah tepi. Pematangan di sumsum tulang memerlukan waktu kurang lebih 2-3 hari, sesudah itu dilepas ke darah tepi. Hitung retikulosit dalam persen menunjukkan jumlah retikulosit terhitung per 1000 eritrosit dibagi 10. Nilai normal hitung retikulosit dewasa adalah 0,5 – 1,5 per 100 eritrosit atau 0,5 – 1,5% dan nilai normal hitung retikulosit bayi baru lahir adalah 2 – 6%. Jumlah absolut retikulosit adalah 50 – 100 x 109/L. (Setyawati dkk, 2007)
Penurunan jumlah retikulosit terdapat pada anemia aplastik dan pada kondisi sumsum tulang tidak memproduksi eritrosit. Peningkatan jumlah retikulosit terdapat pada anemia, penderita Anemia Defisiensi Besi (ADB) yang mendapat terapi besi, talasemia, anemia sideroblastik, dan kehilangan darah akut atau kronis. Penghitungan jumlah retikulosit seharusnya menggambarkan jumlah total eritrosit tanpa memperhatikan konsentrasi eritrosit, tapi kenyataannya tidak demikian. Gambaran produksi retikulosit yang sebenarnya didapatkan dengan mengoreksi hitung retikulosit. Cara yang dipakai untuk melakukan koreksi terhadap hitung retikulosit adalah membagi hematokrit pasien dengan hematokrit individu normal dikalikan dengan jumlah retikulosit dalam persen. Nilai ini dikenal sebagai koreksi pertama atau persentasi retikulosit terkoreksi. (Setyawati dkk, 2007)


























 BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
1.      Waktu
Adapun waktu dilakukannya praktikum pemeriksaan darah rutin yaitu:
Hari          : Selasa
Tanggal    : 28 April 2020
Waktu      :  10.00-12.00 WITA
2.      Tempat
Adapun tempat dilakukannya praktikum ini yaitu di Laboratorium Kimia DIV Teknologi Laboratorium Medis Lantai 1 Gedung D Universitas Mega Rezky Makassar.
B.     Pra Analitik
Persiapan pasien : tidak memerlukan persiapan khusus
Persiapan sampel : Sampel EDTA sebaiknya tes dilakukan selambatnya 2 jam
1.      Prinsip Kerja : Setelah eritrosit muda kehilangan intinya, ada sedikit sisa RNA pada sel darah merah dan sel itu disebut retikulosit untuk mengetahui adanya RNA maka sel darah merah harus diperiksa pada saat masih hidup (vital) sehingga proses pengecetan ini disebut pengecatan supravital
Alat dan Bahan
1.      Alat :
a.       Tabung reaksi
b.      Rak tabung
c.       Pipet tetes
d.      Objek glass
e.       Deck glass
f.       Tourniquet
2.      Bahan :
a.       Sampel darah EDTA
b.      Larutan BCB
c.       Spuit
d.      Tissue
e.       Kapas alkohol
C.    Prosedur Kerja
1.      Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.      Dibersihkan area kulit yang akan dilakukan pengambilan darah dengan kapas alkohol
3.      Dipasang tourniquet 3-5 cm diatas area penusukan
4.      Dilakukan penusukan atau memasukkan jarum kedalam pembuluh darah vena
5.      Dimasukkan darah kedalam tabung EDTA dan homogenkan
6.      Dimasukkan latutan BCB sebanyak 3 tetes kedalam tabung reaksi
7.      Dimasukkam sampel darah sebanyak 3 tetes kedalam tabung reaksi
8.      Dihomogenkan
9.      Di inkubasi selama  15 menit
10.  Diambil sampel yang telah diinkubasi sebanyak 1 tetes menggunakan pipet tetes.
11.  Di teteskan pada objek glass
12.  Dibuat apusan dan keringkan
13.  Dibaca hasilnya dengan lapang pandang 100x
D.    Pasca Analitik
1.      Dewasa : 0.5 - 1.5 %
2.      Bayi baru lahir : 2.5 - 6.5 %
3.        Bayi : 0.5 - 3.5 %
4.      Anak : 0.5 - 2.0 %



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
             
Pada praktikum Hematologi III dilakukan pemeriksaan retikulosit dilaboratorium kimia gedung D Universitas Mega Rezky Makassar pada hari sabtu pukul 10.00-12.00 WITA.
. Retikulosit adalah eritrosit muda yang telah kehilangan inti tetapi masih mengandung sejumlah besar ribosom dan RNA di dalam sitoplasmanya  Retikulosit mengandung granula yang dapat dicat dengan Briliant Cresyl Blue (BCB), lalu dibuat sediaan apus dan jumlah retikulosit dihitung dengan mikroskop. Ribosom RNA dapat menyerap zat warna supravital (New Methylen Blue; Briliant Cresyl Blue) sehingga secara mikroskopis di dalam sitoplasma tampak sebagai presipitat berwarna biru tua berjumlah dua atau lebih yang berbentuk titik atau dot, filamen atau untaian granula.
Pemeriksaan hitung retikulosit merupakan alat diagnostik penting, dimana retikulosit merupakan refleksi peningkatan produksi eritrosit pada sumsum tulang. Hitung retikulosit digunakan untuk menilai ketepatan reaksi sumsum tulang terhadap anemia.
Adapun cara kerja atau prosedur yang dilakukan untuk pemeriksaan retikulosit yaitu pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan kemudian dibersihkan area kulit yang akan dilakukan pengambilan darah dengan kapas alcohol setelah itu dipasang tourniquet 3-5 cm diatas area penusukan lalu dilakukan penusukan atau memasukkan jarum kedalam pembuluh darah vena dan dimasukkan darah kedalam tabung EDTA dan homogenkan kemudian dimasukkan latutan BCB sebanyak 3 tetes kedalam tabung reaksi lalu dimasukkam sampel darah sebanyak 3 tetes kedalam tabung reaksi setelah itu dihomogenkan dan di inkubasi selama  15 menit. Langkah selanjutnya diambil sampel yang telah diinkubasi sebanyak 1 tetes menggunakan pipet tetes. kemudian teteskan pada objek glass setelah itu dibuat apusan tipis dan keringkan, diteteskan oil emersi dan dibaca hasilnya dengan lapang pandang 100x. Hasilnya yaitu ditemukan atau terdapat retikulosit dalam darah.
Kesalahan yang dapat terjadi pada pemeriksaan retikulosit yaitu:
1.      Pembuatan apusan darah yang tidak baik, karena darah cepat menggumpal atau mongering saat diteteskan pada kaca obyek.
2.      Apusan darah terlalu tebal sehingga mempenagaruhi sel.
3.      Waktu inkubasi campuran antara darah dan zat warna kurang lama
4.      Pewarna tidak disaring sehingga membentuk endapan pada eritrosit.











BAB V
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Retikulosit merupakan eritrosit muda yang tidak berinti dan berasal dari proses pematangan normoblas di sumsum tulang. Sel ini mempunyai jaringan organela basofilik yang terdiri dari RNA (ribonucleic acid) dan protoforpirin yang dapat terwarnai biru dengan brilliant cresyl blue (BCB) atau new methylene. Sisa RNA akan bertahan 1-2 hari setelah berada diluar sumsum tulang.
B.       Saran
Diharapkan untuk praktikum selanjutnya yaitu diharuskan agar praktikan memahami praktium yang akan dilakukan dengan cara kerjanya. Praktikan harus mentaati peraturan dan selalu menggunakan APD pada saat bekerja dilaboratorium.

















DAFTAR PUSTAKA
Bakta Made, 2017, Hematologi klinik ringkas, Jakarta, EGC.
D.A Swastini dkk, 2016, Pemeriksaan Golongan Darah Dan Rhesus Pelajar Kelas 5 dan 6 Sekolah Dasar Didesa Taro Kecamatan Tegallalang Gianyar, Universitas Udayana Surabaya, Jurnal Udayana Mangabdi, Vol.15, No.1

Febiyanti Nadila dkk, 2013, Perbandingan pemeriksaan kadar hemoglobin dengan menggunakan Metode Sahli dan Autoanalyzer pada orang normal, Bandung, FKUKM.

Idris Sri Aprilianti, 2018, Gambaran Retikulosit Terhadap Pemberian Obat Anti Tuberculosis (OAT) pada Pasien Tuberculosis Paru Di Puskesmas Perumnas Kadra Kota Kendari, Kendari, Mediatory. Vol.6,No.1
Ivana Zefika Lutfi dkk, 2019, Perbedaan Jumlah Retikulosit Sebelum dan Sesudah Pemberian Tambah Darah, Surakarta, Jurnal Biomedika. Vol.12, No.2
Khila Novi, 2018, Mengenali Sel-sel Darah dan Kelainan Darah. M Kiswari Rukman, 2014, Hematologi & Transfusi, Erlangga.

Maharani Ratih Dewi dkk, 2017, Perbedaan hitung jumlah trombosit metode
impendansi langsung dan Barbara Brown, Semarang, FIKKUM.

Oktari Anita dkk, 2016, Pemeriksaan Golongan Darah Sistem ABO Metode Slide Dengan Reagen Serum Golongan Darah A, B, O, Bandung, Jurnal Teknologi Laboratorium, Vol.5,No.2

Oktiyani Neni dkk, 2017, Akurasi Hitung Jumlah Eritrosit Metode Manual dan Metode Otomatis, Banjarmasin, MLTJ. Vol.3, No.2
Setyawati dkk, 2007, Hubungan Antara Indeks Produksi Retikulosit (IPR) dengan Red Blood Cell Distribution Width (RDW) Pada Klasifikasi Anemia Berdasarkan Defek Fungsional, Yogyakarta Jurnal Kedokteran Yarsi. Vol.16, No.1
Suega Ketut, 2010, Aplikasi Klinis Retikulosit, Rsup Sanglah, J peny Dalam. Vol.11, No.3
Sugari Ni Wayan dkk, 2014, Perbedaan Hasil Laju Endap Darah Metode Westergreen dengan Automatik foller 20, Bali, Meditory. Vol. 2, No.1


Tidak ada komentar:

Posting Komentar