Jumat, 03 April 2020

Metode Penegakan Diagnosis Anemia

METODE PENEGAKAN DIAGNOSA ANEMIA




OLEH
NAMA : ADHA NIAR
NIM : 18 3145 353 121
KELAS : 2018 C


PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGA REZKY
 MAKASSAR
2020

DAFTAR ISI
Sampul
 Daftar Isi
A. Tes Saring
a. Tes Darah Rutin
B. Tes Diagnostik
a. Tes Apusan Darah Tepi
b. Tes Hitung Retikulosit
c. Tes Fe Serum dan TIBC
d. Tes Coomb’s e. Tes Elektroforesis Hemoglobin
f. Evaluasi Sumsum Tulang g. Tes Kadar Asam Folat/ Vitamin B12/ Plasma

















TES SARING
 Tes Darah Rutin
1. Pra Analitik
Persiapan pasien : Tidak ada persiapan pasien
Persiapan sampel : Darah EDTA 10 %
Prinsip : Impedance berupa larutan elektrolit (diluent) yang telah di campur dengan sel-sel darah melalui aperture, hambatan antara kedua elektroda tersebut akan naik sesaat dan terjadi perubahan tegangan yang sangat kecil sesuai dengan nilai tahanannya.
Alat
Hematology Analyser
Tabung reaksi
Rak Tabung
Darah EDTA 10 %
Metode volumetric impedance
2. Analitik
a. Disiapkan alat dan bahan yang akan di gunakan
b. Dihidupkan UPS, kemudian ditekan main power yang terletak pada bagian belakang alat sehingga lampu indikator main power menyala.
c. Ditekan tombol power yang terdapat pada bagian depan alat, alat secara otomatis melakukan cleaning dan priming
d. Ditunggu sampai alat siap digunakan
e. Dimasukkan data pasien pada computer/display lalu di kirim data tersebut ke alat
f. Dipastikan darah tidak menggumpal pada tabung dan masukkan sampel pad arak tabung sesuai data pasien yang telah di input. Kemudian tekan tombol start dan akan dilakukan analisa oleh alat
g. Hasil akan dikeluarkan dalam bentuk print out.
3. Pasca Analitik
    Nilai Rujukan
a. Hemoglobin
1) Laki-laki : 12-16 gr/dl
2) Perempuan : 14-18 gr/dl
b. Leukosit : 3.500-10.500/ml
c. Jenis-jenis leukosit
1) Eosinofil : 1-3 %
2) Basophil : 0-1 %
3) Netrofil Batang : 2-6 %
4) Segmen : 50-70 %
5) Limfosit : 20-40 %
6) Monosit : 2-8 %
d. Trombosit : 150.000-400.000/µl
e. Eritrosit
1) Laki-laki : 4.5-6.0 juta/µl
2) Perempau : 4.0-5.0 juta/µl
f. Hematokrit
1) Laki-laki : 42% - 52%
2) Perempuan : 36% -46%
g. Laju Endap Darah
1) Laki-laki : 0-20 mm/jam
2) Perempuan : 0-15 mm/jam
h. MCV (Mean Corpuscular Volume) : 82-92 fl 1) 82-92 = Normositik 2) < 82 = Mikrositik 3) >92 = Makrositik
i. MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) : 32-37% 1) < 32 = Hipokromik 2) > 32 = Normokromik
j. MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) : 27-32 pg 1) 27-32 = Normositik 2) < 27 = Hipokromik
k. Retikulosit : 0,5 - 1,5%
B. TES DIAGNOSTIK
Tes Apusan Darah Tepi
1. Pra Analitik
a. Persiapan pasien: tidak memerlukan persiapan khusus
b. Persiapan sampel, Darah kapiler segar akan memberikan morfologi dan hasil pewarnaan yang optimal pada sediaan apus, Darah EDTA (etilen diamin tetra asetat). EDTA dapat dipakai karena tidak berpengaruh terhadap morfologi eritrosit dan lekosit serta mencegah trombosit bergumpal. Tes sebaiknya dilakukan dalam waktu kurang dari 2 jam. Tiap 1 ml EDTA digunakan untuk 1 ml darah vena.
 c. Prinsip tes: Prinsip sediaan apus: dibuat apusan darah pada kaca objek. Prinsip pewarnaan didasarkan pada sifat kimiawi dalam sel. Zat warna yang bersifat asam akan bereaksi dengan komponen sel yang bersifat alkalis, demikian pula sebaliknya. Pewarnaan sediaan apus menggunakan prinsip Romanosky yaitu menggunakan dua zat warna yang berbeda yang terdiri dari Azure B (trimethylthionin)yang bersifat basa dan eosin Y (tetrabromoflourescein) yang bersifat asam seperti yang dianjurkan oleh The International Council for Standardization in Hematology, dan pewarnaan yang dianjurkan adalah Wright-Giemsa dan May Grunwald-Giemsa (MGG).
d.  Alat
1) Kaca Objek 25x75 mm
2) Batang gelas
3) Rak kaca objek
4) Pipet Pasteur
e.  Bahan/reagen :
1) Metanol absolut dengan kadar air kurang dari 4%, disimpan dalam botol yang tertutup rapat untuk mencegah masuknya uap air dari udara
2) Zat warna Wright Zat warna Wright ………….. 1 gr Methanol absolut …………….600 ml Penambahan alkohol sedikit demi sedikit, sambil dikocok dengan baik dengan bantuan 10–20 butir gelas. Tutup rapat untuk mencegah penguapan dan disimpan ditempat yang gelap selama 2 – 3 mg, dengan sering-sering dikocok, saring sebelum dipakai.
3) Larutan dapar pH 6,4 Na2HPO4 2,56 g KH2PO4 6,63 g Air Suling 1 L Sebagai pengganti larutan dapar, dapat dipakai air suling yang pHnya diatur dengan penambahan tetes demi tetes larutan kalium bikarbonat 1% atau larutan HCl 1% sampai indikator Brom Thymol Blue (larutan 0,04% dalam air suling) yang ditambahkan mencapai warna biru.
4) Zat warna giemza Zat warna giemza 1 gr Methanol absolut 10 ml Hangatkan campuran ini sampai 50°C dan biarkan selama 15 menit, kemudian disaring. Sebelum dipakai, campuran ini diencerkan sebanyak 20 x dengan larutan dapar pH 6,6. Untuk mencari parasit malaria, dianjurkan menggunakan larutan dapar pH 7,2 5) Zat warna May – Grunwald Methylene blue dalam methanol 1% eosin 1% methylene blue
2. Analitik
a. Cara Membuat Sediaan Apus
1) Dipilih kaca objek yang bertepi rata untuk digunakan sebagai „kaca penghapus‟ sudut kaca objek yang dipatahkan, menurut garis diagonal untuk dapat menghasilkan sedian apus darah yang tidak mencapai tepi kaca objek
2) Satu tetes kecil darah diletakkan pada ± 2 –3 mm dari ujung kaca objek. Kaca penghapus diletakkan dengan sudut 30 – 45 derajat terhadap kaca objek didepan tetes darah.
3) Kaca pengapus ditarik ke belakang sehingga tetes darah, ditunggu sampai darah menyebar pada sudut tersebut.
4) Dengan gerak yang mantap, kaca penghapus didorong sehingga terbentuk apusan darah sepanjang 3 – 4 cm pada kaca objek. Darah harus habis sebelum kaca penghapus mencapai ujung lain dari kaca objek. Apusan darah tidak bolah terlalu tipis atau terlalu tebal, ketebalan ini dapat diatur dengan mengubah sudut antara kedua kaca objek dan kecepatan menggeser. Makin besar sudut atau makin cepat menggeser, maka makin tipis apusan darah yang dihasilkan.
5) Apusan darah dibiarkan mengering di udara. Identitas pasien ditulis pada bagian tebal apusan dengan pensil kaca.
b. Cara Mewarnai Sediaan Apus
1) Pewarnaan Wright
a)  Letakkan sediaan apus pada dua batang gelas
b)  Fiksasi sediaan apus dengan metanol absolut 2 – 3 menit.
c)  Genangi sediaan apus dengan zat warna Wright biarkan 3 – 5 menit.
d) Tambahkan larutan dapar tercampur rata dengan zat warna. Biarkan selama 5 – 10 menit.
e) Bilas dengan air ledeng, mula-mula dengan aliran lambat kemudian lebih kuat dengan tujuan menghilangkan semua kelebihan zat warna. Letakkan sediaan hapus dalam rak dalam posisi tegak dan biarkan mengering.
2) Pewarnaan Giemsa
a) Letakkan sediaan apus pada dua batang gelas di atas bak tempat pewarnaan.
b) Fiksasi sediaan apus dengan metanol absolut 2 – 3 menit.
c) Genangi sediaan apus dengan zat warna Giemsa yang baru diencerkan. Larutan Giemsa yang dipakai adalah 5%, diencerkan dulu dengan larutan dapar. Biarkan selama 20 – 30 menit.
d) Bilas dengan air ledeng, mula-mula dengan aliran lambat kemudian lebih kuat dengan tujuan menghilangkan semua kelebihan zat warna. Letakkan sediaan hapus dalam rak dalam posisi tegak dan biarkan mengering.
3) Pewarnaan May Grunwald – Giemsa (MGG)
a) Letakkan sediaan apus yang telah difiksasi diatas rak pewarnaan
b) Genangi sediaan apus dengan zat warna May Grunwald yang telah siap pakai, biarkan 2 menit
c) Tambahkan larutan buffer pH 6.4 sama banyak dengan larutan MGG yang telah diberikan sebelumnya. Tiup agar larutan dapat tercampur rata dengan zat warna. Biarkan selama 2 menit
d) Bilas dengan air (buang kelebihan zat warna)
e) Genangi dengan larutan Giemsa 5% (larutan buffer pH 6.4 10 ml + Giemsa 0,5 ml) biarkan selama 10-15 menit.
f) Bilas dengan air ledeng , mula-mula dengan aliran lambat kemudian lebih kuat dengan tujuan menghilangkan semua kelebihan zat warna. Letakkan sedian dalam sikap vertikal dan biarkan mengering sendiri.
c. Nilai Rujukan
1) Eritrosit
a)  Ukuran (size): ( Diameter eritrosit yang normal (normositik) adalah 6 – 8 μm atau kurang lebih sama dengan inti limfosit kecil
b) Bentuk (shape) ( Bentuknya bikonkaf bundar dimana bagian tepi lebih merah daripada bagian sentralnya
c) Warna (staining) ( Bagian sentral lebih pucat disebut akromia sentral yang luasnya antara 1/3 -1/2 kali diameter eritrosit
d) Benda-benda inklusi (structure intracel)
e) Distribusi : merata 2) Leukosit Leukosit adalah sel berinti. Dalam darah tepi yang paling banyak ditemukan adalah sel polimorfonuklear netrofil (PMN). Jenis lekosit yang normal yang ditemukan dalam darah tepi adalah eosinofil (1% - 3%), bisafil (0-1%), netrofil batang (2%-6%), netrofil segmen atau sel PMN (50%-70%), limfosit (20%-40%) dan monosit (2%-8%). Dalam keadaan normal diperkirakan terdapat 1 lekosit per 500 eritrosit
3) Trombosit Diameter trombosit adalah 1-3 μm, tidak berinti, mempunyai granula dan bentuknya reguler. Perkiraan jumlah trombosit dalam keadaan normal diperkirakan terdapat 1 trombosit per 15 – 20 eritrosit atau 5 – 15 per lapangan pandang imersie
3. Pasca Analitik
a. Eritrosit
1) Dengan pemeriksaan ini dapat ditemukan berdasarkan morfologi yakni
Anemia Mikrositik Hipokrom misalnya pada penderita defisiensi Fe.
Anemia Normositik Normokrom misalnya pada pendarahan akut.
Anemia Mikrositik misalnya pada defisiensi Vit. B12 dan asam folat.
Bentuk eritrosit hemolisis :
Morfologi secara umum adalah polikromatofilik, makrosit, dan sel eritrosit berinti. Bentuk morfologi khusus bervariasi tergantung etiologi kerusakan eritrosit
Akantosit pada abetalipoproteinemia, sirosis, uremia, Haemolytic Uremic Syndrome (HUS), anemia hemolitik.
Ekinosit pada abetalipoproteinemia, sirosis, uremia HUS,
Sel Target pada Hb C atau E, penyakit hati, ikterus obstruktif, talasemia, pasca splenektomi.
Sel tetes Air Mata pada mielofibrosis, talasemia, anemia hemolitik, mieloftisis.
Sickle Cell pada sickle cell anemia.
Sferosit pada hemolisis didapat maupun herediter. Ovalosit pada ovalositosis herediter.
Sistosit pada talasemia, anemia hemolitik, mikroangiopati.
Distribusi abnormal eritrosit
Rouleaux formation pada multipel mieloma, makroglobulinemia Waldenstorm. Benda-benda inklusi dalam eritrosit
Normoblast pada pendarahan akut, hemolisis berat mielofibrosis, asplenia, leukemia, mieloftsis.
Basophilic Stippling anemia sindroma Mielodisplasia.
Howell Jolly Bodies pada anemia megaloblastik, asplenia, hemolisis berat.
Cabot’s, Ring pada hemolisis berat.
Heinz Bodies pada talasemia, anemia hemolitik karena obat, leukemia
Parasit : plasmodium malaria, biasanya disertai dengan tandatanda hemolitik.
b. Leukosit Pada APK ditemukan tanda infeksi seperti persentase jumlah netrofil, limfosis meningkat, hipersegmentasi, granulasitoksis, dan vakuolisasi sitoplasma.
c. Trombosit
1) Trombositosis dapat ditemukan pada Mieloproliferatif, pendarahan akut, infeksi, penyakit inflamasi, Hodgkin, trombosis vena, post splenektomi.
2) Trombositopenia dapat ditemukan pada Radiasi eritroleukimia, anemia megaloblastik, giant hemangioma,Thrombotic Purpura (TTP), Disseminated Intravasucular Coagulation (DIC), purpura trombositopenia karena obat, pasca tranfusi, SLE, Immunologic, Thrombocytopenia Purpura (ITP) Trombosit besar dapat ditemukan pada: May Hegglin anomaly, Sindroma Mielodisplasia, AML.
Hitung Retikulosit
Retikulosit adalah eritrosit muda yang sitoplasmanya mengandung sisa-sisa ribosom dan RNA yang berasal dari sisa inti. Ribosom mempunyai kemampuan untuk bereaksi dengan cat tertentu seperti Brilliant Cresyl blue atau New Methylene blue untuk membentuk endapan granula atau filament yang berwarna biru. Reaksi ini hanya terjadi pada pewarnaan terhadap sel yang masih hidup dan tidak difiksasi, oleh karena itu disebut pewarnaan supravital. Retikulosit paling muda (immature) mengandung ribosom terbanyak, sebaliknya retikulosit tua hanya mempunyai beberapa titik ribosom. Banyak retikulosit dalam darah tepi menggambarkan aktivitas eritropoesis yang hampir akurat. Hitung retikulosit dinyatakan sebagai persentasi jumlah retikulosit per 100 ertrosit.
Pra Analitik
Persiapan pasien
Persiapan sampel
Prinsip : Darah dicampur dengan larutan, Brilliant Cresyl Blue atau larutan New Methylene Blue, lalu dibuat sediaan. Dan jumlah retikulositnya dihitung dibawah mikroskop. Jumlah retikulosit dihitung per 1000 eritrosit dan dinyatakan dalam %
Alat dan Bahan
Tabung reaksi kecil
Kaca objek dan kaca penggeser
Pipet Pasteur
Penangas air
Mikroskop.
REAGENS
Brilliant Cresyl Blue atau
New Methylene Blue (Colour Index 52030)………… 1g
Larutan sitrat salin……………………………………. 100 ml
Larutan sitrat salin dibuat dengan mencampur :
1 bagian natrium sitrat 30 g/l
4 bagian larutan Na Cl 9,0 g/l
Analitik
SEDIAAN KERING
Kedalam tabung reaksi kecil teteskan 3 tetes larutan Brilliant Cresyl Blue atau New Methylene Blue.
Tambahkan 3 tetes darah, campurkan baik-baik dan biarkan pada suhu ruangan selama 15 menit agar pewarnaa sempurna
Cara yang lain :
Setelah ditambahkan 3 tetes darah, campurkan baik-baik, tabung ditutup dengan parafilm dan diinkubasi pada 37 oC selama 30-60 menit.
Setelah inkubasi, tabung dihomogenkan lagi dan ambil 1 tetes untuk membuat sediaan apus. Keringkan diudara dan diperiksa dibawah mikroskop
Periksalah dengan perbesaran objektif 100 X.
Dicari daerah yang baik yaitu eritrosit tidak tumpang tindih. Retikulosit tampak sebagai sel yang lebih besar dari eritrosit. Dan mengandung filament atau granula. Dengan BCB, eritrosit berwarna biru keunguan dengan filament atau granula berwarna ungu.
Bila menggunakan NMB, retikulosit berwarna biru dengan filament atau granula berwarna biru tua.
Hitunglah jumlah retikulosit per 1000 eritrosit dengan lensa emersi.
Jumlah retikulosit dapat dinyatakan persen/per mil terhadap jumlah eritrosit total atau dilaporkan dalam jumlah mutiak missal :
Dalam 10 lapangan pandang dijumpai 2000 eritrosit dan retikulosit 76.
100
Jumlah retikulosit (%)       :   x 76 = 3,8 % atau 2000
1000
              X 76 = 38 permil
2000
Bila diketahui jumlah eritrosit 3,5 juta/ul maka
38
Jumlah retikulosit = x 3.500.000/ul = 133.000/µl 1000
SEDIAAN BASAH
Taruh 1 tetes larutan BCB ditengah-tengah kaca obyek.
Tambahkan 2 tetes darah dilarutan BCB, homogenkan darah dengan larutan BCB dengan menggunakan sudut kaca obyek.
Tutup dengan kaca penutup
Periksa dengan oil emersi
Cara penghitungan sama dengan sediaan kering
Jika didapatkan jumlah retikulosit yang tinggi atau disertai dengan nilai hematocrit rendah maka dilakukan koreksi terhadap nilai retikulosit.
Nilai koreksi ini disebut indeks retikulosit (Reticulocyte Production Indeks)
RP I  =  % Retikulosit x Hmt penderita x factor koreksi
      Hmt normal
Pasca Analitik
Nilai rujukan = 0,5-1,5%
Hitung retikulosit meningkat pada : perdarahan akut, hemolysis,
RP I  ˂2%  = kegagalan sum-sum tulang membentuk eritrosit.
RP I  2-3% = respons baik terhadap anemia hemolitik
RP I ˃3%   = Hiperproliferasi
Sumber Kesalahan
Volume darah yang digunakan tidak sesuai dengan volume zat warna
Zat warna tidak disaring akan mengendap di eritrosit sehingga tampak seperti retikulosit
Waktu inkubasi campuran darah dan zat warna kurang lama
Tidak menghomogenkan campuran zat warna dengan darah sebelum membuat sediaan apus
Retikulosit mempunyai berat jenis yang lebih rendah dari eritrosit sehingga berada dibagian atas dari campuran
Menghitung di daerah yang terlalu padat
Jumlah eritrosit yang dihitung tidak mencapai 1000.

Tes Fe Serum dan TIBC
1. Fe Serum
a.  Pra Analitik
1) Persiapan pasien : Pasien berhenti minum obat Fe 12 jam sebelumnya
2) Persiapan sampel : Serum, plasma heparin dan plasma EDTA
3) Prinsip : Antibodi dengan high affinity terhadap ferritin (antiferitin IgG) akan berikatan dengan feritin serum dan selanjutnya dilabel dengan enzim horseradish peroxidase dan dibaca absorbannya pada panjang gelombang 492 nm.
4)  Alat
a) Mikrotiter plate reader untuk absorbansi 492 nm
b) Kertas absorbansi
c) Mikropipet
d) Kertas grafik
 5) Bahan
a) Preparat antiferitin IgG yang di konjugasi dengan horseradish peroxidase
b) Larutan standar ferritin, dibuat dengan cara :
( Encerkan humsn ferritin 200 µg/ml ke dalam air. Encerkan larutan ferritin 200 µg/ml ke dalam 10 µg/ml dalam 0,05 mol/l larutan sodium barbitone (yang terdiri dari 0,1 mol/l NaCl, 0,02 NaN dan BSA 5 gr/dl), pH disesuaikan sampai pH 8 dengan menambahkan HCl 5 mol/l
( Bagi dalam 200 tabung kecil, masing-masing berisi 200 µl, tutup rapat dan tahan sampai 1 tahun pada suhu 40C
( Jika akan dipakai, encerkan dengan buffer B sampai 1000 µg/l dan siapkan larutan dalam range 0,2-25 µg/l
c)  Buffer A : Phosphate-buffered saline pH 7,2
d) Buffer B : 5 gram BSA (Bovine Serum Albumin) dalam 1 liter buffer A
e)  Buffer C : Carbonate buffer pH 9,6
f) Buffer D : Citrate phosphate buffer pH 5
g) Larutan substrat
6) Metode : Elisa Double Sandwich
b. Analitik
1) Lapisi microtitreplate dengan cara :
a) Preparat antiferitin IgG diencerkan dengan 2 µg/ml buffer C, tambahkan 200 µl ke dalam tiap-tiap sumuran
b) Tutup dan inkubasi semalam pada suhu 40C, kosongkan sumuran dengan cara di balik dan di tapping pada handuk kering
c) Tambahkan 200 µl 0,05% BSA dalam buffer C, diamkan 30 menit dalam suhu ruangan
d) Cuci tiap sumuran dengan buffer A sampai 3x. plate dapat di simpan sampai 1 minggu pada tempat kering dan suhu 4 0C
2) Encerkan 50 µl serum pasien dengan 1 ml buffer B
3) Tambahkan 200 µl larutan standart serum dan serum pasien ke dalam tiap sumuran dalam waktu 20 menit
4) Tutup dan diamkan selama 20 menit pada suhu kamar dan jauhkan dari sinar matahari
5) Kosongkan sumuran dan cuci 3 x dengan buffer A
6) Tambahkan 200 µl preparat konjugasi antiferitin IgG dengan horseradish peroxidase yang sudah diencerkan, tutup dan diamkan selama 2 jam pada suhu kamar
7) Cuci 3x dengan buffer A
8) Tambahkan 200 µl larutan substrat pada tiap-tiap sumuran, inkubasi selama 30 menit
9) Tambahkan 50 µl asam sulfur 4M pada tiap-tiap sumuran untuk menghentikan reaksi
10) Tunggu 30 menit dan baca absorbansinya pada 492 nm dengan microtitre plate reader, atau ambil 200 µl larutan dari tiap sumuran dan masukkan dalam 800 µl air, dan baca dengan fotometer.
c. Pasca Analitik
1) Laki-laki : 18-270 mcg/L
2) Perempuan : 18-160 mcg/L
3) Anak-anak : 7-140 mcg/L
4) Bayi usia 1-5 bulan : 50-200 mcg/L
5) Bayi baru lahir : 25-200 mcg/L
2. TIBC (Total Iron Binding Capasity)
a. Pra Analitik
1) Persiapan pasien : Pasien berhenti minum obat Fe 12 jam sebelumnya
2) Persiapan sampel : Serum, Plasma Heparin dan Plasma EDTA
3) Prinsip TIBC di evaluasi setelah saturasi transferrin oleh larutan besi, dan kelebihan besi akan di absorbansi oleh magnesium hydroxide carbonate. Setelah di sentrifus, konsentrasi besi dalam supernatant diukur.

4) Alat
a) Sentrifuge
b) Pipet tetes
c) Tabung kecil
5) Bahan
a) Reagen 1: R1 Iron saturating Solution 500 µg/dL 5 mg/L 89,5 µmol/L
b) Reagen 2: R2 Magnesium hydroxide carbonate (1 sendok takar = 100 mg)
6) Metode Saturasi
b. Analitik
1) Sampel 0,5 ml dicampurkan dengan 1 ml reagen R1, diinkubasi selama 5 menit
2) Ditambahkan 1 sendok takar (kira-kira 100 mg) reagen R2, dan inkubasi selama 20 menit, dengan sekali-kali di kocok
3) Disentrifus selama 10 meit dengan kecepatan 3000 rpm
4) Ambil supernatannya
5) Periksa supernatant seperti pada penentuan SI
Nilai rujukan
1) Laki-laki dewasa : 2,6-3,3 mg/L (46,5-69,8 µmol/L)
2) Perempuan dewasa : 2,1-3,4 mg/L (37,6-60,9 µmol/L)
c.  Pasca Analitik
Nilai Normal : 20-45%
TES COOMB’S
Tes Coomb’s diindikasi pada pasien dengan dugaan Anemia Hemolitik Autoimun (AIHA). AIHA adalah kelainan yang ditandai oleh pemendekan umur eritrosit yang disebabkan oleh adanya antibody dalam serum penderita yang bereaksi dengan eritrosit penderita itu sendiri. Autoantibodi tersebut dapat berupa immunoglobulin G (IgG) atau immunoglobulin M (IgM).
Pra Analitik
Persiapan pasien : Catat daftar obat yang sedang dikonsumsi pasien. Obat yang dapat mempengaruhi tes ini adalah : penisilin, sefalosporin, antihipertensi dan lain-lain.
Persiapan sampel : hindari sampel hemolysis, sampel darah dengan antikoagulan natrium sitrat 3,8%. Tes sebaiknya dilakukan selambatnya 2 jam.
Prinsip : penambahan serum Coomb’s (serum hewan yang mengandung antibody spesifik terhadap globulin manusia) pada eritrosit yang tersensitisasi/eritrosit yang terbungkus dengan immunoglobulin atau komplemen akan menimbulkan suatu aglutinasi.
Alat dan Bahan
Alat    : Tabung reaksi
             Pipet tetes
             Incubator
             Kaca obyek dan kaca penggeser
Bahan : Darah sitrat (1:9)
  Larutan NaCl fisiologis (0,9%)
  Reagen Coomb’s
Analitik
Sebanyak 0,5 ml darah yang diperiksa dimasukkan ke dalam tabung reaksi
Lakukan pencucian eritrosit 4 kali berturut-turut dengan setiap kali dilakukan sentrifus kemudian plasma dibuang.
Buatlah suspensi eritrosit yang tertinggal dalam tabung setelah sentrifus terakhir dengan menambah sekian banyak NaCl fisiologis sampai suspensi eritrosit mempunyai nilai hematocrit 2%
Ke dalam tabung 75x10 mm, masukkan 1 tetes suspense tadi kemudian tambahkan dengan 2 tetes reagen Coomb’s
Campur kemudian inkubasikan pada suhu 37oC selama 30-50 menit
Kocok dengan hati-hati tabung tersebut lihat adanya aglutinasi, konfirmasikan dengan menggunakan mikroskop
Jika hasilnya negative lakukan sentrifus kembali dengan 1000 rpm selama 1 menit
Periksa kembali adanya aglutinasi seperti langkah 6
Bandingkan hasil tes dengan control positif dan control negative
Nilai Rujukan : Negatif
Pasca Analitik
Terjadi aglutinasi membuktikan adanya antibody yang melapisi eritrosit. Tes Coomb’s positif ditemukan pada :
Penyakit hemolitik pada bayi baru lahir Anemia hemolitik autoimun Anemia hemolitik karena obat-obatan reaksi transfuse hemolitik.

 Tes Elektroforesis Hemoglobin
  1. Pra Analitik
a. Persiapan pasien: Tidak ada perkhusus yang diperlukan.
b. Persiapan sampel: disimpan satu minggu pada 40C.
c. Prinsip Diukur Hb yang tidak terdenaturasi dengan penambahan sodium hidroksida kemudian 4ditambahkan ammonium sulfat lalu diukur.
d. Alat
1) Spektrofotometer
2) Stopwatch
3) Pipet 1,5
4) Kertas saring whatman
5) Tabung 12x10 mm
6) Vortex mixer
7) Funnels
e. Bahan
1) Hemolisat
2) Cyanide solution
3) NaOH 1,2 N
4) Ammonium sulfat jenuh
2. Analitik
a. Masukkan 3,8 ml larutan sianida ditambah 2 ml hemolisat untuk membuat HiCN.
b. Dipindahkan ke dalam 2 tabung dimana tabung pertama sebanyak 0,4 ml HiCN dengan 6,75 ml aquadest kemudian dibaca pada panjang gelombang 540 nm sebagai A Hb total.
c. Pada tabung kedua dimasukan HiCN se4banyak 2,8 ml. biarkan 10 menit pada suhu ruang.
d. Dimasukkan 2 ml NaOH kemudian dicampur dengan vortex selama -3 detik kemudian inkubasi selama 2 menit.
e. Dimasukkan ml (NH2)2SO4 dicampur dengan vortex selama 10 detik kemudian biarkan selama 5 menit.
f. Disaring dengan kertas whatman kemudian baca pada panjang gelombang 540 nm sebagai A Hb resisten alkali. Perhitungan presentasi Hb F %Hb F= A540 Hb resisten alkali x 100 A540 Hb total x 10,01
3. Pasca Analitik
Nilai normal: 0,2-1,0%
Evaluasi Sumsum Tulang
1. Pra Analitik
a. Persiapan pasien: Diberitahukan kepada pasien langkah-langkah yang akan dilakukan, melakukan pemeriksaan darah lengkap, apusan darah tepi, faktor pembekuan darah seperti prothrombin time, INR, APTT untuk memastikan tidak ada resiko perdarahan data prosedur dilakukan.
b. Persiapan sampel: disimpan satu minggu pada 40C.
c. Prinsip Pereaksi asam-basa yang saling berikatan antara cat dengan sel darah, sesuai dengan sifat pH dari setiap sel yang terdapat pada selsel darah tersebut. Giemsa pada dasarnya merupakan gabungan dari dua macam cat yaitu methylene blue dan eosin dimana methylene blue bersifat basa akan berikatan dengan bagian sel yang bersifat asam dan memberikan warna biru sedangkan eosin yag bersifat asam akan mewarnai bagian sel yang bersifat basa.
d. Alat
1) Objek glass
2) Pipet tetes
3) Cawan petri
4) Rak tabung
5) Mikroskop
e. Bahan
1)  Sampel sumsum tulang
2) Tabung darah
3) Metanol
4)Giemsa
2. Analitik
a. Pembuatan preparat spread (sebar)
1) Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2) Letakkan objek glass di cawan petri dengan cara dimiringkan
3) Teteskan 3-4 tetes sampel sumsum tulang di atas objek glass tersebut
4) Diambil bagian fragmen menggunakan ujung objek glass yang baru
5) Buat apusan di atas objek glass yang lain
6) Keringkan kemudian fiksasi dengan methanol selama 5-10 menit
b. Pembuatan preparat squash (tekan)
1) Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2) Letakkan objek glass di cawan petri dengan cara dimiringkan
3) Teteskan 3-4 tetes sampel summsum tulang di atas objek glass tersebut
4) Letakkan di atas objek glass baru
5) Ratakan dan tekan kemudian geser secara datar sampai ujung objek glass dengan cepat
6) Keringkan kemudian fiksasi dengan methanol selama 5-10 menit
c. Pewarnaan giemsa
1) Genangi sediaan dengan larutan kerja gie4msa selama 20-30 menit
2) Sisa cat dibuang kemudian cuci dengan air mengalirKeringkan dan periksa di bawah mikroskop
3. Pasca Analitik
a. Normoselluler : Volume lemak 20% dari sel hemapoietik
b. Hyposelluler : Sel hemapoietik diganti oleh sel lemak
c. Hyperselluler : Hampir semua lemak diaganti oleh sel hemapoietik
         Tes Kadar Asam Folat/Vitamin B12 Plasma
1. Pra Analitik
a. Persiapan pasien
1) Kadar asam folat : Pasien dianjurkan puasa 12 jam
2) Vitamin B12 plasma: Tidak ada
b. Persiapan sampel : Serum, plasma heparin
c. Prinsip Menggunakan derivate dari luminol dengan peroksida dan H2O2 (atau system enzimatik lainnya yang menghasilkan H2O2 seperti oksidase glukosa atau uricase) ditambah penambah (turunan dari fenol, seperti p-iodofenol), yang meningkatkan emisi cahaya sampai 2.800 kali.
d. Alat
1) Mikropipet
2) Sentrifuge
3) Mikroplate reader set
e. Bahan
1) Serum/plasma
2) Tabung EDTA
3) Larutan Biotin Antibodi
f. Metode : Chemiluminescence
2. Analitik
a. Darah vena yang telah diperoleh kemudian dimasukkan kedalam tabung yang menggunakan EDTA
b. Untuk mendapatkan plasma, darah di sentrifuge selam 15 menit dengan kecepatan 1000xg pada suhu 2-8 0C dalam waktu 30 menit
c. Dipipet plasma pada control sebanyak 50µL, di pipet kedalam microplate. Segera tambahkan well microplate masing-masing dengan 50 µL larutan Biotin antibodi.
d. Inkubasi selama 45 menit pada suhu 370C kemudian homogenkan hingga terlihat seragam
e. Setiap well di cuci 3 kali dalam wadah buffer sebanyak 350 µL, lalu buang cairan dalam well, masing-masing well ditentukan segera dengan menggunakan microplate reader set pada panjang gelombang 450nm.
3. Pasca Analitik
a. Nilai rujukan : 300-400mcg/hari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar