Sabtu, 18 April 2020

MAKALAH THALASSEMIA

MAKALAH HEMATOLOGI III
“MEMAHAMI DEFINISI THALASSEMIADAN PENEGAKAN DIAGNOSIS BERDASARKAN TES SARING DAN TES DIAGNOSTIK”

Description: Description: C:\Users\asus\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\IMG-20190322-WA0030.jpg

OLEH :
NAMA           : ADHA NIAR
NIM                : 18 3145 353 121
KELAS          : 2018 C


PROGRAM STUDI  DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FARMASI, TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020

DAFTAR ISI
Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
1.2  Rumusan Masalah
1.3  Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Thalassemia
2.2 Klasifikasi Thalassemia
2.3 Patofisiologi Terjadinya Thalassemia
2.4 Gejala
2.5 Penyebab Thalassemia
2.6 Diagnosis Thalassemia
2.7 Pengobatan dan Pencegahan
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA






BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Thalassemia merupakan penyakit kelainan darah yang secara genetik diturunkan. Thalassemia menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di dunia khususnya di negara-negara Mediterania, Malaysia, Thailand, dan Indonesia (Wahidiyat, 2007). Kurang lebih 3% dari jumlah penduduk dunia mempunyai gen thalassemia dimana angka kejadian tertinggi sampai dengan 40% kasus adalah di Asia. Di Indonesia thalassemia merupakan penyakit terbanyak diantara golongan anemia hemolitik dengan penyebab intra korpuskuler. Thalassemia sebagai penyakit genetik yang diderita seumur hidup akan membawa banyak masalah bagi penderitanya. Mulai dari kelainan darah berupa anemia kronik akibat proses hemolysis sampai kelainan berbagai organ tubuh baik sebagai akibat penyakitnya sendiri ataupun akibat pengobatan yang diberikan. Anemia kronik yang dialami oleh anak dengan thalassemia membutuhkan transfusi darah yang berulang-ulang. Pemberian transfusi yang terus menerus ini dapat menimbulkan komplikasi hemosiderosis dan hemokromatosis, yaitu menimbulkan penimbunan zat besi dalam jaringan tubuh sehingga dapat mengakibatkan kerusakan organ-organ tubuh seperti hati, limpa, ginjal, jantung, tulang dan pankreas (Munthe, 2011). Selain itu, kondisi anemia membuat anak menjadi lemah dan terjadi penurunan nafsu makan. Berdasarkan penelitian Tienboon (2006) menemukan anak dengan thalassemia rata-rata mengalami penurunan asupan makanan dari yang direkomendasikan.
Lebih jauh, anak dengan thalassemia mengalami peningkatan energy expenditure dan penurunan beberapa vitamin dan mineral seperti vitamin A, vitamin B, asam folat, vitamin B12 dan zinc (Tienboon, 2006; Claster, 2009). Hal ini membuat anak dengan thalassemia berisiko terjadi kekurangan nutrisi atau malnutrisi. Banyaknya masalah kesehatan yang dialami anak dengan thalassemia dapat menimbulkan gangguan sosial dan emosional. Secara umum anak dengan thalassemia akan memperlihatkan gejala depresi, cemas, gangguan psikososial dan gangguan fungsi sekolah. Hal ini karena penyakit thalassemia membutuhkan perawatan yang lama dan sering di rumah sakit. Tindakan pengobatan yang diberikan juga dapat menimbulkan rasa sakit serta pikiran anak tentang masa depan yang tidak jelas. Semua kondisi ini memiliki implikasi serius bagi kesehatannya sehubungan dengan kualitas hidupnya. Penelitian yang dilakukan oleh Pakbaz dkk (2005) dengan Dartmouth Primary Care Cooperative Information Chart System Questionaire, menemukan bahwa pasien thalassemia beta mayor tidak tergantung transfusi menderita perburukan pada kualitas hidupnya.
1.2 Rumusan Masalah
      1. Apa yang dimaksud dengan Thalasemia?
      2. Bagaimana cara mengetahui klasifikasi, patofisiologi, gejala dan pengobatan Thalassemia
1.3 Tujuan
      1.    Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Thalassemia
      2. Untuk mengetahui klasifikasi, patofisiologi, gejala dan pengobatan Thalassemia
           












BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Thalasemia
Thalassemia adalah suatu gangguan darah yang diturunkan ditandai oleh defisiensi produk rantai globulin pada hemoglobin. Secara molekuler thalassemia dibedakan atas thalassemia alpha dan beta, sedangkan secara klinis dibedakan atas thalassemia mayor dan minor. Menurut Nelson (2000) thalassemia adalah sekelompok heterogen anemia hipokromik penyakit herediter dengan berbagai keparahan. Thalassemia merupakan penyakit kongenetal herediter yang diturunkan secara autosomal berdasarkan kelainan hemoglobin. Dimana satu atau rantai Hb kurang atau tidak terbentuk secara sempurna sehingga terjadi anemia hemolitik. Kelainan hemolitik ini mengakibatkan kerusakan pada sel darah merah didalam pembuluh darah sehingga umur eritrosit menjadi pendek.
Thalassemia merupakan sindrom kelainan yang diwariskan (in herited) dan masuk kedalam kelompok hemoglobin non pati, yakni kelainan yang disebabkan oleh gangguan system hemoglobin akibat mutasi didalam atau didekat gen globin. Mutasi gen globin ini dapat menimbulkan dua perubahan rantai globin, yakni perubahan struktur rangkaian asam amino acid sequence rantai globin tertentu, disebut hemoglobinopati structural, perubahan kecepatan sintetis atau kemampuan produksi rantai globin tertentu disebut thalassemia.
Thalassemia adalah penyakit yang diturunkan kepada anaknya. Anak yang mewarisi gen thalassemia dari satu orangtua dan gen normal dari orangtua yang lain adalah seorang pembawa –(carriers). Anak yang mewarisi gen thalassemia dari kedua orangtuanya akan menderita thalassemia sedang sampai berat.
2.2 Klasifikasi
          Thalassemia dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis hemoglobin yang mengalami gangguan menjadi thalassemia alfa dan beta. Sedangkan berdasarkan jumlah gen yang mengalami gangguan, Hockenberry & Wilson (2009) mengklasifikasikan thalassemia menjadi :
a.       Thalassemia minor (Trait)
Thalassemia minor merupakan keadaan yang terjadi pada seseorang yang sehat namun orang tersebut dapat mewariskan gen thalassemia pada anak-anaknya. Thalassemia trait sudah ada sejak lahir dan tetap aka nada sepanjang hidup penderita. Penderita tidak memerlukan transfuse darah dalam hidupnya.
b.      Thalassemia Intermedia
Thalassemia intermedia merupakan kondisi antara thalassemia mayor dan minor. Penderita thalassemia ini mungkin memerlukan transfuse darah secara berkala, dan penderita jenis ini dapat bertahan hidup sampai dewasa.
c.       Thalassemia Mayor
Thalassemia jenis ini sering disebut Cooly Anemia dan terjadi apabila kedua orangtua mempunyai sifat pembawa thalassemia (Carrier). Anak-anak dengan thalassemia mayor tampak normal saat lahir, tetapi akan menderita kekurangan darah pada usia 3-18 bulan. Penderita thalassemia mayor akan memerlukan transfuse darah secara berkala seumur hidupnya dan dapat meningkatkan usia hidup hingga 10-12 tahun. Namun apabila penderita tidak dirawat penderita thalassemia ini hanya bertahan hidup sampai 5-6 tahun. Thalassemia mayor biasanya menjadi bergejala sebagai anemia hemolitik kronis yang progresif selama 6 bulan kehidupan. Transfusi darah reguler diperlukan pada penderita ini untuk mencegah kelemahan yang amat dan gagal jantung yang disebabkan oleh anemia.
2.3 Patofisiologi Terjadinya Thalassemia
Mengenai dasar kelainan pada thalasemia berlaku secara umum yaitu kelainan thalasemia alfa disebabkan oleh delesi gen (terhapus karenakecelakaan gen) yang mengatur produksi tetramer globin, sedangkan pada thalasemia beta karena adanya mutasi gen tersebut.
Pada thalasemia beta produksi rantai beta terganggu, mengakibatkan kadar Hb menurun sedangkan produksi HbA2 dan atau HbF tidak terganggun karena tidak memerlukan rantai beta justru memproduksi lebih banyak dari pada keadaan normal sebagai usaha kompensasi. Kelebihan rantai globin yang tidak terpakai karena tidak ada pasangannya akan mengendap pada dinding eritrosit dan menyebabkan eritropoesis tidak efektif dan eritrosit memberi gambaran anemia hipokrom dan mikrositer.
Eritropoesis dalam sumsum tulang sangat gesit, dapat mencapai 5 kali lipat dari nilai normal. Destruksi eritrosit dan prekursornya dalam sumsum tulang adalah luas dan masa hidup eritrosit memendek serta didapat pula tanda-tanda anemia hemolitik ringan. Thalasemia dan hemoglobinopati adalah contoh khas untuk penyakit/kelainan yang bedasarkan defek/kelainan hanya satu gen.
2.4 Gejala
 Penderita thalasemia memiliki gejala yang bervariasi tergantung jenis rantai asam amino yang hilang dan jumlah kehilangannya. Penderita sebagian besar mengalami anemia yang ringan khususnya anemia hemolitik (Tamam.M. 2009). Keadaan yang berat pada beta-thalasemia mayor akan mengalami anemia karena kegagalan pembentukan sel darah, penderita tampak pucat karena kekurangan hemoglobin. Perut terlihat buncit karena hepatomegali dan splenomegali sebagai akibat terjadinya penumpukan Fe, kulit kehitaman akibat dari meningkatnya produksi Fe, juga terjadi ikterus karena produksi bilirubin meningkat. Gagal jantung disebabkan penumpukan Fe di otot jantung, deformitas tulang muka, retrakdasi pertumbuhan, penuaan dini.
2.5 Penyebab Thalassemia
1.      Gangguan genetic
Orangtua memiliki sifat carier (heterozygote) penyakit thalasemia sehingga klien memiliki gen resesif homozygo.
2.      Kelainan struktur hemoglobin
a.       Kelainan struktur globin di dalam fraksi hemoglobin. Sebagai contoh, Hb A (adult, yang normal), berbeda dengan Hb S (Hb dengan gangguan thalasemia) dimana, valin di Hb A digantikan oeh asam glutamate di Hb S.
b.      Menurut kelainan pada rantai Hb juga, thalasemia dapat dibagi menjadi 2 macam, yaitu : thalasemia alfa (penurunan sintesis rantai alfa) dan beta (penurunan sintesis rantai beta).
3.        Produksi satu atau lebih dari satu jenis rantai polipeptida terganggu. Defesiensi produksi satu atau lebih dari satu jenis rantai a dan b.
4.      Terjadi kerusakan sel darah merah (eritrosit) sehingga umur eritrosit pendek (kurang dari 100 hari).
Struktur morfologi sel sabit (thalasemia) jauh lebih rentan untuk rapuh bila dibandingkan sel darah merah biasa. Hal ini dikarenakan berulangnya pembentukan sel sabit yang kemudian kembali ke bentuk normal sehingga menyebabkan sel menjadi rapuh dan lisis.
5.      Deoksigenasi (penurunan tekanan O2)
 Eritrosit yang mengandung Hb S melewati sirkulasi lebih lambat apabila dibandingkan dengan eritrosit normal. Hal ini menyebabkan deoksigenasi (penurunan tekanan O2) lebih lambat yang akhirnya menyebabkan peningkatan produksi sel sabit.
2.6 Diagnosis Thalassemia
1.      Anamnesis
Keluhan timbul karena anemia: pucat, gangguan nafsu makan, gangguan tumbuh kembang dan perut membesar karena pembesaran lien dan hati. Pada umumnya keluh kesah ini mulai timbul pada usia 6 bulan
2.      Pemeriksaan fisis
-      Pucat
-      Bentuk muka mongoloid (facies Cooley)
-      Dapat ditemukan ikterus
-      Gangguan pertumbuhan
-      Splenomegali dan hepatomegali yang menyebabkan perut membesar
3. Pemeriksaan penunjang
a. Darah tepi :
-      Hb rendah dapat sampai 2-3 g%
-      Gambaran morfologi eritrosit : mikrositik hipokromik, sel target, anisositosis berat dengan makroovalositosis, mikrosferosit, polikromasi, basophilic stippling, benda Howell-Jolly, poikilositosis dan sel target. Gambaran ini lebih kurang khas.
-      Retikulosit meningkat.
b.      Sumsum tulang (tidak menentukan diagnosis)
-      Hiperplasi sistem eritropoesis dengan normoblas terbanyak dari jenis asidofil.
-      Granula Fe (dengan pengecatan Prussian biru) meningkat.
c.       Pemeriksaan khusus :
 -      Hb F meningkat : 20%-90% Hb total
   -      Elektroforesis Hb : hemoglobinopati lain dan mengukur kadar Hb F.
 -      Pemeriksaan pedigree: kedua orangtua pasien thalassemia mayor merupakan trait (carrier) dengan Hb A2 meningkat (> 3,5% dari Hb total).
4.      Pemeriksaan lain :
-      Foto Ro tulang kepala : gambaran hair on end, korteks menipis, diploe melebar dengan trabekula tegak lurus pada korteks.
-      Foto tulang pipih dan ujung tulang panjang : perluasan sumsum tulang sehingga trabekula tampak jelas.
5.      Diagnosis banding
Thalasemia minor :
-      Anemia kurang besi
-      Anemia karena infeksi menahun
-      Anemia pada keracunan timah hitam (Pb)
-      Anemia sideroblastik    
2.7 Pengobatan dan pencegahan
            Pada thalassemia yang berat diperlukan transfusi darah rutin dan pemberian tambahan asam folat.
            Penderita yang menjalani transfusi, harus menghindari tambahan zat besi dan obat-obat yang bersifat oksidatif (misalnya sulfonamid), karena zat besi yang berlebihan bisa menyebabkan keracunan.
            Pada bentuk yang sangat berat, mungkin diperlukan pencangkokan sumsum tulang.Terapi genetik masih dalam tahap penelitian.Thalasemia menurut para ahli belum ada obatnya, tapi pengobatan alami dengan menggunakan cyano spirulina dan jelly gamat akan membantu mengurangi frekwensi transfusi darahnya .
            Alasanya : kandungan Cyano Spirulina terdapat 5 zat gizi utama, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan 4 pigmen alami yaitu betakaroten, klorofil, xantofil, dan Fikosianin.
            Pigmen adalah zat warna alami yang ada pada tumbuhan. pigmen pada cyano Spirulina berfungsiebagai detoksifikasi (pembersih racun), perlindungan tubuh terhadap radikal bebas, antioksidan, meningkatkan kekebalan tubuh, meningkatkan jumlah bakteri ”baik” di usus, meningkatkan haemoglobin (Hb), dan sebagai antikanker.
            Selain itu, cyano Spirulina mengandung klorofil, Vitamin B 12, Asam folat dan zat besi yang duperlukan untuk pembentukan darah merah. Konsumsi cyano Spirulina secara teratur akan mencegah terjadinya anemia ( kurang darah)
            Pada keluarga dengan riwayat thalassemia perlu dilakukan penyuluhan genetik untuk menentukan resiko memiliki anak yang menderita thalassemia.



BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Thalasemia adalah suatu penyakit keturunan yang diakibatkan oleh kegagalan pembentukan salah satu dari empat rantai asam amino yang membentuk hemoglobin, sehingga hemoglobin tidak terbentuk sempurna. Tubuh tidak dapat membentuk sel darah merah yang normal, sehingga sel darah merah mudah rusak atau berumur pendek kurang dari 120 hari dan terjadilah anemia.
3.2 Saran
Disarankan kepada yang memiliki penyakit Thalassemia harus selalu menjaga kesahatan, menjaga pola makan dan rutin berolahraga.












DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar