“LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI III
“PEMERIKSAAN
G6PD”

NAMA : ADHA NIAR
NIM :
18 3145 353 121
KELAS : 2018 C
PROGRAM
STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS
FAMASI,TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS
MEGA REZKY
MAKASSAR
2020
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pemeriksaan hemetologi merupakan salah satu
pemeriksaan yang dapat dipakai sebagai penunjang diagnosis berkaitan dengan
terapi dan prognosis. Untuk mendapatkan diagnosis tepat siperlukan hasil yang
teliti dan cepat. Dalam perkembangannya, berbagai tes laboratorik untuk
diagnosis mengalami perbaikan dan kemajuan dalam menunjang pelayanan kesehatan
yang efisien, teliti dan cepat, dimana salah satunya ialah tes laju endap
darah. (Ni Wayan dkk, 2014)
Enzim glukosa 6 fosfat
dehidrogenase (G6PD) merupakan enzim yang diperlukan dalam proses oksidasi
molekul glukosa melalui jalur pentosa fosfat (Hexoxe mono phosfat shunt / HMP
shunt). Pada proses tersebut dihasilkan molekul Nicotinamide Adenine
Dinucleotide Phosphate tereduksi (NADPH). Salah satu peranan penting NADPH
adalah untuk mereduksi glutation teroksidasi,
glutationa sulfura sulfur-glutation (GSSG), membentuk glutation
tereduksi, glutation-sulfhidril (GSH) yang dikatalisis oleh enzim glutation
reduktase. (Dewajanti dan Anna, 2016)
Glukosa-6-Phosphate Dehidrogenase (G6PD) merupakan
kelainan yang diturunkan secara genetik (x-linked recessive). Defisiensi ini
menyebabkan eritrosit tidak stabil sehingga tidak mampu menyediakan NADPH
(Nikotinamida Adenin Dinukleotida Fosfat) yang cukup untuk mempertahankan
glutathion. Enzim ini diperlukan untuk mencegah hemolisis eritrosit dari stres
oksidan. Individu dengan defisiensi G6PD dapat mengalami hemolisis bila
terpapar obat oksidan terutama obat antimalaria dan antibiotika sulfonamid atau
infeksi atau diet kacang fava. (Dewajanti dan
Anna, 2016)
Defisiensi enzim G6PD dapat
mengakibatkan terakumulasinya senyawa toksik hidrogen peroksida (H2O2),
merupakan salah satu senyawa oksigen reaktif. Defisiensi enzim G6PD merupakan
kelainan genetik herediter, terkait kromosom seks (X-linked). (Dewajanti dan
Anna, 2016)
Oleh karena itu dilakukannya
pemeriksaan Glukosa-6-Phosphate Dehidrogenase (G6PD) yaitu untuk mengetahui fungsi
dari enzim G6PD yang dapat menyebabkan hemolisis dan juga merupakan salah satu
pemeriksaan yang dapat dikaitkan dengan anemia hemolitik.
B.
Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui fungsi
dari enzim G6PD yang dapat menyebabkan hemolisis dan juga merupakan salah satu
pemeriksaan yang dapat dikaitkan dengan anemia hemolitik.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Definisi
G6PD
Enzim glukosa 6 fosfat
dehidrogenase (G6PD) merupakan enzim yang diperlukan dalam proses oksidasi
molekul glukosa melalui jalur pentosa fosfat (Hexoxe mono phosfat shunt / HMP
shunt). Pada proses tersebut dihasilkan molekul Nicotinamide Adenine
Dinucleotide Phosphate tereduksi (NADPH). Salah satu peranan penting NADPH
adalah untuk mereduksi glutation teroksidasi,
glutationa sulfura sulfur-glutation (GSSG), membentuk glutation
tereduksi, glutation-sulfhidril (GSH) yang dikatalisis oleh enzim glutation
reduktase. (Dewajanti dan Anna, 2016)
Glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) adalah enzim
yang bekerja pada metabolisme karbohidrat. Enzim ini terdapat dalam sitoplasma,
tersebar di seluruh sel dengan kadar yang berbeda beda. Glukosa 6 fosfat
dehidrogenase (G6PD) merupakan enzim yang penting dalam metabolisme sel darah
merah yang bekerja pada metabolisme karbohidrat. (Avelina, 2019)
Glukosa-6-Phosphate Dehidrogenase (G6PD) merupakan
kelainan yang diturunkan secara genetik (x-linked recessive). Defisiensi ini
menyebabkan eritrosit tidak stabil sehingga tidak mampu menyediakan NADPH
(Nikotinamida Adenin Dinukleotida Fosfat) yang cukup untuk mempertahankan
glutathion. Enzim ini diperlukan untuk mencegah hemolisis eritrosit dari stres
oksidan. Individu dengan defisiensi G6PD dapat mengalami hemolisis bila
terpapar obat oksidan terutama obat antimalaria dan antibiotika sulfonamid atau
infeksi atau diet kacang fava. (Dewajanti dan
Anna, 2016)
G6PD (Glukosa 6 Phosfat
Dehidrogenase) merupakan pemeriksaan sejenis enzim dalam sel darah merah untuk
melihat kerentanan seseorang terhadap anemia hemolitika. Kekurangan G6PD
merupakan kelainan genetic terkait gen X yang dibawa kromosom wanita, nilai
normal dalam darah yaitu G6PD negative penurunan G6PD terdapat pada anemia
hemolitik, infeksi bakteri, infeksi virus, diabetes asidosis. Peningkatan G6PD
dapat juga terjadi karena obat-obatan seperti aspirin, asam askorbat (vitamin
C), vitamin K, dan asetanilid. (Devi, 2009)
B.
Defisiensi
G6PD
Defisiensi Glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD)
merupakan enzim pertama dalam jalur (pathway) pentosa fosfat pada metabolisme
glukosa. Defisiensi mengurangi energi reduktif dari eritrosit dan mungkin
menimbulkan hemolisis, yang beratnya tergantung pada kuantitas dan tipe G6PD
serta sifat zat hemolitik (biasanya mediator oksidasi-reduksi). (Avelina, 2019)
Berdasarkan tingkat keparahan/jenis manifestasi
klinis, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan defisiensi G6PD
sebagai berikut :
a.
Kelas I : defisiensi enzim sangat berat,
dengan anemia hemolitik nonspherocytic kronis.
b.
Kelas II : defisiensi enzim berat dengan
aktivitas enzim kurang dari 10% dari aktivitas normal, dengan anemia hemolitik
kronis.
c.
Kelas III : defisiensi enzim ringan
dengan aktivitas enzim antara 10–60%
dari aktivitas normal, anemia hemolitik terjadi bila terpapar bahan
oksidan atau infeksi.
d.
Kelas IV : aktivitas yang sangat ringan,
aktivitas enzim > 60% aktivitas normal dan tidak memberikan gejala anemia
hemolitik.
e.
Kelas V : aktivitas enzim > 150%
aktivitas normal Defisiensi enzim G6PD bukan merupakan suatu penyakit yang
serius dan secara keseluruhan individu dengan kekurangan enzim ini terlihat
sehat. (Avelina, 2019)
C.
Peran
G6PD Pada Metabolisme Eritrosit
Pada sel eritrosit terjadi metabolisme glukosa untuk
menghasilkan energi (ATP), yang digunakan untuk kerja pompa ionic dalam rangka
mempertahankan milieu ionic yang cocok bagi eritrosit. Pembentukan ATP ini
berlangsung melalui jalur Embden Meyerhof yang melibatkan sejumlah enzim
seperti glukosa fosfat isomerase dan piruvat kinase, sebagian kecil glukosa
mengalami metabolisme 9 dalam eritrosit melalui jalur heksosa monofosfat dengan
bantuan enzim G6PD untuk menghasilkan glutation yang penting untuk melindungi
hemoglobin dan membrane eritrosit dari oksidan. Defisiensi enzim piruvat
kinase, glukosa fosfat isomerase dan G6PD dapat mempermudah dan mempercepat
hemolisis. Yang paling sering mengalami defisiensi adalah G6PD. (Avelina, 2019)
Metabolisme glukosa melalui jalur heksosa monofosfat
meningkat beberapa kali ketika eritrosit terpapar dengan obat-obatan atau
toksin yang membentuk radikal bebas. (Avelina, 2019)
G6PD menginisiasi jalur ini dengan menjadi katalis
oksidasi glukosa-6-fosfat menjadi 6-phosphogluconolactone oleh ko-enzim
nikotinamida adenin-dinucleotidephosphate (NADP), yang dikurangi menjadi NADPH.
6-phosphogluconolactone menghidrolisis secara spontan untuk 6-
phosphogluconate. Ini berfungsi sebagai substrat untuk 6-phosphogluconate
dehidrogenase dan NADP. Langkah kedua dalam jalur enzimatik ini juga
berhubungan dengan pengurangan NADP+ untuk NADPH. NADPH dihasilkan sebagai
akibat dari reaksi mengurangi glutation teroksidasi (GSSG) untuk mengurangi
glutation (GSH) dalam reaksi dikatalisis oleh glutation reduktase. GSH kemudian
mengurangi hidrogen peroksida, oksidan kuat yang dihasilkan dalam metabolisme
sel dan sebagai konsekuensi dari respon inflamasi, dan oksidan endogen dan
eksogen lainnya, pada reaksi katalis oleh glutathione peroksidase. (Avelina,
2019)
D.
Manifestasi
Klinis Defisiensi G6PD
Manifestasi klinis defisiensi G6PD : Anemia
hemolitik dan nonhematoloogik.
1. Anemia
hemolitik
Sebagian besar manifestasi jenis mutan gen G6PD yang
mengakibatkan aktivitas enzimnya kurang dari 60% dari normal. Anemia hemolitik
akut terjadi setelah paparan obat atau bahan kimia. Umumnya, setelah satu
sampai tiga hari terpapar bahan-bahan tersebut, penderita akan mengalami demam,
letargi, kadang disertai gejala gastrointestinal. Hemoglobinuria merupakam
tanda kardinal, terjadinya hemolisis intravaskular ditandai dengan terjadinya
urine berwarna merah gelap hingga coklat. Kemudian timbul ikterus dan anemia
yang disertai takikardia. Primakuin merupakan salah satu obat yang dapat memicu
hemolisis. Pada umumnya obat tersebut berinteraksi dengan hemogloblin dan
oksigen, yang mengakibatkan produksi oksidan dan radikal bebas meningkat. Ada
beberapa obat yang cukup aman untuk diberikan pada mutan gen G6PD kelas II dan
kelas III, anatar lain aspirin, vitamin C, acetaminofen, sulfaxoxasole, dan
vitamin K, asalkan diberikan dalam dosis terapi yang umum digunakan. Obat yang
tidak aman untuk jenis mutan Gen G6PD kelas I, II, dan III misalnya primakuin,
asam nalidilat, nitrofurantoin, sulfamilamid. (Avelina, 2019)
2. Anemia non hematologik
Beberapa kasus defisiensi G6PD dilaporkan dapat
memberikan manifestasi non hematologik. Dilaporkan bahwa defisiensi G6PD dapat
mengakibatkan juvenile cataract pada lensa mata. Bahkan bilateral cataract
ditemukan pada anak dengan defisiensi G6PD. Defisiensi G6PD dapat menyebabkan
kejang otot, kelelahan pada otot, dan infeksi kronis. Dilaporkan pula bahwa
defisiensi aktivitas enzim G6PD pada lekosit dan 11 netrofil dapat menyebabkan
defek pada sistem imun yang menyebabkan infeksi kronis dan terbentuknya
granuloma pada beberapa kasus. (Avelina, 2019)
Efek dan usia eritrosit pada aktivitas
eritrosit-G6PD , G6PD adalah enzim age-dependent.
Dalam G6PD B yang normal aktivitas eritrosit dari G6PD menurun secara
eksponensial, dengan waktu paruh 62 hari. Namun, meskipun ini kehilangan
aktivitas enzim G6PD B eritrosit yang lebih tua mengandung aktivitas G6PD yang
cukup untuk mempertahankan kadar GSH dalam menghadapi suatu stress oksidan dan
usia rata-rata G6PD B eritrosit adalah 100 hingga 120 hari. (Khaterina, 2012)
BAB
III
METODE
PRAKTIKUM
A.
Waktu
dan Tempat
1. Waktu
Adapun waktu dilakukannya praktikum
Hematologi III, yaitu:
Hari : Selasa
Tanggal : 12 Mei 2020
Waktu : 08.00-10.00 WITA
2. Tempat
Adapun tempat dilakukannya praktikum Hematologi III,
yaitu di laboratorium Patologi DIV Teknologi Laboratorium Medis, lantai 2 Gedung
D Universitas Mega Rezky Makassar.
B.
Pra
Analitik
1.
Prinsip
Percobaan
Enzim G6PD
mengkatalisis langkah pertama dalam jalur fosfat pentosa, glukosa mengkonversi
ke ribosa-5-fosfat (gambar 1) dan melindungi sel terhadap stres oksidatif dalam
bentuk NADPH. Defisiensi G6PD merupakan salah satu kelainan enzimatik herediter
yang paling sering dari eritrosit manusia. Penelitian terbaru juga menyatakan
bahwa aktivitas G6PD memainkan peran penting dalam mengontrol pertumbuhan sel
melalui produksi NADPH.
2.
Alat
dan Bahan
a. Alat
1) Tabung
reaksi
2) Rak
Tabung
3) Mikropipet
4) Torniquet
5) Stopwatch
b. Bahan
1) Spoit
2) Natrium
Sitrat 3,8%
3) Plasma/Control
4) Label
5) Sodium
Nitrat glucose solution 0,1
6) Alkohol
swab 70%
7) Tip
8) Kertas
Label
9) Pot
sampel
10) Methylene
Blue 0.1 ml
C.
Analitik
1.
Cara Kerja
a. Diambil
darah dan di masukan kedalam tabung EDTA
b. Diberi
label pada masing- masing tabung
c. Diberi
control masing-masing kontrol1,2,dan 3
d. Dipipet
reagen 0,1 sodium nitrat glukosa solution ke masing-masing tabung
e. Diberi
Methylene Blue 0,1ml kedalam masing-masing tabung
f. Dihomogenkan
reagen dan sampel
g. Dihomogenkan
2ml tabung yang berisi control
h. Dicampurkan
sampel darah dan reagen
i. Dihomogenkan
kembalu menggunkan tangan
j. Dipipipet
2 ml negatif control dan di campurkan dengan reagen
k. Diinkubasi
dengan suhu 37°C selama 90 menit
l. selanjutnya
di inkubasi kembali selama 90 menit
m. Di
Homogenkan kembali n) Ditambahkan 2,ml with distilled water dan di inkubasi
n. Dimasukan
sampel sebanyak 20 mikron kedalam Ve control
o. Dihomogenkan
kembali
p. Ditambahkan
20 sampel micron pada tabung negatif control lalu homogenkan
q. Ditambahkan
20 mikron liters test lalu dihomogenkan
D.
Pasca
Analitik
Interprestasi hasil :
( contro Positif) :
merah Tua
(control Negatif) :
merah muda (Test) : merah muda
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Pada praktikum Hematologi III dilakukan pemeriksaan retikulosit
dilaboratorium kimia gedung D Universitas Mega Rezky Makassar pada hari sabtu
pukul 10.00-12.00 WITA.
Glukosa-6-Phosphate Dehidrogenase (G6PD) merupakan
kelainan yang diturunkan secara genetik (x-linked recessive). Defisiensi ini
menyebabkan eritrosit tidak stabil sehingga tidak mampu menyediakan NADPH
(Nikotinamida Adenin Dinukleotida Fosfat) yang cukup untuk mempertahankan
glutathion. Enzim ini diperlukan untuk mencegah hemolisis eritrosit dari stres
oksidan.
Gejala Defisiensi
Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase (G6PD)
Defisiensi G6PD bisa tidak menimbulkan
gejala apapun. Namun bila banyak sel darah merah yang pecah, penderita dapat
mengalami gejala dan tanda anemia hemolitik, seperti: Pusing, Kulit pucat, Tubuh mudah lelah, Urine
berwarna gelap, Kulit dan bagian putih mata menguning (penyakit kuning), Pembesaran organ hati dan limpa, Jantung berdebar dan Sesak napas.
Adapun prosedur kerja yang akan dilakukan dalam
pemeriksaan G6PD yaitu pertama-tama diambil darah dan di masukan kedalam tabung
EDTA kemudian diberi label pada masing- masing tabung lalu diberi control
masing-masing kontrol1,2,dan 3 setelah itu dipipet reagen 0,1 sodium nitrat
glukosa solution ke masing-masing tabung dan diberi Methylene Blue 0,1ml
kedalam masing-masing tabung, kemudian dihomogenkan reagen dan sampel setelah
itu dihomogenkan 2ml tabung yang berisi control dan diicampurkan sampel darah
dan reagen, lalu dihomogenkan kembalu menggunkan tangan. Tahap selanjutnya dipipipet
2 ml negatif control dan di campurkan dengan reagen kemudian diinkubasi dengan
suhu 37°C selama 90 menit, selanjutnya di inkubasi kembali selama 90 menit lalu
di Homogenkan kembali dan ditambahkan 2 ml with distilled water dan di inkubasi.
Setelah itu dimasukan sampel sebanyak 20 mikron kedalam Ve control lalu
dihomogenkan kembali kemudian ditambahkan 20 sampel micron pada tabung negatif
control lalu homogenkan dan ditambahkan
20 mikron liters test lalu dihomogenkan.
Factor yang dapat mempengauhi hasil pemeriksaan G6PD
yaitu waktu inkubasi yang tidak cukup atau tidak sesuai, sehingga dapat menyebabkan
hasil yang tidak akurat dan pemipetan sampel maupun reagen yang tidak sesuai.
BAB
V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Glukosa 6 fosfat
dehidrogenase (G6PD) adalah enzim yang bekerja pada metabolisme karbohidrat.
Enzim ini terdapat dalam sitoplasma, tersebar di seluruh sel dengan kadar yang
berbeda beda. Glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) merupakan enzim yang
penting dalam metabolisme sel darah merah yang bekerja pada metabolisme
karbohidrat.
B.
Saran
Diharapkan untuk praktikum selanjutnya yaitu
diharuskan agar praktikan memahami praktium yang akan dilakukan dengan cara
kerjanya. Praktikan harus mentaati peraturan dan selalu menggunakan APD pada
saat bekerja dilaboratorium.
DAFTAR
PUSTAKA
Dewajanti dan Maria Anna, 2016, Peranan Enzim Glukosa 6 Phosfat Dehidrogenase dalam Mempertahankan
Integritas Membran Sel Darah Merah Terhadap Beban Oksidatif, Universitas
Kristen Krida Wacana: Jurnal Kedokteran Meditek. Vol.21, No.56
Engil Khatherina Alfa, 2012, Defisiensi Glukosa-6-Phosfat Dehidrogenase (G6PD), Malang: FKUB
Indriasari Devi, 2009, 100% Sembuh Tanpa Dokter, Yogyakarta: Pustaka Grhatama
Sugari Ni Wayan dkk, 2014, Perbedaan Hasil Laju Endap Darah Metode Westergreen dengan Automatik
foller 20, Bali, Meditory. Vol. 2, No.1
Yolanda Avelina, 2019, Gambaran Defisiensi G6PD Pada Penderita Malaria diwilayah Kerja
Puskesmas Elopada, Kupang: Poltekes Kemenkes Kupang.
.