Selasa, 28 April 2020

LAPORAN PEMERIKSAAN DARAH RUTIN METODE AUTOMATIC


“LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI III
“PEMERIKSAAN TES DARAH RUTIN MENGGUNAKAN METODE AUTOMATIC 



            NAMA                        : ADHA NIAR
            NIM                            : 18 3145 353 121
            KELAS                       : 2018 C




PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FAMASI,TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGA REZKY
MAKASSAR
                                                              2019


LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktikum            : Pemeriksaan darah rutin menggunsksn metode automatic
Nama                           : Adha Niar
NIM                            : 18 3145 353 121
Hari/tanggal                : Selasa, 14 April 2020
           



     Penilaian                          :



Makassar, 28 April 2020
         


       Dosen Pembimbing                                                          Praktikan
                                                                                               






Arlitha DekaYana, S.Si.,M.Kes                                               Adha Niar        .
       NIDN: 09 3012 87 02                                              Nim:18 3145 353 121
          
                                                                                   
                                                                       




BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup, mulai dari binatang primitive sampai manusia, dalam keadaan fisiologik darah selalu berada dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai pembawa oksigen (oxygen carrier) ; mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi dan mekanisme hemostasis darah. (Made, 2017)
Darah adalah suatu subtansi cair yang terus-menerus beredar berfungsi menyediakan nutrisi, oksigen dan pertukaran racun pada tubuh. Darah sebagian besar terdiri atas cairan dengan berbagai sel dan protein yang tersubstansi didalamnya sehingga darah lebih kental dan air murni. Sekitar dari volume darah terdiri dari sel darah merah, yang membawa oksigen ke jaringan. (Nadila dkk, 2013)
Pemeriksaan hemetologi merupakan salah satu pemeriksaan yang dapat dipakai sebagai penunjang diagnosis berkaitan dengan terapi dan prognosis. Untuk mendapatkan diagnosis tepat siperlukan hasil yang teliti dan cepat. Dalam perkembangannya, berbagai tes laboratorik untuk diagnosis mengalami perbaikan dan kemajuan dalam menunjang pelayanan kesehatan yang efisien, teliti dan cepat, dimana salah satunya ialah tes laju endap darah. (Ni Wayan dkk, 2014)
Pemeriksaan darah rutin lengkap merupakan pemeriksaan yang sering diminta oleh klinisi karena dengan melakukan pemeriksaan darah lengkap rutin dapat terdiagnosis beberapa penyakit kelainan darah dan dapat ditentukan arah pemeriksaan lebih lanjut dari penderita tersebut. Pemeriksaan darah rutin antara lain adalah uji kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, leukosit, trombosit, nilai hematokrit, laju endap darah disingkat LED dan menentukan indeks eritrosit. (Satya dk, 2016)
Automatic hematology analyzer sebagai salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk memaksimalkan pemeriksaan tanpa tergantung pada tenaga ahli diciptakan suatu alat yang bisa dioperasikan secara sederhana dengan kata lain automatic hematology analyzer dirancang untuk tenaga ahli yang tanpa membutuhkan keterampilan khusus. Alat automatic hematology analyzer dirancang sebagai alat yang memiliki akurasi hasil yang mudah dievaluasi karena akurasi dan persisnya bisa dikontrol, jumlah sel yang dihitung lebih banyak dan pembacaan sampel pemeriksaan hanya memerlukan waktu yang singkat sampai pada hasil yang diinginkan. (Satya dk, 2016)
Oleh karena itu dilakukan pemeriksaan darah rutin menggunakan metode automatic yaitu untuk mengetahui normal atau tidaknya dan penggunaan metode automatic lebih cepat dan tepat.
B.     Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui cara pemeriksaan darah rutin menggunakan alat automatic.















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Darah adalah jaringan tubuh yang berbeda dengan jaringan tubuh lain, berada dalam konsistensi cair, beredar dalam suatu sistem tertutup yang dinamakan sebagai pembuluh darah dan berfungsi sebagai sarana transpor, alat homeostasis dan alat pertahanan. Darah dibagi menjadi dua bagian yaitu sel darah dan cairan darah. Sel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (lekosit) dan keping sel (trombosit). Cairan darah yang terpisah dari sel darah yaitu plasma atau serum, (Dewi dkk, 2017)
Darah merupakan salah satu komponen paling penting yang ada dalam tubuh, mengingat fungsinya sebagai alat transportasi. Kekurangan darah di dalam tubuh dapat memacu sejumlah penyakit dimulai dari anemia, hipotensi, serangan jantung, dan beberapa penyakit lainnya. (Swastini D.A dkk, 2016)
Komponen darah manusia secara terinci terdiri atas:
1.      Sel-sel darah , meliputi:
a.     Eritrosit (sel darah merah)
b.    Leukosit (sel darah putih
c.     Trombosit (keeping darah)
Plasma darah, merupakan komponen cairan yang mejngandung berbagai nutrisi maupun subtansi penting lainnya yang diperlukan oleh tubuh manusia, antara lain protein albumin, globulin, factor-faktor pembekuan darah, dan berbagai macam elektolit natrium (Na+), kalium (K+), klorida (Cl-), magnesium (Mg+), hormone, dan sebagainya, (Novi, 2018)
Serum merupakan cairan darah yang berwarna kuning. Didalam serum terdapat dua protein yaitu albumin dan globullin. Antibodi berada di dalam serum dikarenakan Antibodi golongan darah merupakan protein globulin, yang bertanggung jawab sebagai kekebalan tubuh alamiah untuk melawan antigen asing. Komposisi serum sama dengan plasma yaitu 91% air, 8% protein, dan 0,9% mineral. Akan tetapi didalam serum tidak ada faktor pembekuan (fibrinogen). Dikarenakan serum tidak diberi anti koagulan, fibrinogen dapat diubah menjadi benang – benang fibrin sehingga terjadi pembekuan darah. Dimana antikoagulan ini mengikat kalsium sebagai faktor pembekuan sehingga fibrinogen tidak di ubah menjadi benang – benang fibrin. (Oktari Anita dkk, 2016)
Sel darah merah atau eritrosit merupakan sel darah dengan jumlah yang paling banyak dengan tubuh manusia. fungsi utama eritrosit adalah mengangkut oksigen dan mengangkut oksigen dan mengantarkannya ke sel-sel tubuh. Hitung jumlah eritrosit merupakan salah satu parameter hematologi yang ditentukan guna membantu menegakkan diagnosis, menunjang diagnosis, membuat diagnosis banding, memantau perjalanan penyakit, menilai beratnya sakit dan menentukan prognosis. (Neni dkk, 2017)
Pada metode otomatis, pengukuran hitung jumlah eritrosit (Red Blood Cell/RBC) menggunakan prinsip impedansi. Sel dihitung dan diukur berdasarkan pada pengukuran perubahan hambatan listrik yang dihasilkan oleh sebuah partikel, dalam hal ini adalah sel darah yang disuspensikan dalam pengencer konduktif saat melewati celah dimensi. Sel-sel darah yang melewati celah dengan elektroda di kedua sisinya mengalami perubahan impedansi yang menghasilkan getaran listrik yang terukur sesuai dengan volume atau ukuran sel. Amplitude setiap getaran sebanding dengan volume setiap partikel. Setiap getaran diperkuat dan dibandingkan dengan saluran tegangan acuan internal, yang hanya menerima getaran dari amplitude tertentu. Jika getaran range RBC, maka dihitung sebagai RBC. Prinsip pengukuran  jumlah sel ini tergantung pada ukuran sel, luas permukaan, dan adanya granula-granula didalam sel. Hati hitung jumlah eritrosit yang palsu dapat diakibatkan karena adanya pengkrutan sel eritrosit yang dapat terbaca sebagai trombosit pada alat Hematology Analyer (Mindray BC-3200 Operator’s Manual, dilakukan sebagai uji konfirmasi hitung jumlah eritrosit. (Neni dkk, 2017)
Metode otomatis menggunakan Hematology Analyzer dapat digunakan untuk pemeriksaan rutin hitung jumlah eritrosit dengan tujuan agar memperoleh hasil yang cepat dan akurat. Namun metode ini dapat memberikan hasil palsu pada keadaan sel yang abnormal. Hasil yang abnormal pada hitung jumlah eritrosit dapat disebabkan oleh adanya cryoglobulins, lipid, agglutinin, dan adanya peningkatan jumlah sel leukosit. Kesalahan perbandingan antara antikoagulan dengan volume darah dapat menyebabkan peruahan ukuran eritrosit. Konsentrasi EDTA yang tinggi menyebabkan eritrosit menyusut karena hipertonisitas plasma. (Neni dkk, 2017)
Pemeriksaan darah rutin lengkap merupakan pemeriksaan yang sering diminta oleh klinisi karena dengan melakukan pemeriksaan darah lengkap rutin dapat terdiagnosis beberapa penyakit kelainan darah dan dapat ditentukan arah pemeriksaan lebih lanjut dari penderita tersebut. Pemeriksaan darah rutin antara lain adalah uji kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, leukosit, trombosit, nilai hematokrit, laju endap darah disingkat LED dan menentukan indeks eritrosit. (Satya dk, 2016)
Menghitung sel-sel darah dari ketiga jenis sel darah leukosit, eritrosit, dan trombosit dihitung jumlahnya persatuan volume darah. Upaya itu biasanya dilakukan dengan menggunakan alat hitung elektronik. Pada dasarnya alat semacam itu yang lazimnya dipakai bersama alat pengencer otomatik memberi hasil yang sangat teliti dan tepat. Harga alat penghitung elektronik mahal dan mengharuskan pemakaian dan pemeliharaan yang sangat cermat. (Satya dk, 2016)
Pemeriksaan hitung jumlah leukosit merupakan pemeriksaan darah rutin yang dilakukan dilaboratorium klinik. Karena seringnya permintaan pemeriksaan hitung jumlah leukosit, untuk menghitung leukosit secara manual akan memakan waktu yang cukup lama dan kurang cepat, maka dilakukan pemeriksaan hitung jumlah leukosit secara automatic yang mana alat ini menggunakan aliran listrik dangan prinsip impedansi. Walaupun harga mesin autometik cukup mahal, namun alat ini mampu memeriksa dengan cepat, tepat dan mudah. (Satya dk, 2016)
Automatic hematology analyzer sebagai salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk memaksimalkan pemeriksaan tanpa tergantung pada tenaga ahli diciptakan suatu alat yang bisa dioperasikan secara sederhana dengan kata lain automatic hematology analyzer dirancang untuk tenaga ahli yang tanpa membutuhkan keterampilan khusus. Alat automatic hematology analyzer dirancang sebagai alat yang memiliki akurasi hasil yang mudah dievaluasi karena akurasi dan persisnya bisa dikontrol, jumlah sel yang dihitung lebih banyak dan pembacaan sampel pemeriksaan hanya memerlukan waktu yang singkat sampai pada hasil yang diinginkan. (Satya dk, 2016)
Hemoglobin atau sering diangkat dengan Hb merupakan salah satu dari sekian banyak tolak ukur. Hemoglobin adalah suatu protein yang berada didalam darah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen, jadi nantinya oksigen yang dihirup akan masuk keparu-paru nantinya akan diangkut lagi oleh hemoglobin didalam darah untuk didistribusikan ke otak, jantung, ginjal, otot, tulang, dan seluruh organ tubuh. Orang-orang yang tidak pernah atau jarang mengomsumsi vitamin dan mineral, ibu hamil, orang yang mengalami perdarahan akibat terluka, terkena infeksi kronis seperti TBC, tumor, gangguan hati, dan gangguan kesehatan lainnya, bisa saja terjadi penurunan kadar Hb. Raut wajah akan terlihat pucat dan kuyu. Tubuh pun menjadi lemas, tidak bertenaga dan mudah lelah. (Eko, 2008)
Eritrosit atau sering disebut sel darah merah, adalah bagian darah dengan komposisi terbanyak didalam darah. Fungsi utamanya adalah sebagai tempat metabolisme makanan untuk dapat menghasilkan energy serta mengangkut O2 (oksigen) dan CO2 (karbon dioksida). Pada penyakit-penyakit kronis seperti penyakit hati, anemi, dan leukemia bisa ditemui penurunan jumlah sel darah merah. Pada pemeriksaan lanjutan, biasanya laboratoeium akan melampirkan nilai-nilai seperti MCV dan MCHC. (Eko, 2008)
MC (mean corpuscular) adalah jenis pemeriksaan untuk menilai kadar eritrosit rata-rata. Pemeriksaan ini biasanya dijadikan indicator untuk melihat kadar anemia seseorang. MCV atau mean corpuscular volume digunakan untuk mengukur indeks volume eritrosit dalam darah.MCH atau mean corpuscular hemoglobin untuk mengukur indeks warna pada eritrosit dalam darah.adapun MCH atau mean corpuscular hemoglobin concentration untuk mengukur indeks saturasi eritrosit dalam darah. (Eko, 2008)
Leukosit disebut juga sel darah putih walaupun sebenarnya eritrosit tidak berwarna allas bening.di dalam sel darah putih terkandung unsur unsur darah seperti basofil,eosinofil,neutrofil,limfosit,dan monosit.Keadaan di mana leukosit meninggi disebut leukositosis biasa muncul pada darah setelah menjalani latihan olahraga yang berat,terkena infeksi kronis (tifus,cacingan, TBC,dan lain lain ), atau sehabis terkena luka bakar yang luas. (Eko, 2008)
Hematokrit atau biasa disingkat Ht merupakan perbandingan antara proporsi volume sampel darah anda dengan sel darah merah (eritrosit) yang diukur dalam satuan milliliter per desiliter dari darah keseluruhan, bisa juga dinyatakan dalam persen.jadi, pengukuranini bisa dihubungkan dengan tingkat kekentalan darah anda. Semakin tinggi presentasenya maka semakin kental darah anda. Sebaliknya, jika semakin rendah persentasenya, maka semakin encer darah anda. Bersama dengan kadar hemoglobin, kadar hematokrit biasanya dikaitkan dengan derajat anemia yang anda derita. (Eko, 2008)
Pada penderita DBD, terjadi penurunan kadar trombosit dalam darah secara signifikan. Trombosit yang menurun menyebabkan terjadinya pendarahan pada kulit karena trombosit berfungsi sebagai salah satu zat pembeku darah. Tidak semua trombosit yang rendah lantas dikaitkan demgan DBD. Rendahnya trombosit juga bisa merupakan kelainan bawaan. Hal ini terjadi karena produksi trombosit seseorang memang sangat rendah. (Eko, 2008)
Trombosit yang rendah menimbulkan gangguan pada system pembekuan darah. Oleh karena itu, pada penderita demam berdarah (DBD) dengan kadar trombosit rendah akan mempermudah munculnya titik-titik perdarahan pada kulit, hidung, bahkan otak. Trombosit yang meninggi sering terjadi pada leukimia (kanker sel darah putih), polistemiavera (kadar sel darah merah yang meninggi), penyebaran tumor ganas, penyakit-penyakit vaskuler seperti lupus (gangguan system imun atau kekebalan tubuh), setelah operasi pembedahan, perdarahan, dan pada orang yang baru berhenti minum alcohol. (Eko, 2008)
Lanjut endap darah (LED) pemeriksaan darah ini ditujukan untuk melihat kecepatan darah dalam membentuk endapan. Sekian cc darah anda akan dimasukkan kedalam satu tabung pengukuran dan dinilai pada beberapa milliliter pengendapan itu muncul. Laju endap darah dilakukan untuk menilai beberapa kecepatan eritrosit atau sel darah sel darah merah bisa mengendap dalam tabung pengukuran yang diukur selama 1 jam. Pemeriksaan laju endap darah sangat berguna untuk mendeteksi adanya suatu peradangan dan bahkan perjalanan atau suatu penyakit. Jika anda sering didiagnosis penyakit lupus oleh dokter, biasanya akan ditemui laju endap darah yang tinggi. (Eko, 2008)
Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) merupakan salah satu pemeriksaan darah rutin yang sering dilakukan dilaboratorium. Pemeriksaan darah rutin lainnya adalah jumlah eritrosit, kadar hemoglobin (Hb), hematokrit, index eritrosit, jumlah leukosit, hutung jenis leukosit (Differential Counting), jumlah trombosit, dan gambaran darah tepi, jumlah trombosit, hematokrit, index eritrosit, dan hitung trombosit. (Ni Wayan dkk, 2014)
                    













 BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
1.      Waktu
Adapun waktu dilakukannya praktikum pemeriksaan darah rutin yaitu:
Hari          : Selasa
Tanggal    : 21 April 2020
Waktu      :  10.00-12.00 WITA
2.      Tempat
Adapun tempat dilakukannya praktikum ini yaitu di Laboratorium Kimia DIV Teknologi Laboratorium Medis Lantai 1 Gedung D Universitas Mega Rezky Makassar.
B.     Pra Analitik
Persiapan pasien : tidak memerlukan persiapan khusus
Persiapan sampel :
1.      Sampel EDTA sebaiknya tes dilakukan selambatnya 2 jam
2.      Sampel dapat disimpan 24 jam didalam kulkas dengan suhu 4oC
3.      Anamnesis perlu diperhatikan riwayat perdarahan, obat yang diminum, dan transfusi darah
4.      Prinsip Kerja : Hematology Analyzer bekerja dengan prinsip flow cytometer. Ribuan sel dialirkan melalui celah tersebut sehingga sel dapat lewat satu per satu, kemudian dilakukan perhitungan jumlah sel dan ukurannya.
Alat dan Bahan
1.      Alat :
a.       Tabung reaksi
b.      Alat Automatik Hematology analyzer
2.      Bahan :
a.       Sampel darah EDTA
b.      Reagen :
1)      Reagen diluen digunakan pada proses perhitung sel darah dan hitung jenis sel.
2)      Reagen cleaner bilyse digunakan untuk melisiskan sel-sel darah dan menentukan konsentrasi HB.
3)      Reagen cleaner digunakan sebagai bahan pembersih.
C.    Prosedur Kerja
1.      Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2.      Dibersihkan area kulit yang akan dilakukan pengambilan darah dengan kapas alcohol atau larutan antiseptic
3.      Dipasang tourniquet 3-5 cm diatas area penusukan
4.      Dilakukan penusukan atau memasukkan jarum kedalam pembuluh darah vena
5.      Dimasukkan darah kedalam tabung EDTA dan homogenkan
6.      Dihubungkan kabel power ke stabilisator
7.      Dihidupkan alat hematology analyzer dengan menekan power on/off, secara otomatis alat akan melakukan self check dan background check
8.      Dipastikan alat dalam posisi ready dan memeriksa sampel darah kembali untuk memastikan darah sudah homogen dengan antikoagulan
9.      Ditekan tombol whole blood “WB” pada layar
10.  Ditekan tombol ID untuk memastikan no sampel, lalu menekan tombol enter
11.  Ditekan bagian atas dari tempat sampel yang berwarna ungu untuk membuka dan sampel diletakkan dalam adaptor
12.  Ditutup sampel lalu menekan tombol “RUN” secara otomatis hasil pemeriksaan muncul pada layar
13.  Dibaca dan dicatat hasil pemeriksaan
D.    Pasca Analitik
1.      Hemoglobin (Hb)
Pria dewasa           : 14-18 gr/dl
Wanita dewas       : 12-16 gr/dl
Anak-anak             : 12-24 gr/dl
2.      Hematokrit (Ht)
Pria dewasa           : 40-48%
Wanita dewasa      : 37-43%
3.      Leukosit                : 4.500-10.000 sel/mm3
4.      Eritrosit
Pria dewasa           : 4,5-6,2 juta/mm3
Wanita dewasa      : 4,0-5,5 juta/mm3
5.      Trombosit              : 150.000-400.000 sel/mm3
6.      LED (Laju Endap Darah)
Pria            : ˂15 mm/jam
Wanita       : <20 mm/jam

















BAB IV
PEMBAHASAN
Pada praktikum Hematologi III dilakukan pemeriksaan darah rutin menggynakan metode automatic dilaboratorium kimia gedung D Universitas Mega Rezky Makassar pada hari sabtu pukul 10.00-12.00 WITA.
Pemeriksaan darah rutin lengkap merupakan pemeriksaan yang sering diminta oleh klinisi karena dengan melakukan pemeriksaan darah lengkap rutin dapat terdiagnosis beberapa penyakit kelainan darah dan dapat ditentukan arah pemeriksaan lebih lanjut dari penderita tersebut. Pemeriksaan darah rutin antara lain adalah uji kadar hemoglobin, jumlah eritrosit, leukosit, trombosit, nilai hematokrit, laju endap darah disingkat LED dan menentukan indeks eritrosit.
Automatic hematology analyzer sebagai salah satu jalan yang bisa ditempuh untuk memaksimalkan pemeriksaan tanpa tergantung pada tenaga ahli diciptakan suatu alat yang bisa dioperasikan secara sederhana dengan kata lain automatic hematology analyzer dirancang untuk tenaga ahli yang tanpa membutuhkan keterampilan khusus. Alat automatic hematology analyzer dirancang sebagai alat yang memiliki akurasi hasil yang mudah dievaluasi karena akurasi dan persisnya bisa dikontrol, jumlah sel yang dihitung lebih banyak dan pembacaan sampel pemeriksaan hanya memerlukan waktu yang singkat sampai pada hasil yang diinginkan.
            Dinyalakan alat kemudian diambil darah vena yang ada pada tabung EDTA kemudian ditekan test pada layar alat, kemudian di buka penutup tabung EDTA setelah itu dimasukkan masukkan tabung lalu tekan tombol hijau.
            Kasus pertama hemoglobin (HGB) 14,8 g/dl normal sedangkan RBC (Eritrosi) 5,13 10˄6/uL normal, hematokrit (HCT) 42,5% normal sedangkan pada MCV,MCH dan MCHC normal, pada tes ini tidak ada kelainan pada eritrosit.
            Kemudian pada leukosit (WBC) yaitu 10.0normal atau tidak ada kelainan, kemudian pada NEUT%, MXD%, NEUT# dan MXD# 0.00% terdapat kesalahan karena tidak ada proses diskriminasi pada saat pengukuran. Pada alat ini mengalami kebingungan mengukur hitung jenis leukosit karena sel-sel tidak bisa dibedakan, jadi perlu yang namanya diskriminasi dengan melakukan diskriminasi secara manual,  pada LYMPH# 38%. PLT (trombosit)  59 10˄3/uL berarti dibawah normal menandakan pasien megalami trombositopenia kemungkinan kasus ini bisa terjadi karena trombositopenia murni atau trombositopenia karena DBD. Salah satu penanda DBD yaitu terjadinya hemokonsntrasi dengan meningkatnya hematokrit dan hemoglobin.
            Trombositopenia adalah kondisi saat jumlah keping darah (trombosit) rendah, di bawah nilai normal. Trombosit berperan untuk menghentikan perdarahan saat terjadi luka atau kerusakan di pembuluh darah. Kurangnya jumlah trombosit dapat menyebabkan darah sulit membeku. Trombositopenia dapat disebabkan oleh beberapa kondisi, seperti demam berdarah, ITP, anemia aplastik, dan leukemia; atau akibat efek samping radioterapi dan kemoterapi. Bila jumlah trombosit turun tidak terlalu rendah atau masih di atas 50.000, umumnya tidak memerlukan pengobatan khusus untuk menaikkan jumlah trombosit.
Keuntungan menggunakan metode automatic yaitu waktu pemeriksaan cepat, dapat menhemat waktu, pengoprasiannya mudah, mengeluarkan beberapa hasil parameter darah dalam satu kali pemeriksaan, layar monitor cukup lebar, korasi hasil mudah dievaluasi karena alat dapat dikontrol akurasinya. Parameter yang secara manual tdiak dapat diukur (misalnya volume sel) dengan menggunakan alat automatic akan mudah dihitung.






BAB V
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Automatic  hematology analyzer dirancang sebagai alat yang memiliki akurasi hasil yang mudah dievaluasi karena akurasi dan persisnya bisa dikontrol, jumlah sel yang dihitung lebih banyak dan pembacaan sampel pemeriksaan hanya memerlukan waktu yang singkat sampai pada hasil yang diinginkan dibandingkan dengan metode manual.
B.       Saran
Diharapkan untuk praktikum selanjutnya yaitu diharuskan agar praktikan memahami praktium yang akan dilakukan dengan cara kerjanya. Praktikan harus mentaati peraturan dan selalu menggunakan APD pada saat bekerja dilaboratorium.


















DAFTAR PUSTAKA
Bakta Made, 2017, Hematologi klinik ringkas, Jakarta, EGC.
D.A Swastini dkk, 2016, Pemeriksaan Golongan Darah Dan Rhesus Pelajar Kelas 5 dan 6 Sekolah Dasar Didesa Taro Kecamatan Tegallalang Gianyar, Universitas Udayana Surabaya, Jurnal Udayana Mangabdi, Vol.15, No.1

Febiyanti Nadila dkk, 2013, Perbandingan pemeriksaan kadar hemoglobin dengan menggunakan Metode Sahli dan Autoanalyzer pada orang normal, Bandung, FKUKM.

Khila Novi, 2018, Mengenali Sel-sel Darah dan Kelainan Darah. M Kiswari Rukman, 2014, Hematologi & Transfusi, Erlangga.

Maharani Ratih Dewi dkk, 2017, Perbedaan hitung jumlah trombosit metode impendansi langsung dan Barbara Brown, Semarang, FIKKUM.

Oktari Anita dkk, 2016, Pemeriksaan Golongan Darah Sistem ABO Metode Slide Dengan Reagen Serum Golongan Darah A, B, O, Bandung, Jurnal Teknologi Laboratorium, Vol.5,No.2

Oktiyani Neni dkk, 2017, Akurasi Hitung Jumlah Eritrosit Metode Manual dan Metode Otomatis, Banjarmasin, MLTJ. Vol.3, No.2
Damayani Satya dkk, 2016, Perbedaan Hasil Pemeriksaan Jumlah Leukosit Antara Metode Manual Improved Neubauer dengan Metode Automatic Hematology Analyzer, Kendari, Jurnal Kesehatan Manarang. Vol.2, No.2
Dr. Bastiansyah Eko, 2008, Panduan Leng kap Membaca Hasil Tes Kesehatan, Depok, Penebar Plus.
Sugari Ni Wayan dkk, 2014, Perbedaan Hasil Laju Endap Darah Metode Westergreen dengan Automatik foller 20, Bali, Meditory. Vol. 2, No.1