Minggu, 24 Mei 2020

LAPORAN PEMERIKSAAN GLUKOSA 6 PHOSPHATE DEHIDROGENASE (G6PD)


 “LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI III
“PEMERIKSAAN G6PD”



            NAMA                        : ADHA NIAR
            NIM                            : 18 3145 353 121
            KELAS                       : 2018 C




PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FAMASI,TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGA REZKY
MAKASSAR
                                                                             2020





                                                                       






BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Pemeriksaan hemetologi merupakan salah satu pemeriksaan yang dapat dipakai sebagai penunjang diagnosis berkaitan dengan terapi dan prognosis. Untuk mendapatkan diagnosis tepat siperlukan hasil yang teliti dan cepat. Dalam perkembangannya, berbagai tes laboratorik untuk diagnosis mengalami perbaikan dan kemajuan dalam menunjang pelayanan kesehatan yang efisien, teliti dan cepat, dimana salah satunya ialah tes laju endap darah. (Ni Wayan dkk, 2014)
Enzim glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) merupakan enzim yang diperlukan dalam proses oksidasi molekul glukosa melalui jalur pentosa fosfat (Hexoxe mono phosfat shunt / HMP shunt). Pada proses tersebut dihasilkan molekul Nicotinamide Adenine Dinucleotide Phosphate tereduksi (NADPH). Salah satu peranan penting NADPH adalah untuk mereduksi glutation teroksidasi,  glutationa sulfura sulfur-glutation (GSSG), membentuk glutation tereduksi, glutation-sulfhidril (GSH) yang dikatalisis oleh enzim glutation reduktase. (Dewajanti dan Anna, 2016)
Glukosa-6-Phosphate Dehidrogenase (G6PD) merupakan kelainan yang diturunkan secara genetik (x-linked recessive). Defisiensi ini menyebabkan eritrosit tidak stabil sehingga tidak mampu menyediakan NADPH (Nikotinamida Adenin Dinukleotida Fosfat) yang cukup untuk mempertahankan glutathion. Enzim ini diperlukan untuk mencegah hemolisis eritrosit dari stres oksidan. Individu dengan defisiensi G6PD dapat mengalami hemolisis bila terpapar obat oksidan terutama obat antimalaria dan antibiotika sulfonamid atau infeksi atau diet kacang fava. (Dewajanti dan Anna, 2016)
Defisiensi enzim G6PD dapat mengakibatkan terakumulasinya senyawa toksik hidrogen peroksida (H2O2), merupakan salah satu senyawa oksigen reaktif. Defisiensi enzim G6PD merupakan kelainan genetik herediter, terkait kromosom seks (X-linked). (Dewajanti dan Anna, 2016)
Oleh karena itu dilakukannya pemeriksaan Glukosa-6-Phosphate Dehidrogenase (G6PD) yaitu untuk  mengetahui fungsi dari enzim G6PD yang dapat menyebabkan hemolisis dan juga merupakan salah satu pemeriksaan yang dapat dikaitkan dengan anemia hemolitik.
B.     Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui fungsi dari enzim G6PD yang dapat menyebabkan hemolisis dan juga merupakan salah satu pemeriksaan yang dapat dikaitkan dengan anemia hemolitik.




















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.      Definisi G6PD
Enzim glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) merupakan enzim yang diperlukan dalam proses oksidasi molekul glukosa melalui jalur pentosa fosfat (Hexoxe mono phosfat shunt / HMP shunt). Pada proses tersebut dihasilkan molekul Nicotinamide Adenine Dinucleotide Phosphate tereduksi (NADPH). Salah satu peranan penting NADPH adalah untuk mereduksi glutation teroksidasi,  glutationa sulfura sulfur-glutation (GSSG), membentuk glutation tereduksi, glutation-sulfhidril (GSH) yang dikatalisis oleh enzim glutation reduktase. (Dewajanti dan Anna, 2016)
Glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) adalah enzim yang bekerja pada metabolisme karbohidrat. Enzim ini terdapat dalam sitoplasma, tersebar di seluruh sel dengan kadar yang berbeda beda. Glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) merupakan enzim yang penting dalam metabolisme sel darah merah yang bekerja pada metabolisme karbohidrat. (Avelina, 2019)
Glukosa-6-Phosphate Dehidrogenase (G6PD) merupakan kelainan yang diturunkan secara genetik (x-linked recessive). Defisiensi ini menyebabkan eritrosit tidak stabil sehingga tidak mampu menyediakan NADPH (Nikotinamida Adenin Dinukleotida Fosfat) yang cukup untuk mempertahankan glutathion. Enzim ini diperlukan untuk mencegah hemolisis eritrosit dari stres oksidan. Individu dengan defisiensi G6PD dapat mengalami hemolisis bila terpapar obat oksidan terutama obat antimalaria dan antibiotika sulfonamid atau infeksi atau diet kacang fava. (Dewajanti dan Anna, 2016)
G6PD (Glukosa 6 Phosfat Dehidrogenase) merupakan pemeriksaan sejenis enzim dalam sel darah merah untuk melihat kerentanan seseorang terhadap anemia hemolitika. Kekurangan G6PD merupakan kelainan genetic terkait gen X yang dibawa kromosom wanita, nilai normal dalam darah yaitu G6PD negative penurunan G6PD terdapat pada anemia hemolitik, infeksi bakteri, infeksi virus, diabetes asidosis. Peningkatan G6PD dapat juga terjadi karena obat-obatan seperti aspirin, asam askorbat (vitamin C), vitamin K, dan asetanilid. (Devi, 2009)
B.       Defisiensi G6PD
Defisiensi Glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) merupakan enzim pertama dalam jalur (pathway) pentosa fosfat pada metabolisme glukosa. Defisiensi mengurangi energi reduktif dari eritrosit dan mungkin menimbulkan hemolisis, yang beratnya tergantung pada kuantitas dan tipe G6PD serta sifat zat hemolitik (biasanya mediator oksidasi-reduksi). (Avelina, 2019)
Berdasarkan tingkat keparahan/jenis manifestasi klinis, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan defisiensi G6PD sebagai berikut :
a.       Kelas I : defisiensi enzim sangat berat, dengan anemia hemolitik nonspherocytic kronis.
b.      Kelas II : defisiensi enzim berat dengan aktivitas enzim kurang dari 10% dari aktivitas normal, dengan anemia hemolitik kronis.
c.       Kelas III : defisiensi enzim ringan dengan aktivitas enzim antara 10–60%  dari aktivitas normal, anemia hemolitik terjadi bila terpapar bahan oksidan atau infeksi.
d.      Kelas IV : aktivitas yang sangat ringan, aktivitas enzim > 60% aktivitas normal dan tidak memberikan gejala anemia hemolitik.
e.       Kelas V : aktivitas enzim > 150% aktivitas normal Defisiensi enzim G6PD bukan merupakan suatu penyakit yang serius dan secara keseluruhan individu dengan kekurangan enzim ini terlihat sehat. (Avelina, 2019)
C.      Peran G6PD Pada Metabolisme Eritrosit
Pada sel eritrosit terjadi metabolisme glukosa untuk menghasilkan energi (ATP), yang digunakan untuk kerja pompa ionic dalam rangka mempertahankan milieu ionic yang cocok bagi eritrosit. Pembentukan ATP ini berlangsung melalui jalur Embden Meyerhof yang melibatkan sejumlah enzim seperti glukosa fosfat isomerase dan piruvat kinase, sebagian kecil glukosa mengalami metabolisme 9 dalam eritrosit melalui jalur heksosa monofosfat dengan bantuan enzim G6PD untuk menghasilkan glutation yang penting untuk melindungi hemoglobin dan membrane eritrosit dari oksidan. Defisiensi enzim piruvat kinase, glukosa fosfat isomerase dan G6PD dapat mempermudah dan mempercepat hemolisis. Yang paling sering mengalami defisiensi adalah G6PD. (Avelina, 2019)
Metabolisme glukosa melalui jalur heksosa monofosfat meningkat beberapa kali ketika eritrosit terpapar dengan obat-obatan atau toksin yang membentuk radikal bebas. (Avelina, 2019)
G6PD menginisiasi jalur ini dengan menjadi katalis oksidasi glukosa-6-fosfat menjadi 6-phosphogluconolactone oleh ko-enzim nikotinamida adenin-dinucleotidephosphate (NADP), yang dikurangi menjadi NADPH. 6-phosphogluconolactone menghidrolisis secara spontan untuk 6- phosphogluconate. Ini berfungsi sebagai substrat untuk 6-phosphogluconate dehidrogenase dan NADP. Langkah kedua dalam jalur enzimatik ini juga berhubungan dengan pengurangan NADP+ untuk NADPH. NADPH dihasilkan sebagai akibat dari reaksi mengurangi glutation teroksidasi (GSSG) untuk mengurangi glutation (GSH) dalam reaksi dikatalisis oleh glutation reduktase. GSH kemudian mengurangi hidrogen peroksida, oksidan kuat yang dihasilkan dalam metabolisme sel dan sebagai konsekuensi dari respon inflamasi, dan oksidan endogen dan eksogen lainnya, pada reaksi katalis oleh glutathione peroksidase. (Avelina, 2019)
D.      Manifestasi Klinis Defisiensi G6PD
Manifestasi klinis defisiensi G6PD : Anemia hemolitik dan nonhematoloogik.
1.      Anemia hemolitik
Sebagian besar manifestasi jenis mutan gen G6PD yang mengakibatkan aktivitas enzimnya kurang dari 60% dari normal. Anemia hemolitik akut terjadi setelah paparan obat atau bahan kimia. Umumnya, setelah satu sampai tiga hari terpapar bahan-bahan tersebut, penderita akan mengalami demam, letargi, kadang disertai gejala gastrointestinal. Hemoglobinuria merupakam tanda kardinal, terjadinya hemolisis intravaskular ditandai dengan terjadinya urine berwarna merah gelap hingga coklat. Kemudian timbul ikterus dan anemia yang disertai takikardia. Primakuin merupakan salah satu obat yang dapat memicu hemolisis. Pada umumnya obat tersebut berinteraksi dengan hemogloblin dan oksigen, yang mengakibatkan produksi oksidan dan radikal bebas meningkat. Ada beberapa obat yang cukup aman untuk diberikan pada mutan gen G6PD kelas II dan kelas III, anatar lain aspirin, vitamin C, acetaminofen, sulfaxoxasole, dan vitamin K, asalkan diberikan dalam dosis terapi yang umum digunakan. Obat yang tidak aman untuk jenis mutan Gen G6PD kelas I, II, dan III misalnya primakuin, asam nalidilat, nitrofurantoin, sulfamilamid. (Avelina, 2019)
2. Anemia non hematologik
Beberapa kasus defisiensi G6PD dilaporkan dapat memberikan manifestasi non hematologik. Dilaporkan bahwa defisiensi G6PD dapat mengakibatkan juvenile cataract pada lensa mata. Bahkan bilateral cataract ditemukan pada anak dengan defisiensi G6PD. Defisiensi G6PD dapat menyebabkan kejang otot, kelelahan pada otot, dan infeksi kronis. Dilaporkan pula bahwa defisiensi aktivitas enzim G6PD pada lekosit dan 11 netrofil dapat menyebabkan defek pada sistem imun yang menyebabkan infeksi kronis dan terbentuknya granuloma pada beberapa kasus. (Avelina, 2019)
Efek dan usia eritrosit pada aktivitas eritrosit-G6PD , G6PD adalah enzim age-dependent. Dalam G6PD B yang normal aktivitas eritrosit dari G6PD menurun secara eksponensial, dengan waktu paruh 62 hari. Namun, meskipun ini kehilangan aktivitas enzim G6PD B eritrosit yang lebih tua mengandung aktivitas G6PD yang cukup untuk mempertahankan kadar GSH dalam menghadapi suatu stress oksidan dan usia rata-rata G6PD B eritrosit adalah 100 hingga 120 hari. (Khaterina, 2012)


























BAB III
METODE PRAKTIKUM
A.      Waktu dan Tempat
1.      Waktu
Adapun waktu dilakukannya praktikum Hematologi III, yaitu:
Hari               : Selasa
Tanggal         : 12 Mei 2020
Waktu           : 08.00-10.00 WITA
2.      Tempat
Adapun tempat dilakukannya praktikum Hematologi III, yaitu di laboratorium Patologi DIV Teknologi Laboratorium Medis, lantai 2 Gedung D Universitas Mega Rezky Makassar.
B.       Pra Analitik
1.      Prinsip Percobaan
Enzim G6PD mengkatalisis langkah pertama dalam jalur fosfat pentosa, glukosa mengkonversi ke ribosa-5-fosfat (gambar 1) dan melindungi sel terhadap stres oksidatif dalam bentuk NADPH. Defisiensi G6PD merupakan salah satu kelainan enzimatik herediter yang paling sering dari eritrosit manusia. Penelitian terbaru juga menyatakan bahwa aktivitas G6PD memainkan peran penting dalam mengontrol pertumbuhan sel melalui produksi NADPH.
2.      Alat dan Bahan
a.       Alat
1)      Tabung reaksi
2)      Rak Tabung
3)      Mikropipet
4)      Torniquet
5)      Stopwatch
b.       Bahan
1)      Spoit
2)      Natrium Sitrat 3,8%
3)      Plasma/Control
4)      Label
5)      Sodium Nitrat glucose solution 0,1
6)      Alkohol swab 70%
7)      Tip
8)      Kertas Label
9)      Pot sampel
10)  Methylene Blue 0.1 ml
C.      Analitik
1.      Cara Kerja
a.    Diambil darah dan di masukan kedalam tabung EDTA
b.    Diberi label pada masing- masing tabung
c.    Diberi control masing-masing kontrol1,2,dan 3
d.   Dipipet reagen 0,1 sodium nitrat glukosa solution ke masing-masing tabung
e.    Diberi Methylene Blue 0,1ml kedalam masing-masing tabung
f.     Dihomogenkan reagen dan sampel
g.    Dihomogenkan 2ml tabung yang berisi control
h.    Dicampurkan sampel darah dan reagen
i.      Dihomogenkan kembalu menggunkan tangan
j.      Dipipipet 2 ml negatif control dan di campurkan dengan reagen
k.    Diinkubasi dengan suhu 37°C selama 90 menit
l.      selanjutnya di inkubasi kembali selama 90 menit
m.  Di Homogenkan kembali n) Ditambahkan 2,ml with distilled water dan di inkubasi
n.    Dimasukan sampel sebanyak 20 mikron kedalam Ve control
o.    Dihomogenkan kembali
p.    Ditambahkan 20 sampel micron pada tabung negatif control lalu homogenkan
q.    Ditambahkan 20 mikron liters test lalu dihomogenkan

D.      Pasca Analitik
Interprestasi hasil :
( contro Positif) : merah Tua
(control Negatif) : merah muda (Test) : merah muda



























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
Pada praktikum Hematologi III dilakukan pemeriksaan retikulosit dilaboratorium kimia gedung D Universitas Mega Rezky Makassar pada hari sabtu pukul 10.00-12.00 WITA.
Glukosa-6-Phosphate Dehidrogenase (G6PD) merupakan kelainan yang diturunkan secara genetik (x-linked recessive). Defisiensi ini menyebabkan eritrosit tidak stabil sehingga tidak mampu menyediakan NADPH (Nikotinamida Adenin Dinukleotida Fosfat) yang cukup untuk mempertahankan glutathion. Enzim ini diperlukan untuk mencegah hemolisis eritrosit dari stres oksidan.
Gejala Defisiensi Glucose-6-Phosphate Dehydrogenase (G6PD)
Defisiensi G6PD bisa tidak menimbulkan gejala apapun. Namun bila banyak sel darah merah yang pecah, penderita dapat mengalami gejala dan tanda anemia hemolitik, seperti: Pusing, Kulit pucat, Tubuh mudah lelah, Urine berwarna gelap, Kulit dan bagian putih mata menguning (penyakit kuning), Pembesaran organ hati dan limpa, Jantung berdebar dan Sesak napas.
Adapun prosedur kerja yang akan dilakukan dalam pemeriksaan G6PD yaitu pertama-tama diambil darah dan di masukan kedalam tabung EDTA kemudian diberi label pada masing- masing tabung lalu diberi control masing-masing kontrol1,2,dan 3 setelah itu dipipet reagen 0,1 sodium nitrat glukosa solution ke masing-masing tabung dan diberi Methylene Blue 0,1ml kedalam masing-masing tabung, kemudian dihomogenkan reagen dan sampel setelah itu dihomogenkan 2ml tabung yang berisi control dan diicampurkan sampel darah dan reagen, lalu dihomogenkan kembalu menggunkan tangan. Tahap selanjutnya dipipipet 2 ml negatif control dan di campurkan dengan reagen kemudian diinkubasi dengan suhu 37°C selama 90 menit, selanjutnya di inkubasi kembali selama 90 menit lalu di Homogenkan kembali dan ditambahkan 2 ml with distilled water dan di inkubasi. Setelah itu dimasukan sampel sebanyak 20 mikron kedalam Ve control lalu dihomogenkan kembali kemudian ditambahkan 20 sampel micron pada tabung negatif control lalu homogenkan  dan ditambahkan 20 mikron liters test lalu dihomogenkan.  
Factor yang dapat mempengauhi hasil pemeriksaan G6PD yaitu waktu inkubasi yang tidak cukup atau tidak sesuai, sehingga dapat menyebabkan hasil yang tidak akurat dan pemipetan sampel maupun reagen yang tidak sesuai.





















BAB V
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) adalah enzim yang bekerja pada metabolisme karbohidrat. Enzim ini terdapat dalam sitoplasma, tersebar di seluruh sel dengan kadar yang berbeda beda. Glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PD) merupakan enzim yang penting dalam metabolisme sel darah merah yang bekerja pada metabolisme karbohidrat.
B.       Saran
Diharapkan untuk praktikum selanjutnya yaitu diharuskan agar praktikan memahami praktium yang akan dilakukan dengan cara kerjanya. Praktikan harus mentaati peraturan dan selalu menggunakan APD pada saat bekerja dilaboratorium.

















DAFTAR PUSTAKA
Dewajanti dan Maria Anna, 2016, Peranan Enzim Glukosa 6 Phosfat Dehidrogenase dalam Mempertahankan Integritas Membran Sel Darah Merah Terhadap Beban Oksidatif, Universitas Kristen Krida Wacana: Jurnal Kedokteran Meditek. Vol.21, No.56
Engil Khatherina Alfa, 2012, Defisiensi Glukosa-6-Phosfat Dehidrogenase (G6PD), Malang: FKUB
Indriasari Devi, 2009, 100% Sembuh Tanpa Dokter, Yogyakarta: Pustaka Grhatama
Sugari Ni Wayan dkk, 2014, Perbedaan Hasil Laju Endap Darah Metode Westergreen dengan Automatik foller 20, Bali, Meditory. Vol. 2, No.1
Yolanda Avelina, 2019, Gambaran Defisiensi G6PD Pada Penderita Malaria diwilayah Kerja Puskesmas Elopada, Kupang: Poltekes Kemenkes Kupang.
.