Jumat, 27 Maret 2020


MAKALAH HEMATOLOGI III
(ANEMIA HEMOLITIK)


LOGO UNIMERZ.jpg


OLEH :
NAMA                        : ADHA NIAR
NIM                 : 18 3145 353 121
KELAS           : 2018 C



PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS FAMASI,TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS MEGA REZKY
MAKASSAR
2020


KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.
            Puji dan syukur kita panjatkan Kehadirat Allah yang telah member rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Hematologi III yang berjudul “Anemia Hemolitik” dengan baik dan tepat pada waktunya.
            Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari dosen, selain itu makalah ini juga untuk menambah wawasan bagi para pembaca maupun bagi kami.
            Dengan selesainya makalah ini, tak lepas dari kerja sama dosen dan dari berbagai sumber dalam membantu pembuatan makalah ini. Untuk itu kami berterima kasih kepada dosen dan dari berbagai sumber yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Dalam laporan ini masih banyak kekurangan, jadi mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan yang terdapat pada makalah ini. Sekian dan Terima kasih.

Makassar, 25 Maret 2020

Penulis            











DAFTAR ISI
Judul
Kata Pengantar
BAB I Pendahuluan
A.    Latar Belakang
B.     Tujuan
BAB II Pembahasan
A.    Definisi Anemia Hemolitik
B.     Etiologi
C.    Epidemologi
D.    Patofisiologi
E.     Gejala Anemia Hemolitik
F.     Penyebab Anemia Hemolitik
G.    Faktor Risiko Anemia Hemolitik
H.    Penatalaksanaan Medis
I.       Diagnosis
J.      Jenis Anemia Hemolitik
K.    Komplikasi Anemia Hemolitik
L.     Pengobatan Anemia Hemolitik
M.   Pencegahan Anemia Hemolitik
BAB III Kesimpulan dan Saran
A.    Kesimpulan
B.     Saran
Daftar Pustaka







BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Anemia atau sering disebut dengan istilah kurang darah merupakan suatu kondisi dengan jumlah sel darah merah berkurang dan mengakibatkan oxygen-carrying capacity tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan fisiologis tubuh. Kebutuhan fisiologis tubuh bervariasi dan setiap orang berbeda tergantung usia, jenis kelamin, ketinggian tempat tinggal diatas laut, merokok, dan tahap kehamilan. Diperkirakan 18% wanita yang tinggal di Negara industry mengalami mengalami anemia, sedangkan di Negara berkembang jumlahnya meningkat hingga 56% dan merupakan factor yang menyebabkan timbulnya masalah kesehatan pada wanita serta kematian selama kehamilan dan persalinan. (Reni dan Dwi, 2018)
Anemia merupakan kondisi berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi darah atau massa hemoglobin (Hb) sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya sebagai pembawa oksigen ke seluruh jaringan. Pengertian anemia menurut Bakta (2009) anemia secara labolatorik adalahh suatu keadaan apabila terjadinya penurunan kadar Hb di bawah normal,kadar eritrosit dan hematrokrit (packedredcell). Sedangkan menurut World Health Organization (WHO, 1992) anemia adalah suaru keadaan yang ditunjukan dengan kadar Hb lebih rendah dari batas normal untuk kelompok orang yang bersangkutan. Anemia jugaa didefinisikan sebagai suatu penurunan massa sel darah merah atau total Hb, secara lebiih tepat dikatakan kadar Hb normal pada wanita yang sudah menstruasi  adalah 12,0 dan untuk ibu hamil 11,0 g/dL. Namun tidak ada efek merugikan bila kadarnya <10,0 g/gL. (Reni dan Dwi, 2018)
Anemia adalah suatu konsentrasi apabila hemoglobin<105 g/L atau penurunan kapasitas darah dalam membawa oksigen, hal tersebut terjadi akibat penurunan produksi sel daraah merah, dan/atau penurunan Hb dalam darah.  Anemia sering didefinisikan sebagai penurunan kadar Hb darah sampai dibawah rentan normal 13,5 g/dL (pria) ;11,5g/dL (wanita) ;11.0 g/dL (anak-anak). (Reni dan Dwi, 2018)
Anemia hemolitik adalah anemia yang disebabkan oleh proses hemolisis, yaitu pemecahan erirosit dalam pembuluh darah sebelum waktunya.
Anemia hemolitik merupakan anemia yang tidak terlalu sering dijumpai tetapi bila dijumpai memerlukan pendekatan diagnostik yang tepat. Pada kasus-kasus penyakit dalam yang dirawat di RSUP Sanglah tahun 1997, anemia hemolitik merupakan 6% dari kasus anemia, menempati urutan ketiga setelah anemia aplastik dan anemia sekunder karena keganasan  hematologis. (Wiwik dkk, 2008)
Anemia hemolitik merupakan salah satu jenis anemia yang jarang terjadi. Saat menderita anemia, sumsum tulang tidak menghasilkan sel darah merah yang cukup atau tidak berfungsi secara normal. Sel darah membawa oksigen ke seluruh tubuh sehingga anemia dapat menyebabkan lelah dan sesak napas. Apabila memiliki anemia hemolitik, tubuh Anda akan menghancurkan sel darah merah terlebih dahulu sebelum sumsum tulang dapat membuat yang baru.
B.     Tujuan
1.      Mampu memahami apa yang dimaksud dengan Anemia Hemolitik
2.      Mampu memahami patofisiologi, etiologi, gejala, penyebab dan lain-lain dari anemia hemolitik.









BAB II
PEMBAHASAN
A.     Definisi Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik mewakili sekitar 5%  dari semua anemia. Anemia hemolitik Autoimun/Autoimune Hemolytic Anemia (AIHA) akut  relatif jarang terjadi, dengan insiden 1-3 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Anemia hemolitik tidak spesifik pada semua ras manusia. Namun, gangguan sel sabit terutama ditemukan di Afrika, Amerika, sebagian Arab, dan Aborigin di India Selatan. Pada sebagian kasus, anemia hemolitik tidak spesifik dengan jenis kelamin. Namun, AIHA akut lebih sering menyerang pada  wanita dibanding pria. Walaupun anemia hemolitik dapat menyerang semua umur, kelainan  herediter bisanya timbul pada awal kehidupan. (Reni dan Dwi, 2018)
Anemia hemolitik adalah kondisi dimana hancurnya eritrosit lebih cepat dibandingkan pembentukannya atau dengan kata lain penghancuran/pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya. Anemia hemolitik didefinisikan sebagai anemia yang disebabkan oleh peningkatan kecepatan destruksi eritrosit, yang diikuti dengan ketidakmampuan sum-sum tulang dalam memproduksi sel eritrosit untuk memenuhi kebutuhan tubuh terhadap berkurangnya sel eritrosit, penghancuran sel eritrosit yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya hiperplasi sum-sum tulang sehingga produksi sel eritrosit akan meningkat dari normal, hal ini terjadi bila umur eritrosit kurang dari 120 hari menjai 15-20 hari tanpa diikuti dengan anemia. Namun bila sum-sum tulang tidak mampu mengatasi keadaan tersebut, maka akan terjadi anemia. (Reni dan Dwi, 2018)
B.     Etiologi 
Menurut Price S. Wilson L. (2007) anemia hemolitik diakibatkan oleh penghancuran (hemolisis) eritrosit yang berlebihan. Pada prinsipnya anemia hemolitik dapat terjadi karena:
1.      Defek molecular hemoglobinopati atau enzimopati
2.      Abnormalitas struktur dan fungsi membran-membran
3.      Faktor lingkungan seperti trauma mekanik atau antibodi
Anemia hemolitik ada dua macam, yaitu anemia hemolitik intrinsik yang disebabkan oleh faktor intra kopuskuler dan anemia hemolitik ekstrinsik yang disebabkan oleh faktor ekstrakorpuskuler.
1.      Anemia Hemolitik Intrinsik
Pada anemia hemolitik intrinsik penghancuran sel darah merah terjadi karena adanya kecatatan pada sel darah merah itu sendiri. Anemia hemolitik intrinsik sering diwariskan, seperti anemia sel sabit dan thalasemia. Kondisi ini menghasilkan sel darah merah yang memiliki umur tidak selama sel darah merah normal. Anemia hemolitik yang disebabkan faktor intrinsik dijumpai pada:
a.       Anemia hemolitik herediter
b.      Talasemia, anemia sel sickle (sabit)
c.       Hemoglobin, C, D, G, H, I dan paraksismal noktural hemoglobinuria
d.      Defisiensi enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase (g6pd)
e.       Defisiensi  enzim piruvat kinase.
2.      Anemia Hemolitik Ekstrinsik
Pada anemia hemolitik ekstrinsik terjadi karena adanya penghancuran sel darah merah diluar masalah pada  sel darah merah, artinya terjadi ketika organ limpa  menghancurkan sel-sel darah merah yang sehat.
Hal ini  juga dapat berasal  dari pengancuran seldarah merah yang dikarenakan:
a.       Infeksi virus Epater-Barr (EBV) dan hepatitis
b.      Infeksi bakteri  coli, salmonella thypi dan streptococcus sp
c.       Tumor
d.      Gangguan auto imun
C.      Epidemiologi
Epidemiologi anemia hemolitik diperkirakan sebesar 5% dari total kejadian anemia. Data epidemiologi menunjukkan bahwa anemia hemolitik tidak memiliki kecenderungan jenis kelamin dan ras. Hanya saja, pada Autoimmune Hemolytic Anemia angka kejadianya dilaporkan sedikit lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria. Selain itu, defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) lebih banyak ditemukan pada laki-laki karena diturunkan secara X resesif. Pada defisiensi G6PD, perempuan menjadi karier.
D.      Patofisiologi
Pada proses hemolisis akan terjadi dua hal berikut:
1.      Turunnya kadar Hemoglobin. Jika hemolisisnya ringan atau sedang, sumsum tulang masih bisa mengkompensasinya sehingga tidak terjadi anemia. Keadaan ini disebut dengan hemolitik terkompensasi. Tapi jika derajat hemolisisnya berat, sumsum tulang tidak mampu mengompensasinya, sehingga terjadi anemia hemolitik.
2.      Meningkatnya pemecahan eritrosit. Untuk hal ini ada tiga mekanisme:
a.    Hemolitik ekstravaskuler. Terjadi di dalam sel makrofag dari sistem retikuloendotelial, terutama di lien, hepar dan sumsum tulang karena sel ini mengandung enzim heme oxygenase. Lisis terjadi jika eritrosit mengalamai kerusakan, baik di membrannya, hemoglobinnya maupun fleksibilitasnya. Jika sel eritrosit dilisis oleh makrofag, ia akan pecah menjadi globin dan heme. Globin ini akan kembali disimpan sebagai cadangan, sedangkan heme nanti akan pecah lagi menjadi besi dan protoporfirin. Besi diangkut lagi untuk disimpan sebagai cadangan, akan tetapi protoforfirin tidak, ia akan terurai menjadi gas CO dan Bilirubin. Bilirubin jika di dalam darah akan berikatan dengan albumin membentuk bilirubin indirect (Bilirubin I), mengalami konjugasi di hepar menjadi bilirubin direct (bilirubin II), dieksresikan ke empedu sehingga meningkatkan sterkobilinogen di feses dan urobilinogen di urin.
b.    Hemolitik intravaskuler. Terjadi di dalam sirkulasi. Jika eritrosit mengalami lisis, ia akan melepaskan hemoglobin bebas ke plasma, namun haptoglobin dan hemopektin akan mengikatnya dan menggiringnya ke sistem retikuloendotelial untuk dibersihkan. Namun jika hemolisisnya berat, jumlah haptoglobin maupun hemopektin tentunya akan menurun. Akibatnya, beredarlah hemoglobin bebas dalam darah (hemoglobinemia). Jika hal ini terjadi, Hb tsb akan teroksidasi menjadi methemoglobin, sehingga terjadi methemoglobinemia. Hemoglobin juga bisa lewat di glomerulus ginjal, hingga terjadi hemoglobinuria. Namun beberapa hemoglobin di tubulus ginjal nantinya juga akan diserap oleh sel-sel epitel, dan besinya akan disimpan dalam bentuk hemosiderin. Jika suatu saat epitel ini mengalami deskuamasi, maka hanyutlah hemosiderin tersebut ke urin sehingga terjadi hemosiderinuria, yg merupakan tanda hemolisis intravaskuler kronis.
c.    Peningkatan hematopoiesis. Berkurangnya jumlah eritrosit di perifer akan memicu ginjal mengeluarkan eritropoietin untuk merangsang eritropoiesis di sumsum tulang. Sel-sel muda yang ada akan ‘dipaksa’ untuk dimatangkan sehingga terjadi peningkatan retikulosit (sel eritrosit muda) dalam darah, mengakibatkan polikromasia.
E.     Gejala Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik yang ringan dapat tidak menimbulkan gejala. Pada fase selanjutnya, beratnya keluhan sejalan dengan jumlah kekurangan sel darah merah di dalam tubuh. Berikut adalah gejala yang cenderung umum dialami banyak orang dengan anemia hemolitik, seperti:
  1. Pucat.
  2. Lemas.
  3. Pusing.
  4. Mudah merasa lelah.
  5. Tekanan darah rendah.
  6. Demam.
  7. Detak jantung cepat.
  8. Sesak napas.
  9. Nyeri dada.
  10. Nyeri perut.
  11. Perubahan warna kulit.
  12. Warna urine yang menjadi lebih gelap.
  13. Pembesaran hati.
  14. Pembesaran limpa.
  15. Luka pada kaki.
F.         Penyebab Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik bisa terbagi berdasarkan penyebabnya, yaitu menurun (herediter) dan didapat. Hemolisis atau hancurnya sel darah merah pada anemia hemolitik herediter biasanya disebabkan karena gangguan atau kerusakan membran, kerusakan enzim, ataupun hemoglobin yang tidak normal. Berbagai penyebab anemia hemolitik herediter, antara lain:
  • Defisiensi glukosa 6 fosfat dehidrogenase.
  • Talasemia.
  • Sferositosis herediter.
  • Anemia sel sabit (sickle cell anemia).
Sedangkan penyebab hemolisis didapat, antara lain:
  • Gangguan sistem imun, misalnya pada penyakit Lupus Eritematosus.
  • Zat kimia dan obat-obatan (misalnya penisilin, metildoparibavirin).
  • Infeksi.
  • Transfusi darah yang tidak cocok.
  • Eritroblastosis fetalis.
G.      Faktor Risiko Anemia Hemolitik
Berbagai faktor risiko anemia hemolitik, antara lain:
  1. Bayi baru lahir.
  2. Memiliki riwayat penyakit autoimun.
  3. Memiliki riwayat keluarga dengan talasemia.
  4. Menerima transfusi darah.
  5. Mengonsumsi obat-obatan.
H.      Penatalaksanaan Medis
Menurut Engram, (1999). penatalaksanaan pada pasien dengan anemia yaitu:
1.        Memperbaiki penyebab dasar.
2.        Suplemen nutrisi (vitamin B12, asam folat, besi)
3.         Transfusi darah.
I.     Diagnosis                                 
Anemia hemolitik dapat dicurigai keberadaannya dari anamnesis atau wawancara medis lengkap dan pemeriksaan fisik, seperti keluhan gejala yang telah disebutkan di atas, kulit dan bibir terlihat pucat, atau detak jantung cepat (takikardia). Selain pemeriksaan fisik lengkap, dokter juga biasanya menganjurkan untuk dilakukannya tes diagnostik sebagai berikut:
1.      Tes darah. Tes ini mengukur hemoglobin dan hitung retikulosit dan akan menggambarkan berapa banyak sel darah merah baru yang sedang diproduksi. Pada anemia hemolitik retikulosit meningkat.
  1. Tes darah tambahan. Tes ini memeriksa fungsi hati serta adanya antibodi tertentu.
  2. Tes urine untuk melihat apakah ada hemoglobin dalam urine (hemoglobinuria), baca juga: Kencing Berdarah
  3. Aspirasi dan/atau biopsi sumsum tulang. Pengambilan sejumlah kecil cairan sumsum tulang (aspirasi) dan/atau bagian padat jaringan sumsum tulang (biopsi), biasanya dari tulang pinggul, untuk melihat ukuran, dan kematangan sel-sel darah dan/atau sel-sel abnormal.
5.      Jumlah darah lengkap (JDL) di bawah normal (hemoglobin, hematokrit dan SDM).
6.      Feritin dan kadar besi serum rendah pada anemia defisiensi besi.
7.       Kadar B12 serum rendah pada anemia pernisiosa.
8.      Tes Comb direk positif menandakan anemia hemolitik autoimun.
9.       Hemoglobin elektroforesis mengidentifikasi tipe hemoglobin abnormal pada penyakit sel sabit.

J.    Jenis Anemia Hemolitik

Ada banyak jenis anemia hemolitik dan kondisinya dapat diwarisi dari orangtua dan juga  didapat dari perkembangan selama hidup.
1.        Anemia hemolitik genetik (keturunan)
Apabila anemia Anda ada hubungannya dengan  masalah hemoglobin, membran sel, atau enzim yang menjaga sel darah merah sehat Anda, ini bisa disebabkan karena genetik. Anemia jenis ini sering dipicu oleh sel gen yang salah yang mengendalikan produksi darah merah. Saat bergerak melalui aliran darah, sel-sel darah merah bentuknya bisa menjadi abnormal, rapuh dan rusak.
Anemia hemolitik karena keturunan dibagi lagi menjadi lima jenis, yaitu
a.       Anemia sel sabit (sickle cell anemia)
Anemia sel sabit adalah penyakit bawaan yang terjadi saat tubuh menghasilkan bentuk keping darah yang abnormal. Sel-sel darah merah memiliki bentuk bulan sabit, normalnya bentuk darah bulat seperti donat tanpa lubang. Sel darah sabit biasanya mati setelah beredar di dalam tubuh Anda selama 10 hingga 20 hari. Sel darah merah yang normal dan sehat umumnya berusia 120 hari, dan akan digantikan oleh tubuh dengan yang baru nantinya. 
b.       Thalassemia
Thalassemia adalah penyakit kelainan darah yang sifatnya bawaan atau genetik. Kondisi ini terjadi saat tubuh tidak dapat membuat jenis hemoglobin tertentu dalam jumlah cukup. Akibatnya, tubuh jadi kekurangan sel darah merah yang sehat. 
c.       Spherocytosis herediter
Kondisi ini terjadi ketika permukaan keping sel darah merah (membran permukaan) mengalami kerusakan. Kerusakan ini disebabkan karena bentuk sel darah merah bulat seperti bola. Sel darah merah seperti ini juga memiliki usia pendek yang bisa membuat tubuh Anda kekurangan darah yang sehat. 
d.      Elliptocytosis herediter (Ovalocytosis)
Hampir sama dengan spherocystosis herediter, kondisi ovalocytosis juga terjadi ketika sel darah merah berbentuk tidak sempurna. Sel darah merah ovalocytosis bentuknya oval dan tidak fleksibel bergerak di pembuluh darah. Sel darah merah abnormal ini biasanya juga lebih cepat hancur dan menyebabkan tubuh jadi anemia. 
e.       Defisiensi Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase (G6PD)
Ini adalah jenis anemia hemolitik yang terjadi ketika sel-sel darah merah kehilangan enzim penting yang disebut G6PD.Ketika tubuh kekurangan enzim G6PD, sel darah merah Anda bisa pecah dan mati saat bersentuhan dengan zat lainnya di dalam aliran darah. Bagi orang yang menderita anemia karena kekurangan G6PD, kondisi infeksi, stres berat, makanan atau obat-obatan tertentu, dapat menyebabkan kerusakan sel darah merah.
f.       Defisiensi piruvat Kinase
Ini adalah anemia hemolitik yang terjadi akibat mutasi pada gen PKLR. Gen PKLR ini ada di organ hati dan dalam sel darah merah. Fungsi gen PKLR ini memberikan instruksi untuk tubuh membuat enzim yang disebut piruvat kinase. Enzim piruvat kinase ini akan dipecah menjadi glukosa lalu menjadi gula sederhana untuk menghasilkan adenosin trifosfat (ATP), sumber energi utama sel.Mutasi gen PKLR mengakibatkan berkurangnya fungsi enzim piruvat kinase. Alhasil jumlah adenosin trifosfat dalam darah berkurang dan sel yang dihasilkan juga tidak sempurna. Sel-sel darah merah yang abnormal akan dikumpulkan oleh limpa dan dihancurkan. Pada akhirnya tubuh akan kekurangan suplai darah sehat yang cukup dan limpa akan membesar karena harus menghancurkan banyak sel darah abnormal tersebut. 

2.        Anemia hemolitik yang didapat

Selain diwariskan atau didapat turun temurun dari orang tua, anemia hemolitik juga bisa didapat semasa hidup.Kemungkinan sel darah merah Anda pada awalnya normal dan sehat. Akan tetapi,beberapa penyakit atau faktor lain menyebabkan tubuh Anda menghancurkan sel darah merah sendirinya sampai menyebabkan anemia. 

a.         Autoimmune Hemolytic Anemia (AIHA)
Ini adalah kondisi anemia hemolitik yang paling umum. Sampai saat ini tidak diketahui, apa yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh membuat antibodi untuk menyerang sel-sel darah merah sehat Anda sendiri. AIHA adalah kondisi serius dan harus ditangani secepat mungkin oleh dokter ahli. 
b.         Alloimmune Hemolytic Anemia (AHA)
AHA adalah salah satu jenis anemia hemolitik yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel darah yang ditransfusikan ke Anda. AHA  terjadi ketika darah yang ditransfusikan adalah tipe darah yang berbeda dari darah Anda. AHA juga dapat terjadi selama hamil. Misalnya saat ibu hamil memiliki darah Rh-negatif dan bayinya memiliki darah Rh-positif. Faktor Rh adalah protein dalam sel darah merah dan “Rh-negatif” dan “Rh-positif” mengacu pada apakah darah Anda memiliki faktor Rh.

3.    Anemia Hemolitik akibat efek samping obat

Kondisi ini terjadi ketika suatu obat memicu sistem kekebalan tubuh Anda untuk menyerang sel darah merahnya sendiri. Bahan kimia dalam obat-obatan (seperti penisilin) ​​dapat menempel pada permukaan sel darah merah dan menyebabkan pengembangan  atau perubahan pada antibodi.

a.         Mechanical Hemolytic Anemias
Jenis anemia ini terjadi ketika ada kerusakan fisik pada membran sel darah merah. Di mana ini dapat membuat sel darah merah lebih cepat mati dari waktu biasanya. Kerusakan dapat disebabkan oleh perubahan pembuluh darah yang kecil, peralatan medis tertentu, preeklampsia, atau eklampsia. Kerusakan ini akan menyebabkan gumpalan darah terbentuk di pembuluh darah kecil di seluruh tubuh. Terkadang aktivitas fisik yang berat seperti lari maraton juga dapat menyebabkan kerusakan sel darah di tubuh Anda.
b.         Paroxysmal Nocturnal Hemoglobinuria (PNH)
Tubuh Anda akan menghancurkan sel-sel darah merah abnormal (yang disebabkan oleh kekurangan protein tertentu) lebih cepat dari biasanya dengan kondisi ini.Orang dengan penyakit anemia PNH berisiko mengalami pembekuan di pembuluh darah, serta tingkat sel darah putih dan trombosit yang rendah.

K.    Komplikasi Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik yang tidak ditangani dengan baik dapat memicu komplikasi berbahaya, antara lain:
1.         Gangguan irama jantung
2.         Kelainan otot jantung (kardiomiopati)
3.         Gagal jantung
L.     Pengobatan Anemia Hemolitik
Pengobatan anemia hemolitik tergantung pada penyebabnya, tingkat keparahan, usia dan kondisi kesehatan pasien, serta respons pasien terhadap obat. Beberapa metode pengobatan yang dapat dilakukan oleh dokter antara lain:
1.          Suplemen asam folat dan suplemen zat besi.
2.          Obat imunosupresan, untuk menekan sistem kekebalan tubuh agar sel darah merah tidak mudah hancur
3.          Suntik imunoglobulin (IVIG), untuk memperkuat kekebalan tubuh pasien.
4.          Transfusi darah, untuk menambah jumlah sel darah merah (Hb) yang rendah pada tubuh pasien.
Pada kasus anemia hemolitik yang parah, dokter akan melakukan splenektomi atau bedah pengangkatan limpa. Prosedur ini biasanya dilakukan ketika pasien tidak merespons metode pengobatan di atas.
M.     Pencegahan Anemia Hemolitik
Pencegahan anemia hemolitik tergantung pada penyebabnya. Pada pasien anemia hemolitik yang disebabkan oleh efek samping obat-obatan, pencegahannya dapat dilakukan dengan menghindari obat yang memicu penyakit ini.
Anemia hemolitik juga bisa dilakukan dengan mencegah infeksi, yaitu dengan:
1.      Menghindari kontak langsung dengan orang yang sedang terkena infeksi.
  1. Menjauhi kerumunan orang banyak jika memungkinkan.
  2. Mencuci tangan dan menggosok gigi secara rutin.
4.      Menghindari konsumsi makanan mentah atau setengah matang.
  1. Menjalani vaksinasi flu tiap tahun.

                                 



























BAB III
KESIMPULAN  DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Anemia Hemolitik adalah anemia yang disebabkan oleh kondisi ketika sel darah merah hancur sebelum waktunya.
B.     Saran
Pada makalah ini  terdapat banyak kesalahan, diharapkan kepada pembaca saran dan kritik yang membangun.























DAFTAR  PUSTAKA
Handayani Wiwik dkk, 2008, “Buku AjarAsuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan sistem Hematologi” Jakarta, Salemba Medika.
Reni dan Dwi, 2018, “Anemia Dalam Kehamilan” Jember, Pustaka Abadi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar