MAKALAH
HEMATOLOGI III
(ANEMIA
HEMOLITIK)

OLEH
:
NAMA : ADHA NIAR
NIM :
18 3145 353 121
KELAS : 2018 C
PROGRAM STUDI DIV
TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS
FAMASI,TEKNOLOGI RUMAH SAKIT DAN INFORMATIKA
UNIVERSITAS
MEGA REZKY
MAKASSAR
2020
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warohmatullahi
Wabarokatuh.
Puji
dan syukur kita panjatkan Kehadirat Allah yang telah member rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Hematologi III yang
berjudul “Anemia Hemolitik” dengan
baik dan tepat pada waktunya.
Adapun
tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dari dosen,
selain itu makalah ini juga untuk menambah wawasan bagi para pembaca maupun
bagi kami.
Dengan
selesainya makalah ini, tak lepas dari kerja sama dosen dan dari berbagai
sumber dalam membantu pembuatan makalah ini. Untuk itu kami berterima kasih
kepada dosen dan dari berbagai sumber yang telah membantu kami dalam
menyelesaikan makalah ini. Dalam laporan ini masih banyak kekurangan, jadi
mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan yang terdapat pada makalah ini.
Sekian dan Terima kasih.
Makassar,
25 Maret 2020
Penulis
DAFTAR
ISI
Judul
Kata
Pengantar
BAB
I Pendahuluan
A.
Latar Belakang
B.
Tujuan
BAB
II Pembahasan
A.
Definisi Anemia Hemolitik
B.
Etiologi
C.
Epidemologi
D.
Patofisiologi
E.
Gejala Anemia Hemolitik
F.
Penyebab Anemia Hemolitik
G.
Faktor Risiko Anemia Hemolitik
H.
Penatalaksanaan Medis
I.
Diagnosis
J.
Jenis Anemia Hemolitik
K.
Komplikasi Anemia Hemolitik
L.
Pengobatan Anemia Hemolitik
M.
Pencegahan Anemia Hemolitik
BAB
III Kesimpulan dan Saran
A.
Kesimpulan
B.
Saran
Daftar
Pustaka
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Anemia
atau sering disebut dengan istilah kurang darah merupakan suatu kondisi dengan
jumlah sel darah merah berkurang dan mengakibatkan oxygen-carrying capacity tidak
mencukupi untuk memenuhi kebutuhan fisiologis tubuh. Kebutuhan fisiologis tubuh
bervariasi dan setiap orang berbeda tergantung usia, jenis kelamin, ketinggian
tempat tinggal diatas laut, merokok, dan tahap kehamilan. Diperkirakan 18%
wanita yang tinggal di Negara industry mengalami mengalami anemia, sedangkan di
Negara berkembang jumlahnya meningkat hingga 56% dan merupakan factor yang
menyebabkan timbulnya masalah kesehatan pada wanita serta kematian selama
kehamilan dan persalinan. (Reni dan Dwi, 2018)
Anemia
merupakan kondisi berkurangnya sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi
darah atau massa hemoglobin (Hb) sehingga tidak mampu memenuhi fungsinya
sebagai pembawa oksigen ke seluruh jaringan.
Pengertian anemia menurut Bakta (2009) anemia secara labolatorik adalahh suatu
keadaan apabila terjadinya penurunan kadar Hb di bawah normal,kadar eritrosit
dan hematrokrit (packedredcell). Sedangkan menurut World Health Organization
(WHO, 1992) anemia adalah suaru keadaan yang ditunjukan dengan kadar Hb lebih
rendah dari batas normal untuk kelompok orang yang bersangkutan. Anemia jugaa
didefinisikan sebagai suatu penurunan massa sel darah merah atau total Hb,
secara lebiih tepat dikatakan kadar Hb normal pada wanita yang sudah menstruasi adalah 12,0 dan untuk ibu hamil 11,0 g/dL.
Namun tidak ada efek merugikan bila kadarnya <10,0 g/gL. (Reni dan Dwi,
2018)
Anemia adalah suatu konsentrasi apabila hemoglobin<105
g/L atau penurunan kapasitas darah dalam membawa oksigen, hal tersebut terjadi
akibat penurunan produksi sel daraah merah, dan/atau penurunan Hb dalam
darah. Anemia sering didefinisikan
sebagai penurunan kadar Hb darah sampai dibawah rentan normal 13,5 g/dL (pria)
;11,5g/dL (wanita) ;11.0 g/dL (anak-anak). (Reni dan Dwi, 2018)
Anemia hemolitik adalah anemia yang disebabkan oleh
proses hemolisis, yaitu pemecahan erirosit dalam pembuluh darah sebelum
waktunya.
Anemia hemolitik merupakan anemia yang tidak terlalu
sering dijumpai tetapi bila dijumpai memerlukan pendekatan diagnostik yang
tepat. Pada kasus-kasus penyakit dalam yang dirawat di RSUP Sanglah tahun 1997,
anemia hemolitik merupakan 6% dari kasus anemia, menempati urutan ketiga
setelah anemia aplastik dan anemia sekunder karena keganasan hematologis. (Wiwik dkk, 2008)
Anemia hemolitik merupakan salah satu
jenis anemia yang jarang terjadi. Saat menderita anemia, sumsum tulang tidak
menghasilkan sel darah merah yang cukup atau tidak berfungsi secara normal. Sel
darah membawa oksigen ke seluruh tubuh sehingga anemia dapat menyebabkan lelah
dan sesak napas. Apabila memiliki anemia hemolitik, tubuh Anda akan
menghancurkan sel darah merah terlebih dahulu sebelum sumsum tulang dapat
membuat yang baru.
B. Tujuan
1.
Mampu memahami apa
yang dimaksud dengan Anemia Hemolitik
2.
Mampu memahami
patofisiologi, etiologi, gejala, penyebab dan lain-lain dari anemia hemolitik.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Anemia
Hemolitik
Anemia hemolitik mewakili sekitar 5% dari semua anemia. Anemia hemolitik Autoimun/Autoimune Hemolytic Anemia (AIHA) akut
relatif jarang terjadi, dengan insiden 1-3 kasus per 100.000 penduduk
per tahun. Anemia hemolitik tidak spesifik pada semua ras manusia. Namun,
gangguan sel sabit terutama ditemukan di Afrika, Amerika, sebagian Arab, dan Aborigin
di India Selatan. Pada sebagian kasus, anemia hemolitik tidak spesifik dengan
jenis kelamin. Namun, AIHA akut lebih sering menyerang pada wanita dibanding pria. Walaupun anemia
hemolitik dapat menyerang semua umur, kelainan
herediter bisanya timbul pada awal kehidupan. (Reni dan Dwi, 2018)
Anemia hemolitik adalah kondisi dimana hancurnya
eritrosit lebih cepat dibandingkan pembentukannya atau dengan kata lain
penghancuran/pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya.
Anemia hemolitik didefinisikan sebagai anemia yang disebabkan oleh peningkatan
kecepatan destruksi eritrosit, yang diikuti dengan ketidakmampuan sum-sum
tulang dalam memproduksi sel eritrosit untuk memenuhi kebutuhan tubuh terhadap
berkurangnya sel eritrosit, penghancuran sel eritrosit yang berlebihan akan
menyebabkan terjadinya hiperplasi sum-sum tulang sehingga produksi sel
eritrosit akan meningkat dari normal, hal ini terjadi bila umur eritrosit
kurang dari 120 hari menjai 15-20 hari tanpa diikuti dengan anemia. Namun bila
sum-sum tulang tidak mampu mengatasi keadaan tersebut, maka akan terjadi
anemia. (Reni dan Dwi, 2018)
B.
Etiologi
Menurut Price S. Wilson L. (2007) anemia hemolitik
diakibatkan oleh penghancuran (hemolisis) eritrosit yang berlebihan. Pada
prinsipnya anemia hemolitik dapat terjadi karena:
1.
Defek molecular
hemoglobinopati atau enzimopati
2.
Abnormalitas
struktur dan fungsi membran-membran
3.
Faktor lingkungan
seperti trauma mekanik atau antibodi
Anemia hemolitik ada dua macam,
yaitu anemia hemolitik intrinsik yang disebabkan oleh faktor intra kopuskuler
dan anemia hemolitik ekstrinsik yang disebabkan oleh faktor ekstrakorpuskuler.
1.
Anemia Hemolitik
Intrinsik
Pada anemia hemolitik intrinsik penghancuran sel darah
merah terjadi karena adanya kecatatan pada sel darah merah itu sendiri. Anemia
hemolitik intrinsik sering diwariskan, seperti anemia sel sabit dan thalasemia.
Kondisi ini menghasilkan sel darah merah yang memiliki umur tidak selama sel
darah merah normal. Anemia hemolitik yang disebabkan faktor intrinsik dijumpai
pada:
a.
Anemia hemolitik
herediter
b.
Talasemia, anemia
sel sickle (sabit)
c.
Hemoglobin, C, D,
G, H, I dan paraksismal noktural hemoglobinuria
d.
Defisiensi enzim
glukosa-6-fosfat dehidrogenase (g6pd)
e.
Defisiensi enzim piruvat kinase.
2.
Anemia Hemolitik
Ekstrinsik
Pada anemia hemolitik
ekstrinsik terjadi karena adanya penghancuran sel darah merah diluar masalah
pada sel darah merah, artinya terjadi
ketika organ limpa menghancurkan sel-sel
darah merah yang sehat.
Hal ini juga dapat berasal dari pengancuran seldarah merah yang dikarenakan:
a.
Infeksi virus
Epater-Barr (EBV) dan hepatitis
b.
Infeksi
bakteri coli, salmonella thypi dan streptococcus sp
c.
Tumor
d.
Gangguan auto imun
C.
Epidemiologi
Epidemiologi
anemia hemolitik diperkirakan sebesar 5% dari total kejadian anemia. Data epidemiologi menunjukkan
bahwa anemia hemolitik tidak memiliki kecenderungan jenis kelamin dan ras.
Hanya saja, pada Autoimmune Hemolytic Anemia angka
kejadianya dilaporkan sedikit lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria.
Selain itu, defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD) lebih banyak
ditemukan pada laki-laki karena diturunkan secara X resesif. Pada defisiensi
G6PD, perempuan menjadi karier.
D.
Patofisiologi
Pada proses
hemolisis akan terjadi dua hal berikut:
1. Turunnya kadar Hemoglobin. Jika hemolisisnya ringan
atau sedang, sumsum tulang masih bisa mengkompensasinya sehingga tidak terjadi
anemia. Keadaan ini disebut dengan hemolitik terkompensasi. Tapi jika derajat
hemolisisnya berat, sumsum tulang tidak mampu mengompensasinya, sehingga
terjadi anemia hemolitik.
2. Meningkatnya pemecahan eritrosit. Untuk hal ini ada
tiga mekanisme:
a. Hemolitik ekstravaskuler. Terjadi di dalam sel makrofag dari sistem
retikuloendotelial, terutama di lien, hepar dan sumsum tulang karena sel ini
mengandung enzim heme oxygenase. Lisis terjadi jika eritrosit mengalamai
kerusakan, baik di membrannya, hemoglobinnya maupun fleksibilitasnya. Jika sel
eritrosit dilisis oleh makrofag, ia akan pecah menjadi globin dan heme. Globin
ini akan kembali disimpan sebagai cadangan, sedangkan heme nanti akan pecah
lagi menjadi besi dan protoporfirin. Besi diangkut lagi untuk disimpan sebagai
cadangan, akan tetapi protoforfirin tidak, ia akan terurai menjadi gas CO dan
Bilirubin. Bilirubin jika di dalam darah akan berikatan dengan albumin
membentuk bilirubin indirect (Bilirubin I), mengalami konjugasi di hepar
menjadi bilirubin direct (bilirubin II), dieksresikan ke empedu sehingga
meningkatkan sterkobilinogen di feses dan urobilinogen di urin.
b. Hemolitik intravaskuler. Terjadi di dalam sirkulasi. Jika eritrosit mengalami
lisis, ia akan melepaskan hemoglobin bebas ke plasma, namun haptoglobin dan
hemopektin akan mengikatnya dan menggiringnya ke sistem retikuloendotelial
untuk dibersihkan. Namun jika hemolisisnya berat, jumlah haptoglobin maupun
hemopektin tentunya akan menurun. Akibatnya, beredarlah hemoglobin bebas dalam
darah (hemoglobinemia). Jika hal ini terjadi, Hb tsb akan teroksidasi menjadi
methemoglobin, sehingga terjadi methemoglobinemia. Hemoglobin juga bisa lewat
di glomerulus ginjal, hingga terjadi hemoglobinuria. Namun beberapa hemoglobin
di tubulus ginjal nantinya juga akan diserap oleh sel-sel epitel, dan besinya
akan disimpan dalam bentuk hemosiderin. Jika suatu saat epitel ini mengalami
deskuamasi, maka hanyutlah hemosiderin tersebut ke urin sehingga terjadi
hemosiderinuria, yg merupakan tanda hemolisis intravaskuler kronis.
c. Peningkatan hematopoiesis. Berkurangnya jumlah eritrosit di perifer akan memicu
ginjal mengeluarkan eritropoietin untuk merangsang eritropoiesis di sumsum
tulang. Sel-sel muda yang ada akan ‘dipaksa’ untuk dimatangkan sehingga terjadi
peningkatan retikulosit (sel eritrosit muda) dalam darah, mengakibatkan
polikromasia.
E. Gejala Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik yang ringan dapat tidak menimbulkan gejala. Pada fase
selanjutnya, beratnya keluhan sejalan dengan jumlah kekurangan sel darah merah
di dalam tubuh. Berikut adalah gejala yang cenderung umum dialami banyak orang
dengan anemia hemolitik, seperti:
- Pucat.
- Lemas.
- Pusing.
- Mudah merasa lelah.
- Tekanan darah rendah.
- Demam.
- Detak jantung cepat.
- Sesak napas.
- Nyeri dada.
- Nyeri perut.
- Perubahan warna kulit.
- Warna urine yang menjadi
lebih gelap.
- Pembesaran hati.
- Pembesaran limpa.
- Luka pada kaki.
F.
Penyebab Anemia Hemolitik
Anemia
hemolitik bisa terbagi berdasarkan penyebabnya, yaitu menurun (herediter) dan
didapat. Hemolisis atau hancurnya sel darah merah pada anemia
hemolitik herediter biasanya disebabkan karena gangguan atau
kerusakan membran, kerusakan enzim, ataupun hemoglobin yang tidak normal.
Berbagai penyebab anemia hemolitik herediter, antara lain:
- Defisiensi glukosa 6 fosfat dehidrogenase.
- Talasemia.
- Sferositosis herediter.
- Anemia sel sabit (sickle cell anemia).
Sedangkan
penyebab hemolisis didapat, antara lain:
- Gangguan sistem imun, misalnya pada penyakit Lupus
Eritematosus.
- Zat kimia dan obat-obatan (misalnya penisilin, metildopa, ribavirin).
- Infeksi.
- Transfusi darah yang tidak
cocok.
- Eritroblastosis fetalis.
G.
Faktor Risiko Anemia Hemolitik
Berbagai faktor risiko anemia hemolitik, antara lain:
- Bayi baru lahir.
- Memiliki riwayat penyakit
autoimun.
- Memiliki riwayat keluarga
dengan talasemia.
- Menerima transfusi darah.
- Mengonsumsi obat-obatan.
H.
Penatalaksanaan
Medis
Menurut Engram, (1999).
penatalaksanaan pada pasien dengan anemia yaitu:
1.
Memperbaiki penyebab
dasar.
2.
Suplemen nutrisi
(vitamin B12, asam folat, besi)
3.
Transfusi darah.
I. Diagnosis
Anemia hemolitik dapat dicurigai
keberadaannya dari anamnesis atau wawancara medis lengkap dan pemeriksaan
fisik, seperti keluhan gejala yang telah disebutkan di atas, kulit dan bibir
terlihat pucat, atau detak jantung cepat (takikardia). Selain pemeriksaan
fisik lengkap, dokter juga biasanya menganjurkan untuk dilakukannya tes
diagnostik sebagai berikut:
1.
Tes darah. Tes ini mengukur hemoglobin dan
hitung retikulosit dan akan menggambarkan berapa banyak sel darah merah baru yang sedang diproduksi. Pada anemia
hemolitik retikulosit meningkat.
- Tes darah tambahan. Tes ini
memeriksa fungsi hati serta adanya antibodi
tertentu.
- Tes urine untuk melihat
apakah ada hemoglobin dalam urine (hemoglobinuria), baca juga: Kencing
Berdarah
- Aspirasi dan/atau biopsi
sumsum tulang. Pengambilan sejumlah kecil cairan sumsum tulang (aspirasi)
dan/atau bagian padat jaringan sumsum tulang (biopsi), biasanya dari
tulang pinggul, untuk melihat ukuran, dan kematangan sel-sel darah
dan/atau sel-sel abnormal.
5.
Jumlah darah lengkap
(JDL) di bawah normal (hemoglobin, hematokrit dan SDM).
6.
Feritin dan kadar besi
serum rendah pada anemia defisiensi besi.
7.
Kadar B12 serum rendah pada anemia pernisiosa.
8.
Tes Comb direk positif
menandakan anemia hemolitik autoimun.
9.
Hemoglobin elektroforesis mengidentifikasi
tipe hemoglobin abnormal pada penyakit sel sabit.
J.
Jenis Anemia Hemolitik
Ada
banyak jenis anemia hemolitik dan kondisinya dapat diwarisi dari orangtua dan
juga didapat dari perkembangan selama hidup.
1.
Anemia hemolitik
genetik (keturunan)
Apabila anemia Anda ada hubungannya dengan masalah
hemoglobin, membran sel, atau enzim yang menjaga sel darah merah sehat Anda,
ini bisa disebabkan karena genetik. Anemia jenis ini sering dipicu oleh sel gen
yang salah yang mengendalikan produksi darah merah. Saat bergerak melalui
aliran darah, sel-sel darah merah bentuknya bisa menjadi abnormal, rapuh dan
rusak.
Anemia hemolitik karena keturunan dibagi
lagi menjadi lima jenis, yaitu
a.
Anemia
sel sabit (sickle cell anemia)
Anemia sel sabit adalah penyakit bawaan yang terjadi saat
tubuh menghasilkan bentuk keping darah yang abnormal. Sel-sel darah merah
memiliki bentuk bulan sabit, normalnya bentuk darah bulat seperti donat tanpa
lubang. Sel darah sabit biasanya mati setelah beredar di dalam tubuh Anda
selama 10 hingga 20 hari. Sel darah merah yang normal dan sehat umumnya berusia
120 hari, dan akan digantikan oleh tubuh dengan yang baru nantinya.
b.
Thalassemia
Thalassemia adalah penyakit kelainan darah yang sifatnya
bawaan atau genetik. Kondisi ini terjadi saat tubuh tidak dapat membuat jenis
hemoglobin tertentu dalam jumlah cukup. Akibatnya, tubuh jadi kekurangan sel
darah merah yang sehat.
c.
Spherocytosis
herediter
Kondisi ini terjadi ketika permukaan keping sel darah merah
(membran permukaan) mengalami kerusakan. Kerusakan ini disebabkan karena bentuk
sel darah merah bulat seperti bola. Sel darah merah seperti ini juga memiliki
usia pendek yang bisa membuat tubuh Anda kekurangan darah yang sehat.
d.
Elliptocytosis
herediter (Ovalocytosis)
Hampir sama dengan spherocystosis herediter, kondisi
ovalocytosis juga terjadi ketika sel darah merah berbentuk tidak sempurna. Sel
darah merah ovalocytosis bentuknya oval dan tidak fleksibel bergerak di
pembuluh darah. Sel darah merah abnormal ini biasanya juga lebih cepat hancur
dan menyebabkan tubuh jadi anemia.
e.
Defisiensi
Glukosa-6-Fosfat Dehidrogenase (G6PD)
Ini adalah jenis anemia hemolitik yang terjadi ketika sel-sel
darah merah kehilangan enzim penting yang disebut G6PD.Ketika tubuh kekurangan
enzim G6PD, sel darah merah Anda bisa pecah dan mati saat bersentuhan dengan
zat lainnya di dalam aliran darah. Bagi orang yang menderita anemia karena
kekurangan G6PD, kondisi infeksi, stres berat, makanan atau obat-obatan
tertentu, dapat menyebabkan kerusakan sel darah merah.
f.
Defisiensi
piruvat Kinase
Ini adalah anemia hemolitik yang terjadi akibat mutasi pada
gen PKLR. Gen PKLR ini ada di organ hati dan dalam sel darah merah. Fungsi gen
PKLR ini memberikan instruksi untuk tubuh membuat enzim yang disebut piruvat
kinase. Enzim piruvat kinase ini akan dipecah menjadi glukosa lalu menjadi
gula sederhana untuk menghasilkan adenosin trifosfat (ATP), sumber energi utama
sel.Mutasi gen PKLR mengakibatkan berkurangnya fungsi enzim piruvat kinase.
Alhasil jumlah adenosin trifosfat dalam darah berkurang dan sel yang dihasilkan
juga tidak sempurna. Sel-sel darah merah yang abnormal akan dikumpulkan
oleh limpa dan dihancurkan. Pada akhirnya tubuh akan kekurangan suplai darah
sehat yang cukup dan limpa akan membesar karena harus menghancurkan banyak sel
darah abnormal tersebut.
2.
Anemia hemolitik yang didapat
Selain diwariskan atau didapat turun temurun dari
orang tua, anemia hemolitik juga bisa didapat semasa hidup.Kemungkinan sel
darah merah Anda pada awalnya normal dan sehat. Akan tetapi,beberapa penyakit
atau faktor lain menyebabkan tubuh Anda menghancurkan sel darah merah
sendirinya sampai menyebabkan anemia.
a.
Autoimmune
Hemolytic Anemia (AIHA)
Ini adalah kondisi anemia hemolitik yang paling umum. Sampai
saat ini tidak diketahui, apa yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh membuat
antibodi untuk menyerang sel-sel darah merah sehat Anda sendiri. AIHA adalah
kondisi serius dan harus ditangani secepat mungkin oleh dokter ahli.
b.
Alloimmune
Hemolytic Anemia (AHA)
AHA adalah salah satu jenis anemia hemolitik yang terjadi
ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel darah yang ditransfusikan ke
Anda. AHA terjadi ketika darah yang ditransfusikan adalah tipe darah
yang berbeda dari darah Anda. AHA
juga dapat terjadi selama hamil. Misalnya saat ibu hamil memiliki darah
Rh-negatif dan bayinya memiliki darah Rh-positif. Faktor Rh adalah protein
dalam sel darah merah dan “Rh-negatif” dan “Rh-positif” mengacu pada apakah
darah Anda memiliki faktor Rh.
3. Anemia Hemolitik
akibat efek samping obat
Kondisi
ini terjadi ketika suatu obat memicu sistem kekebalan tubuh Anda untuk
menyerang sel darah merahnya sendiri. Bahan kimia dalam obat-obatan (seperti
penisilin) dapat menempel pada permukaan sel darah merah dan menyebabkan
pengembangan atau perubahan pada antibodi.
a.
Mechanical
Hemolytic Anemias
Jenis anemia ini terjadi ketika ada kerusakan fisik pada
membran sel darah merah. Di mana ini dapat membuat sel darah merah lebih cepat
mati dari waktu biasanya. Kerusakan dapat disebabkan oleh perubahan pembuluh
darah yang kecil, peralatan medis tertentu, preeklampsia, atau
eklampsia. Kerusakan ini akan menyebabkan gumpalan darah terbentuk di
pembuluh darah kecil di seluruh tubuh. Terkadang aktivitas fisik yang berat
seperti lari maraton juga dapat menyebabkan kerusakan sel darah di tubuh Anda.
b.
Paroxysmal
Nocturnal Hemoglobinuria (PNH)
Tubuh Anda akan menghancurkan sel-sel darah merah abnormal
(yang disebabkan oleh kekurangan protein tertentu) lebih cepat dari biasanya
dengan kondisi ini.Orang dengan penyakit anemia PNH berisiko mengalami
pembekuan di pembuluh darah, serta tingkat sel darah putih dan trombosit yang rendah.
K.
Komplikasi Anemia
Hemolitik
Anemia
hemolitik yang tidak ditangani dengan baik dapat memicu komplikasi berbahaya,
antara lain:
1.
Gangguan irama jantung
2.
Kelainan otot jantung
(kardiomiopati)
L. Pengobatan
Anemia Hemolitik
Pengobatan anemia hemolitik tergantung pada
penyebabnya, tingkat keparahan, usia dan kondisi kesehatan pasien, serta
respons pasien terhadap obat. Beberapa metode pengobatan yang dapat dilakukan
oleh dokter antara lain:
3.
Suntik imunoglobulin
(IVIG), untuk memperkuat kekebalan tubuh pasien.
4.
Transfusi darah, untuk
menambah jumlah sel darah merah (Hb) yang rendah pada tubuh pasien.
Pada kasus
anemia hemolitik yang parah, dokter akan melakukan splenektomi atau bedah
pengangkatan limpa. Prosedur ini biasanya dilakukan ketika pasien tidak
merespons metode pengobatan di atas.
M. Pencegahan Anemia
Hemolitik
Pencegahan anemia
hemolitik tergantung pada penyebabnya. Pada pasien anemia hemolitik yang
disebabkan oleh efek samping obat-obatan, pencegahannya dapat dilakukan dengan
menghindari obat yang memicu penyakit ini.
Anemia hemolitik
juga bisa dilakukan dengan mencegah infeksi,
yaitu dengan:
1.
Menghindari kontak langsung dengan orang yang sedang
terkena infeksi.
- Menjauhi
kerumunan orang banyak jika memungkinkan.
- Mencuci tangan dan
menggosok gigi secara rutin.
4.
Menghindari konsumsi
makanan mentah atau
setengah matang.
- Menjalani vaksinasi flu tiap tahun.
BAB III
KESIMPULAN DAN
SARAN
A.
Kesimpulan
Anemia Hemolitik adalah anemia
yang disebabkan oleh kondisi ketika sel darah merah hancur sebelum waktunya.
B.
Saran
Pada makalah ini terdapat banyak kesalahan, diharapkan kepada
pembaca saran dan kritik yang membangun.
DAFTAR PUSTAKA
Handayani Wiwik dkk, 2008, “Buku AjarAsuhan Keperawatan pada klien dengan gangguan sistem
Hematologi” Jakarta, Salemba Medika.
Reni dan Dwi, 2018, “Anemia
Dalam Kehamilan” Jember, Pustaka Abadi.